Tuhan, Kehormatanku

Pasti kita bisa menghayati atau merasakan bagaimana kita sebagai orangtua menjadikan anak-anak atau menganggap anak-anak kita sebagai kehormatan kita. Anak-anak mengerti, menghayati bagaimana menjadikan orangtua itu sebagai kehormatannya. Kita yang ada di dalam satu organisasi, mengerti bagaimana menghayati bahwa organisasi/lembaga/institusi di mana kita berada sebagai kehormatan. Apa yang kita pandang sebagai kehormatan, pasti kita bela dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, segenap akal budi. Kalau anak-anak kita adalah kehormatan kita, maka sebagai orangtua, kita bekerja keras supaya anak-anak kita bisa studi, anak-anak kita bisa sekolah, lalu bisa menjadi sarjana, bisa mandiri, berprestasi. Itu menjadi kebanggaan, karena anak-anak adalah kehormatan orangtua. Demikian pula kalau anak-anak memandang, menganggap, dan memperlakukan orangtua sebagai satu kehormatan. Anak-anak menyediakan rumah, mobil, mendandani orangtua, karena orangtua itu kehormatan. Kalau kita menjadi salah satu anggota dari sebuah organisasi, kita mengerti, kita menghayati bagaimana kita membela organisasi kita sebagai kehormatan.

Mengapa kita tidak melakukan itu untuk Tuhan? Tuhan menjadi kehormatan kita. Kalau dari dulu kita mengatakan “Kau segalanya dalam hidupku,” itu berarti bahwa hidup kita memang dipersembahkan, diperuntukkan bagi Allah, bagi Tuhan yang hidup. Renungkan: kalau suatu hari kita menghadap Tuhan dan sejak di bumi kita sudah menjadikan Tuhan kehormatan kita, betapa berbahagianya kita, dan kita bisa berdiri atau tahan berdiri di hadapan Allah. Tuhan menjadi kehormatan kita, artinya kita membela Tuhan. Dalam hal apa kita membela Tuhan? Yaitu ketika kita bisa membuktikan bahwa Allah yang benar itu Elohim Yahweh, bahwa satu-satunya Juruselamat yang benar adalah Tuhan Yesus Kristus. Mungkin tidak semua kita bisa menyaksikannya, membuktikannya di khalayak depan banyak orang, karena kita tidak memiliki kesempatan dan ruangan untuk itu. Tetapi, paling tidak kita bisa menyaksikannya kepada orang-orang di sekitar kita, bahwa Elohim Yahweh itu Allah yang benar, bahwa Yesus Kristus itu Tuhan dan Juruselamat satu-satunya, bahwa Dia Allah yang baik yang menyediakan surga, lebih dari sekadar memberkati kita dengan rumah, mobil, dan segala fasilitas. Karena kalau menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, setan pun bisa memberi. 

Kita bisa menyaksikan Allah yang baik, Allah yang agung, Allah yang mulia, dan Dialah kehormatan kita. Namun, ini bukan satu hal yang sederhana. Kita harus minta pimpinan Tuhan, bagaimana menjadikan Tuhan itu kehormatan kita. Ada orang-orang yang merasa membela Tuhan, membela kehormatan Tuhan dengan berapologet; dengan membela secara debat. Jadi, dengan debat itulah mereka merasa membela Tuhan. Ini satu hal yang dilakukan banyak orang, tetapi bukan berarti itu sudah benar. Belum tentu. Dengan banyak ketidaksantunan yang dilakukan melalui debat-debat tersebut, malah jadi memalukan, jadi memperuncing hubungan antara kita dengan orang yang beragama lain; yang dengan mereka orang Kristen berdebat. Kita buktikan Allah yang benar itu Elohim Yahweh. Kita buktikan Yesus Kristus Juruselamat satu-satunya dengan perbuatan kita. Tentu untuk itu kita harus berani untuk menyangkal diri, untuk mengalah, untuk bisa mengerti orang lain, bisa mengampuni, bisa tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, diam walau kita di-bully, bahkan difitnah. Dan kita juga harus rela memberikan uang, harta kita. Setiap kita harus mendapat pimpinan Roh Kudus untuk bisa mengelola harta yang Tuhan percayakan kepada kita. 

Ini yang harus kita perkarakan, yaitu apa pun kita lakukan, kita menjadikan Dia sebagai kehormatan kita. Dan kalau kita mau menggunakan kata “bersaing,” ini persaingan yang sehat. Artinya, siapa Allah yang benar di antara allah-allah yang diakui sebagai sesembahan? Mari kita bersaing. Dengan cara apa? Dengan cara santun, perbuatan, pembelaan, pengorbanan yang tulus dari hidup kita atau melalui perilaku, atau melalui apa pun; melalui harta kekayaan yang bisa kita gunakan menolong orang untuk menunjukkan kebaikan Allah. Juga di antara para orang Kristen, di antara para pendeta, kita tidak usah bela diri mengangkat diri, kita diam saja. Orang mem-bully kita, menyakiti kita, memfitnah kita, mengkhianati kita, menjelek-jelekkan nama kita, kita diam. Dan itu memberi motivasi kita untuk lebih berjuang supaya kita benar-benar didapati Tuhan tidak bercacat, tidak bercela. Dan kita lebih menantikan kedatangan Tuhan, lebih menunggu hari kematian kita, lebih menantikan di pengadilan Tuhan nanti, karena semua akan dibuka. Mari kita menjadikan Tuhan kehormatan hidup kita, dan kita bisa berkata, “Engkau hartaku satu-satunya.”

Kalau suatu hari kita menghadap Tuhan dan sejak di bumi kita sudah menjadikan Tuhan kehormatan kita, maka kita bisa tahan berdiri di hadapan Allah.