Kalau kita sudah kurang atau bahkan tidak merindukan Tuhan dan tidak ingin bertemu Tuhan, berarti hidup kita pasti mulai tidak bersih, pasti ada yang salah. Kita akan merasa kalau kita sedang atau mau menyelingkuhi Tuhan. Ini tidak berlebihan, sebab kalau nanti kita ketemu Tuhan Yesus, kita baru tahu bahwa Dia adalah Pribadi yang pantas kita cintai lebih daripada apa pun dan siapa pun. Maka secara ekstrem, Tuhan berkata, “Kalau kamu tidak membenci ayahmu dan ibumu, kamu tidak dapat menjadi murid-Ku.” Maksudnya adalah kita harus menjadikan Dia segalanya. Jangan membuat kotak-kotak, ini kotak pendeta, ini kotak jemaat. Kita punya standar yang sama, bangsawan surgawi, dan kita harus serius untuk itu.
Yohanes 6:26-28, Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”
Pekerjaan apa? Percaya, ergon (ἔργον). Percaya, kok pekerjaan? Ya, sebab percaya itu dimulai dari aktivitas pikiran, tapi bukan sesuatu yang dangkal, yang sederhana dan tidak memiliki bangunan yang berfondasi. Maka, percaya yang benar adalah pemikiran yang mendalam, yang kompleks dan memiliki bangunan yang berfondasi. Misalnya, kalau kita bertemu seseorang yang tidak kita kenal, lalu dia memperkenalkan diri sebagai orang baik, apakah kita percaya? Tentu tidak, bukan? Bagaimana saya bisa percaya seseorang yang tidak kita kenal? Pertanyaannya, seberapa kita kenal Dia? Siapa Dia? Tuhan dan Juru Selamat. Apa maksudnya Tuhan di situ? Juru Selamat dari apa? Bayangkan kalau gereja menganggap bahwa semua orang sudah tahu maksudnya, padahal belum tentu tahu maksudnya. Maka kita harus mengenal benar siapa Tuhan itu. Mengapa disebut Tuhan? Lalu, sebenarnya, siapa manusia? Kenapa diciptakan? Siapa Iblis atau Lucifer yang jatuh itu? Kenapa ada penyelamatan? Mengapa orang percaya harus sempurna? Sempurna yang seperti apa atau siapa? Itulah kekomplekannya, tapi kita harus membangun itu.
Kita sudah melihat filosofi hidup manusia yang telah kita serap, (Yun. patroparadoto πατροπαράδοτο), dari cara hidup nenek moyang kita. Dan itu duniawi, namun kita diarahkan ke sana terus. Sekarang, Tuhan memberikan kita hak istimewa—yaitu penebusan, Roh Kudus, Injil dan penggarapan—namun masalahnya apakah kita manfaatkan semua fasilitas itu supaya memenuhi pikiran kita? Ini yang menjadi landasan bagi bangunan baru yang mengarahkan kita ke Tuhan. Sekarang tarik-tarikan, siapa yang menang, dunia atau Kerajaan Surga? Tergantung kita. Ini pergulatan yang hebat. Untuk itu, anak-anak kita dari muda-muda harus seperti ini, sudah harus mulai ekstrem mengikut Tuhan, karena dunia ke depan akan semakin jahat. Kita cuma mau di hadapan Tuhan nanti, dikenal oleh Yang Mulia. Maka kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan yang mahal dan berharga ini.
1 Petrus 1:16-17, “Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Jangan punya dunia lain dan hari-hari hidup kita, jangan dipakai untuk hal yang tidak berdaya guna mendewasakan kesempurnaan kita. Jangan bergaul dengan orang yang tidak takut Tuhan, dan Tuhan pasti menyisakan orang-orang yang mencintai Tuhan sebagai sahabat kita. Kalau dengan orang tua saja kita hormat dan berterima kasih—karena mereka punya standar kebaikan dan berusaha membawa kita kepada kebaikannya—apalagi terhadap Tuhan yang menuntun kita menjadi sempurna. Setialah! Waktunya sudah dekat. Yang diberi banyak, dituntut banyak; yang diberi sedikit, dituntut sedikit.