Kata dosa yang paling banyak digunakan dalam kitab Perjanjian Baru adalah hamartia; artinya meleset. Secara etimologi, kata hamartia itu sendiri tidak memiliki unsur kejahatan, hanya meleset. Jadi kalau kita berbuat sesuatu yang tidak tepat seperti yang Allah kehendaki, meleset. Sedangkan kalau agama pada umumnya, mereka mempunyai ukuran hukum yang tertulis bahkan ada sanksi-sanksinya. Kalau mencuri, hukumannya adalah potong tangan, misalnya. Dalam kekristenan, tidak. Sebab hukumnya adalah Tuhan sendiri, perasaan dan pikiran-Nya. Paulus mengatakan dalam 2 Korintus 5:9-10, “Aku berusaha baik aku diam dalam tubuh ini maupun di luarnya, supaya aku berkenan.” Jadi, hukum kehidupan orang percaya adalah berkenan di hadapan Tuhan.
Oleh sebab itu, kalau kita membaca Perjanjian Baru, hampir tidak ada hukum seperti yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Kita adalah pangeran dan putri-putri Kerajaan Allah, luar biasa! Ciri agama lainnya adalah adanya seremonial, ritual, liturgi. Agama Yahudi yang telah ada ratusan tahun sebelum ada agama Kristen, sudah memiliki seremonial sembahyang yang dilakukan pada waktu tertentu dan berkiblat ke Yerusalem. Dalam agama Kristen, tidak ada. Kita bisa sembahyang dengan sikap berlutut, berdiri, angkat tangan, lipat tangan, waktu dan kiblatnya pun tidak diatur.
Umat Perjanjian Baru diajar untuk menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, artinya ibadah dalam bentuk perbuatan di mana pun dan kapan pun. Jadi, bekerja itu ibadah. Sebenarnya, rumah ibadah kita itu bukan gereja. Gereja adalah ruang pertemuan, dalam bahasa Yunani, Episunaigōgēn (episunagwgh). Ibadah yang benar adalah mempersembahkan tubuh sebagai kurban yang hidup, kudus, dan yang berkenan (Rm. 12:1). Jadi, bagi ibu rumah tangga, pekerjaan rumah tanggamu itulah ibadah. Bagi pedagang, maka toko tempat ia melakukan aktivitas bisnis itulah rumah ibadahnya. Kata ibadah berasal dari kata Ibrani yakni avodah (עֲבוֹדָה) artinya melayani. Jadi bukan nyanyi, liturgi.
Ibadah itu ketika kita melakukan pekerjaan. Bahkan, setiap kata yang kita ucapkan adalah ibadah. Jadi, latihan ibadah kita bukan ke gereja, nyanyi atau belajar lagu. Bukan itu, melainkan latihan ibadah kita dimulai dari bangun tidur sampai malam nanti. Kalau kita hanya ke gereja, lalu pulang dan tidak berlatih dalam segala hal yang kita lakukan, kita akan tetap duniawi. Kita akan serupa dengan dunia, bukan serupa dengan Yesus. Dan rata-rata, kita begitu. Wajah hidup kita masih wajah hidup dunia, belum wajah anak-anak Allah. Dan kalau kita terus-menerus begini, bahaya, sebab suatu hari akan tidak ada lagi kesempatan. Maka kita harus berpikir: sekarang atau tidak usah sama sekali.
Kasihan, banyak orang Kristen dibawa ke gereja untuk mengikuti seremonial saja; pujian yang baik, musiknya juga bagus, diminta untuk memberikan persembahan untuk gereja. Tidak salah dengan memuji, musik, persembahan, akan tetapi jadi salah jika hanya sampai di situ saja. Jemaat harus mengerti tentang kesucian hidup, arah hidup ke Langit Baru Bumi Baru, dan hidup bertanggung jawab. Jadi seremonial kita ini tidak menyelamatkan. Lebih bahaya lagi, kalau gereja menjadi tempat praktik “perdukunan.” Maksudnya tidak menyembah setan, namun Tuhan dianggap seperti kuasa gelap. Jemaat datang, mengikuti liturgi, lalu memberikan persembahan (baca: sesajen), lalu meminta Tuhan memberkati dan menolong menyelesaikan masalah hidupnya.
Padahal sejatinya, kalau kita ke gereja adalah untuk diperkenalkan dengan Sang Khalik dan diajar apa alasan kita hidup. Bukan supaya diberkati dengan berkat jasmani. Apalagi yang transaksional, Tuhan diajak bisnis: “Aku kasih perpuluhan, maka Tuhan harus lipatgandakan menjadi 30, 60, 100 kali lipat.” Kita berutang kehidupan kepada-Nya, dan itu tidak bisa kita bayar dengan apa pun kecuali hidup berkenan di hadapan-Nya.