Kalau suatu hari nanti—dan ini pasti terjadi—kita melihat kedahsyatan api kekal, keadaan manusia yang terpisah dari Allah, baru kita bisa mengerti betapa berharganya keselamatan yang diperjuangkan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Seiring dengan pengertian kita akan kebenaran, keyakinan kita, dan penghayatan kita yang bulat mengenai kenyataan Kerajaan Surga, demikian pula penghayatan kita akan kenyataan api kekal—kedahsyatan terpisahnya manusia dari Allah. Menyadari hal ini, kita akan rela berbuat apa pun demi Tuhan yang telah melepaskan kita dari api kekal. Kita bisa berkata, “Apa pun yang Tuhan kehendaki untuk aku mau lakukan, aku lakukan. Apa pun yang Tuhan mau ambil dari hidupku, aku relakan. Bahkan, jika ada yang kusisakan di dalam diriku untukku sendiri, Tuhan, aku relakan! Aku bersedia Engkau paksa dan Engkau ambil apa pun yang ada padaku.”
Sejatinya, kita adalah orang-orang yang telah dieksekusi hukuman mati, terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya karena terbuang dalam api kekal. Dan banyak manusia sedang menuju keadaan itu. Tetapi Tuhan Yesus Kristus telah mati di kayu salib, Dia menggantikan tempat kita, menebus dan membeli kita. Maka, mau tidak mau, kita harus memberi diri “dieksekusi” Tuhan dengan hukuman mati versi Tuhan. Hukuman mati versi kuasa kegelapan membawa manusia kepada kehidupan yang terpisah dari Allah atau keadaan yang terpisah dari Allah di dalam api kekal. Tetapi eksekusi versi Tuhan dilakukan sejak kita hidup sekarang ini, yaitu dengan membiarkan Tuhan mengambil alih segenap hidup kita supaya kita sepenuhnya hidup bagi Tuhan.
Baik kita makan atau minum, atau melakukan sesuatu, kita berprinsip: “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Di dua kutub yang sangat ekstrem ini kita berada, namun kita harus memilih! Kita tidak bisa ada di tengah, di mediokritas. Apakah kita di kutub yang satu, dieksekusi kuasa kegelapan sehingga berkeadaan terpisah dari Tuhan selama-lamanya karena berada di api kekal, atau kita menerima eksekusi Tuhan dengan meninggalkan cara hidup manusia di sekitar kita, lalu mengenakan cara hidup anak-anak Tuhan melalui proses belajar, sampai kita sungguh-sungguh berkeadaan pantas disebut anak-anak Allah.
Tuhan akan menunjukkan mana yang salah. Dia mengajar. Oleh sebab itu, kita harus belajar kebenaran, sebab dengan belajar kebenaran, kita bisa mengerti kesalahan kita sendiri. Di sini kita jujur dengan diri kita sendiri dalam kita membenahi diri. Dan seiring dengan pengenalan akan Tuhan yang bertumbuh, kita akan memiliki cita rasa sesuai dengan cita rasa Tuhan. Kita bukan menikmati diri kita dengan selera dunia di mana itu menyesatkan, membunuh, membinasakan, sebab kita memuaskan diri kita sendiri, tetapi kita melukai Tuhan. Kalau untuk mengerti, “Ini membunuh, ini tidak membunuh,” kita tidak perlu Roh Kudus. Kita tidak perlu belajar kepekaan untuk tahu hal itu.
Tetapi untuk mengerti, “Ini hati yang bengkok, ini kesombongan terselubung, ini ketidaktulusan, ini ketidakjujuran, ini hati yang licik,” kita membutuhkan Roh Kudus untuk menuntun kita. Itulah sebabnya kita harus belajar. Kalau hanya menganalisa hukum, kita tidak perlu kepekaan, tidak perlu Roh Kudus. Agama apa pun, tanpa Roh Kudus, bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Tetapi untuk mengerti pikiran dan perasaan Tuhan, kita harus belajar panjang mengenal kebenaran agar kita memiliki kecerdasan roh sehingga bisa membedakan kehendak Tuhan; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Dan memiliki cita rasa Tuhan, sehingga kita bisa mencicipi diri kita sendiri.
Dan inilah masalahnya: ketika kita mulai memiliki cita rasa Tuhan, lalu kita cicipi diri kita sendiri, ternyata kita pahit. Kita tahu apa yang baik, tapi yang jahat kita lakukan; “Kenapa aku masih licik? Kenapa diam-diam aku sombong?” Di situ kita stres, tapi kita berusaha untuk menjadi cita rasa yang benar. Artinya, kita berusaha terus untuk meluruskan hati kita. Untuk itu, menjadi baik itu bukan karena terpaksa, namun karena memang kita tidak bisa menikmati diri kita yang bengkok. Kita tidak bisa tidak jujur. Kita tidak bisa bohong. Kita tidak bisa tidak tulus. Kita tidak bisa bengkok, karena kita mampu merasakan diri kita sendiri. Inilah kekristenan.