Upah

Seseorang memiliki kematian yang bermartabat atau tidak, tergantung kepada masing-masing individu. Dalam hal ini jelas, bahwa setiap orang memiliki kehendak bebas. Dari kehendak bebas ini, seseorang menentukan keadaan kekalnya. Yang pertama, apakah ia merespons keselamatan atau menolaknya. Ini tergantung dari individu. Respons kita terhadap realitas hidup ini, respons kita terhadap keselamatan yang Tuhan berikan, respons kita terhadap kesempatan pelayanan yang Tuhan berikan. Hal itu sudah dapat dilihat dari perjuangan seseorang bagi pekerjaan Tuhan hari ini. Yang kedua, setelah ia merespons keselamatan, apakah ia terus mau bertumbuh sampai memiliki karakter Yesus, menderita seperti Yesus. Maka, upah di kekekalan masing-masing orang itu berbeda (Why. 11:18). Kalau keselamatan ditentukan sepihak oleh Allah, seberapa jauh penentuan itu? Apakah sampai pada tingkat upah? Ada yang duduk bersama dengan Tuhan, semeja dengan Tuhan; tapi ada yang tidak. Ada yang besar upahnya, ada yang menerima mahkota, dan tidak. Nyatanya, masing-masing orang harus mempertanggungjawabkan; itu berarti ada kehendak bebas. Jangan sampai kita kehilangan keselamatan atau menyia-nyiakan keselamatan, karena kita tidak merespons keselamatan dengan benar.

Setiap orang mendapat upah sesuai dengan jerih lelah yang dilakukannya selama hidup di bumi. Suatu hari, banyak orang akan menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan untuk mengumpulkan harta di surga. Sekarang ini kita belajar untuk membayangkan penyesalan itu; penyesalan yang sangat dalam. Cobalah berperkara dengan Tuhan. Kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi pengadilan Tuhan. Sebab, ada perhitungan untuk nasib kekal kita nanti. Kalau ada ajaran yang mengatakan bahwa Tuhan secara sepihak menentukan orang selamat sekaligus juga menentukan upah, itu benar-benar salah. Ayat firman Tuhan mengatakan bahwa masing-masing individu harus mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat, baik atau jahat. Jadi, ada yang bisa berbuat baik, ada yang bisa berbuat jahat. Semua akan diadili berdasarkan pilihannya. Adalah sesat kalau dikatakan, “Jika seseorang berbuat baik, itu karena Allah yang menentukan; sedangkan jika ia berbuat jahat, hal itu karena dia sendiri yang menentukan.” Itu tidak adil. 

Ketika kita berada di rumah duka, apalagi pada waktu di pemakaman, akan ada perasaan tertentu; perasaan gentar terhadap kematian. Apalagi kalau ada anggota keluarga yang tidak rela, jerit tangisnya luar biasa menyayat. Suasana seperti itu adalah suasana yang mencekam, betapa dahsyatnya, dan suasana seperti itu bisa sangat kondusif untuk berpikir tentang kekekalan. Masalahnya, manusia hanya tercekam sesaat, setelah itu lupa. Tapi, kiranya memilih untuk mengingat terus. Kita harus membawa suasana kematian itu dalam hidup kita setiap saat, dan itu tidak berlebihan. Karena memang kematian bisa menjumpai kita setiap saat. Belum lagi ketika kita melihat orang sekarat di ujung maut. Suasana yang juga mengerikan. Bagi yang masih hidup saja itu mengerikan, mencekam, apalagi bagi yang sedang menjalaninya. Suasana yang begitu kritis, krisis, mengerikan itu, hanya bisa diantisipasi kalau seseorang setiap hari membiasakan diri berpikir, merenungkan tentang kematian, mempersiapkan diri dengan baik. Hidup tidak bercela, mengabdi melayani Tuhan, sampai titik kopos, barulah kita bisa mengantisipasi suasana itu.

Kita harus memanfaatkan kesempatan yang ada; seberapa kita all-out? Apakah kita masih mencari keuntungan diri sendiri atau untuk keluarga kita dalam pelayanan? Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan Tuhan sebagai kawan sekerja Allah atau utusan Allah adalah orang-orang yang bermartabat. Tentu saja, selama mengerjakan pekerjaan tersebut, ia lakukan dengan tulus, benar-benar untuk kepentingan Tuhan tanpa mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau keluarganya. Yang penting kita cukup. Orang yang tidak melayani Tuhan dengan benar berarti tidak menempatkan diri sebagai kawan sekerja Allah. Jangan ribut lagi soal kedudukan, nama baik, materi, dan lain-lain. Kita mau bertemu Tuhan di hadapan pengadilan-Nya, perkarakan, apakah kita sudah menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan? Tidak usah dendam, tidak usah benci. Jangan menuntut balas orang yang pernah kita beri kebaikan. Kalau bisa berdamai, kita mau berdamai. Kita benahi diri kita sendiri yang juga belum tentu benar. Kalau hidup kita benar-benar dari hari ke hari, berkenan di hadapan Tuhan, kita akan “naik kelas.” Sampai kita bisa memiliki hati seperti Tuhan Yesus, menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Sampai kita menemukan tempat kita melayani, pelayanan yang membuat kita sampai kopos; grief. Walaupun itu berat, namun kita harus menemukan itu. Biar kita mendapatkan salib mulia yang harus kita pikul. 

Setiap orang mendapat upah sesuai dengan jerih lelah yang dilakukan selama hidup di bumi.