Skip to content

Takut Berbuat Dosa

 

Karena kita belum pernah masuk neraka, maka sering kita hidup sembarangan. Dan sebaliknya, pernahkah kita mendekat dengan Tuhan, merasakan indahnya persekutuan dengan Tuhan? Salah satu hikmah yang dimiliki dan dialami adalah betapa indahnya persekutuan dengan Tuhan. Tetapi di lain pihak, betapa mengerikan kalau suatu hari kita terpisah dengan Allah. Jadi bisa dimengerti kalau seseorang yang banyak berdoa, pasti takut berbuat dosa. Namun, ironis, banyak orang tidak takut Tuhan. Lalu pasif, dan dia tidak merasa perlu aktif untuk memilih. Kalau orang tua yang sudah mempunyai pengalaman, lebih berhati-hati. Oleh karena itu mereka memilih yang aman-aman saja. Kalau untuk memilih sesuatu, biasanya anak muda berani spekulasi, orang tua sering tidak berani karena sudah merasakan sakitnya salah memilih. 

Pernah masuk neraka? Belum, dan jangan. Pernah terpisah dari Tuhan? Pastinya pernah, artinya tidak merasakan kehadiran Allah, tidak memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan. Walaupun Tuhan hadir di dalam hidup kita, tapi kita tidak merasakan persekutuan dengan-Nya. Karena hidup kita kotor, kita lebih tertarik dengan banyak hal. Seharusnya kita memilih Tuhan; “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” 100% Tuhan, atau tidak usah sama sekali. Bersyukur dengan anugerah ini, kita memilih Tuhan. Dan pada akhirnya, setiap kita harus mengenal dan bertemu dengan Tuhan sampai “krek.” 

Gereja dan para pendeta hanya alat, media, kendaraan sementara yang melatih jemaat untuk bertemu Tuhan secara pribadi. Kalau pendeta dan gereja menjadi terminal, maka jemaat tidak akan bertemu Tuhan. Sibuk urusan gerejani, sibuk urusan aktivitas gereja, namun tidak sampai bertemu Tuhan. Dan itu terjadi di mana-mana. Gereja menjadi kerajaan atau kingdom mereka. Seharusnya gereja bukanlah tujuan. Tujuan kita adalah Tuhan. Karena itu menjadi heran kalau orang ribut di dalam gereja, kenapa harus ribut? Yang penting bawa jemaat ke Tuhan. Oleh sebab itu, setiap pelayan Tuhan harus mengalami Tuhan, bukan hanya mempunyai ilmu tentang Tuhan dari Sekolah Tinggi Teologi. 

Sekolah itu penting, tapi tidak segalanya. Yang penting adalah adanya perjumpaan dengan Tuhan, memiliki perasaan Tuhan dan melayani dengan tulus. Setiap kali hadir di tengah-tengah jemaat, kita harus mewakili Tuhan seakan-akan Tuhan yang hadir. Dengan belas kasihan, dengan empati rohani, dan khotbah yang disampaikan juga harus dari hati Tuhan. Jadi, beratnya bukan 1-2 jam mempersiapkan khotbah, melainkan 24 jam setiap hari hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Tidak bisa Senin sampai Jumat hidup sembarangan, Sabtu doa puasa untuk khotbah hari Minggu. Tidak bisa. Kita harus benar-benar menemukan pesan Tuhan untuk jemaat.

Pilihan kita harus Tuhan, titik. Pilihan kita harus Kerajaan Surga, titik. Dan itu harus di- dibaharui setiap waktu, karena jangan-jangan kita sudah menyimpang atau sedang berhenti mampir, padahal semestinya kita harus jalan terus. Keadaan dunia yang sudah rusak, krisis ekonomi, perang dan bencana alam yang menyebabkan banyak keluarga tercerai berai, kiranya itu membuat kita memimpikan dunia yang aman, dunia yang damai, yang hanya ada di Langit Baru Bumi Baru. Kita bisa menghayati tragisnya hidup dari hidup kita masing-masing. Tapi kalau keadaan aman dan nyaman, mungkin kita tidak pernah berpikir adanya dunia lain (LB3) tersebut. 

Jadi, bersyukurlah kalau Tuhan mengizinkan kita mengalami beberapa ketragisan hidup atau kita dipertemukan dengan orang-orang yang hidupnya tragis. Ini yang memotivasi kita untuk “berkemas-kemas.” Maka, mari, hari ini kita memilih. Jangan kita mengeraskan hati. Jangan sombong dan tidak peduli kalau tidak mau dipermalukan suatu hari nanti. Jadi, kita harus memilih Tuhan, memilih Kerajaan Surga, memilih hidup dalam kekudusan dan kesucian. Jangan pasif!