Kita adalah orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi pewaris Kerajaan Surga. Karenanya, kita harus bulatkan tekad kita; tekad untuk hidup tidak bercela, tekad untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang berharga. Ingat, waktu kita berjanji di depan pendeta untuk menjadi istri atau suami yang setia, kita tidak pernah berpikir akan selingkuh atau tidak setia. Dan mungkin sekarang ada yang kecewa karena janji manusia omong kosong. Ada yang dikhianati oleh pasangannya dan merasa seperti sampah yang dicampakkan. Kalau kita berjanji kepada manusia, manusia bisa mengingkari janjinya; tapi kalau kita berjanji kepada Tuhan, Tuhan tidak akan pernah mengingkari. Janji-Nya akan beserta dengan kita.
Kita harus rindu bahwa suatu hari kita dijemput Tuhan, masuk Rumah Abadi-Nya. Dan ketika kita melihat kemuliaan Tuhan di Kerajaan Surga, maka semua kelelahan, kekecewaan akan lenyap dan tidak kita ingat lagi. Dari pengalaman hidup yang pasti sebagian kita alami, dan melihat kehidupan orang-orang yang berjalan dengan Tuhan, mestinya kita berani berkata, “Aku garansi, aku jamin, Tuhan setia.“ Pada saat kita memandang Tuhan dan tidak melihat kegagalan-kegagalan hidup, dan kita berani mengatakan, “Tuhan, aku mau mengikut Engkau.” Juga kita menaruh pengharapan kita sepenuhnya kepada Tuhan, dan bertekad hidup untuk melakukan kehendak-Nya, menyenangkan Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan, dan melayani Tuhan sesuai dengan tempat atau bidang yang Tuhan percayakan kepada kita, maka hidup kita akan berubah.
Hanya cara ini yang membuat kita bangkit dari keterpurukan. Rasanya tidak cukup kalimat, “Sabar ya…” Sebab pada akhirnya kita akan merasa terpuruk, terbuang. Dan kita bisa mati dalam kekecewaan. Dan setan mau kita berkeadaan seperti itu. Sekarang, apa pun dan bagaimanapun keadaan kita, Tuhan bisa pulihkan. Mungkin kita membantah dengan mengatakan bahwa kita sudah mulai tua; dengan umur seperti ini, bagaimana kita bisa memulai hidup baru? Selagi napas kita masih ada di paru-paru, selagi kita masih memiliki jantung yang berdetak, nadi yang berdenyut, maka kita masih punya kesempatan untuk dipulihkan. Siapa pun kita yang mendengar atau membaca pesan Tuhan ini, Tuhan memanggil untuk bangkit dan menatap kehidupan hari esok yang penuh harapan.
Kegagalan dalam studi, karir, rumah tangga, atau dalam kesehatan karena terpuruk dalam sakit penyakit, semua itu tidak menghalangi kita mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di dalam Kerajaan Surga. Betapa Tuhan sayang kita, tak terbayangkan, tak tergambarkan kasih Tuhan kepada setiap kita. Kalau kita bisa merasakan kasih kita kepada orang yang kita kasihi—misalnya seorang ibu atau seorang bapak mengasihi anak-anaknya—maka Tuhan mengasihi kita lebih dari kita mengasihi orang yang kita kasihi. Tuhan ingin kita dipulihkan. Tuhan ingin kita dibangkitkan karena kita sangat berharga di mata Allah. Mungkin dari kecil, kita dicampakkan oleh orang tua, mereka pilih kasih, tidak adil membagi kasih dan perhatian. Kemudian, di hari remaja-pemuda kita dibuli oleh teman-teman, sehingga kita merasa minder, kecil hati, merasa bukan siapa-siapa. Sekarang, jadi dicampakkan oleh pasangan atau bahkan tidak dihargai oleh anak. Jangan kita merasa menjadi orang yang tidak bernilai. Sebab kita sangat berharga di mata Allah.
Sebelum orang tua melahirkan kita, Allah sudah melahirkan kita di dalam pikiran-Nya. Wah, luar biasa. Siapakah kita ini? Dan Allah merancang menjadi manusia apa kita ini. Kalau kita merasa gagal karena kita sudah meleset dari rencana Allah, namun kalau kita masih memiliki jantung yang berdetak dan mendengar suara Tuhan ini, lalu kita masih mau datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, selamatkan saya!” Tuhan menghargai kita. Bahkan Tuhan menghargai kita lebih dari kita menghargai diri sendiri. Luka hati, sakit jiwa kita di mana kita merasa tidak berharga, harus disembuhkan, harus dipulihkan kembali. Ingatlah bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, apalagi kalau kita berani berkata, “Aku berjanji menghormati-Mu.”
Kita akan menjadi orang yang luar biasa, kalau berani berkata, “Aku berjanji menghormati-Mu dalam segala perkara, tak bercela.” Berarti hidup kudus. Wah, kita menjadi istimewa di mata Allah. Siapa yang mengistimewakan Tuhan dalam hidupnya, dia juga akan diistimewakan. Kalau kita mau hidup suci, menghormati Tuhan, menghargai Tuhan, maka Tuhan pun akan menghargai kita. Kalau manusia kita hargai, tapi tidak membalas, namun tidak demikian dengan Tuhan. Kalau kita menghormati Tuhan, maka kita akan dimuliakan. Kalau kita hidup suci, yang berarti kita menghargai Tuhan, maka kita akan ditinggikan. Hari ini, jangan takut untuk berjanji menghormati Tuhan. Di sisa waktu umur hidup kita, kita mau menghormati Tuhan.