Toleransi Allah

Hari ini Tuhan seperti diam, seperti bisu, seperti tidak ada. Ketika kita berpikir begitu, kita sebenarnya sedang menghina Alkitab. Ketika kita berpikir seakan-akan Tuhan tidak ada, kita tidak menghayati kehadiran Allah, kita seperti menghina Alkitab. Apakah kita anggap Alkitab itu dongeng? Cerita bohong? Fiksi? Itu fakta. Allah yang hidup, yang ditulis Alkitab, Allah yang sama yang hadir sekarang. Allah yang hadir, Allah yang hidup sekarang. Dan itu membuat kita kuat, karena memang Tuhan luar biasa. Sering menguji, kita dibuat berlarut-larut menderita. Kita dibuat susah berkepanjangan. Kita dibuat seakan-akan tertindas, dan tidak ada yang bisa menolong kita. Tuhan pun seperti diam. Kita berseru, seakan-akan Dia tuli. Tuhan layak dipercayai, walaupun Dia tampak seakan-akan tidak ada. Dia layak tetap dipercayai. 

Di situlah kehormatan kita kepada Allah. Jangan hanya karena setiap kali kita berdoa, Dia menjawab dengan cepat, Dia memenuhi keinginan kita, Dia mengabulkan doa kita, baru kita percaya. Ketika Dia seakan-akan tidak ada, ketika Dia seakan-akan tidak hadir, ketika Dia seakan-akan tidak peduli, seakan-akan Dia tidak ada, kita tetap memercayainya. Hendaknya kita senantiasa menghormati Tuhan semesta alam. 

Kalau kita selama ini tawar hati terhadap Kerajaan Surga, tawar hati terhadap kekekalan, tawar hati terhadap kehidupan di langit baru bumi baru, hari ini kobarkan dalam hati kita. Jangan hanya berkata “langit baru bumi baru,” jangan hanya berkata tentang Kerajaan Surga. Itu tidak ada artinya tanpa kerinduan yang sungguh-sungguh. Allah memiliki hakikat. Allah memiliki karakteristik. Allah terikat dengan diri-Nya, dengan hakikat dan karakter-Nya. Dan yang mengerikan, Allah tidak bisa diubah oleh siapa pun, dan Allah juga tidak mengubah diri-Nya sendiri. Ia tidak bisa kompromi dengan apa yang bertentangan dengan hakikat-Nya.

1 Petrus 1:16. “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Kalau yang bicara itu manusia, mungkin bisa dengan ratapan. Tapi Allah tentu dengan kegagahan-Nya, karena Dia Pencipta langit dan bumi, Dia tidak perlu membujuk- bujuk, meratap-ratap “jangan begitu, Nak,” tidak. Allah tegas, “kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Tapi kalau seandainya bisa dibuat seperti manusia, Allah akan berkata: “kuduslah, Nak, kamu. Sebab Aku kudus. Kamu tidak bisa bersama Aku kalau keadaanmu seperti ini. Kamu mau Aku mengerti kamu, tapi kamu tidak mengerti Aku. Aku tidak bisa mengubah diri-Ku. Hakikat-Ku kekal, dari kekal sampai kekal. Kamu yang harus mengerti karakteristik-Ku, kamu yang harus mengerti hakikat-Ku,” dan ini tidak bisa ditawar. Mengerikannya, tidak bisa ditawar. 

Kita harus sampai pada kegentaran akan Allah, dan menyadari bahwa ini tidak bisa ditawar. Setan yang membuat banyak orang merasa seakan-akan Allah toleransi terhadap kekurangan dan kelemahan. Allah toleransi waktu kita masih muda rohani. Allah bisa mengerti, ketika kita dipandang masih kanak-kanak. Tetapi tidakkah kita tahu, Allah juga bisa bertindak tegas dan berkata: “Aku tidak kenal kamu.” Waktu kita masih kecil, terutama bagi yang sudah Kristen sejak kecil, kita berpikir Kristen itu jalan tol masuk surga. Kalau orang sulit masuk surga karena tidak kenal Yesus, kita kenal Yesus, menjadi Kristen, sehingga ke surga menjadi lebih mudah. Nanti begitu di pengadilan Tuhan melihat wajah kita, “Ini Kristen, silakan masuk surga.” Ini menjadi bayangan kita yang masih belum mengerti.  

Tapi setelah kita belajar Firman, ternyata kekristenan itu jalan sempit, jalan sesak, sukar, harus berjuang. “Banyak dipanggil, sedikit yang dipilih,” tapi ini disembunyikan. Ayat “orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan” tidak disampaikan. Lalu ketika kita belajar terus firman Tuhan, lalu Tuhan berkata: “kuduslah kamu sebab Aku kudus,” Tuhan tidak bisa kompromi. Kita hanya berkata, “baik, Tuhan.” Jangan berkata, “tapi kita ini manusia yang masih di dunia, penuh kelemahan dan kekurangan.” 

Kita tidak memanjakan perasaan Tuhan, malah memanjakan perasaan sendiri. Kanak-kanak terus. Sampai tua, kita tidak pernah dewasa rohani. Di dalam 2 Korintus 6:16, “apakah hubungan bait Allah dengan berhala?” Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup. Allah yang hidup bersemayam di dalam diri kita. Di dalam diri kita, ada Ruang Mahakudus. Apa tidak mengerikan? Allah mau tempat mahakudus bagi Dia. “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka, dan hidup di tengah-tengah mereka. Dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Diam bersama-sama. 

Sebab itu, keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan yang Mahakuasa.” Kalimat ini penting: di dalam diri kita, ada Ruang Mahakudus. 

Setan membuat banyak orang merasa seakan-akan Allah toleransi terhadap kekurangan dan kelemahan kita.