Tidak Menunda demi Penampian

Kata “penampian” berasal dari akar kata “tampi;” menjadi kata kerja “menampi.” “Menampi” dalam arti sempitnya adalah memisahkan atau mengurai. Dalam arti lengkap, usaha memisahkan dua unsur atau dua benda dengan menggoncang. Kata ini biasanya digunakan untuk memisahkan beras dari gabah, atau gandum dari kulitnya, dengan media tertentu (kalau di Indonesia menggunakan nyiru atau tampah; alat rumah tangga berbentuk bundar, dibuat dari bambu yang dianyam, gunanya untuk menampi beras dan lain sebagainya). Ada satu kata dalam bahasa Yunani yang digunakan Yesus untuk kata “menampi,” yaitu siniazo (σινιάζω) dalam Lukas 22:31 (“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum”). Kata “menampi” ini dalam KJV diterjemahkan sift. Sinonim dari kata ini adalah winnow. Kata yang mendekati kata sift dan winnow adalah screen atau shake in a sieve. Kalau menyaring, tidak ada goncangan yang berarti. Tetapi kalau menampi, ada gerakan dinaikkan dan diturunkan, lebih menunjuk kepada tindakan mengguncang.

Dunia sedang dibawa kepada masa transisi, dari masa menuai ke masa menampi. Di masa penampian ini, dunia akan mengalami guncangan dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Gereja yang benar dan dewasa harus sudah berbicara mengenai masa menampi, walau masa menuai belum selesai total. Dunia sedang memasuki masa penampian seperti yang dikatakan oleh Daniel 12:10, “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.” Di dalam konteks ayat ini, Daniel sedang berbicara mengenai akhir zaman: mengenai kesesakan yang akan dialami Israel di akhir zaman, mengenai kebangkitan manusia di akhir zaman, pembuktian orang benar dan orang yang tidak benar, pengetahuan yang akan mengalami kemajuan. Tetapi di pihak lain, Firman Tuhan akan diselidiki dan disingkapkan (Dan. 12:1-9).

Masa penampian adalah masa penegasan, artinya orang percaya ditantang untuk memilih hendak mengikut siapa: Tuhan atau dunia. Tantangan itu berasal dari keadaan dunia ini yang akan diguncang Tuhan dengan berbagai guncangan. Sesuai dengan Firman Tuhan, bahwa masa ini adalah masa sukar dan akan semakin sukar (2Tim. 3:1-5; Mat. 24:4-13). Harus dicamkan bahwa ini bukan zaman damai, bukan zaman kelimpahan secara duniawi dimana orang percaya tidak lagi menghadapi tantangan dan pencobaan hidup. Baik orang Kristen maupun di luar Kristen akan mengalami guncangan ini sebagaimana tertulis dalam Lukas 21:34-36, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Dari aspek sekuler, dunia menghadapi berbagai krisis, antara lain krisis politik, ekonomi, sosial, pandemik, ekosistem bumi, anomali cuaca, radikalisme, dan lain-lain. Di dalam dunia rohani atau moral, ini adalah masa perang; masa konflik rohani yang paling sukar. Untuk ini, kita membutuhkan kecerdasan roh yang tinggi dan pengurapan yang baru agar kita sanggup menghadapi masa-masa yang sukar ini. Iblis sungguh-sungguh berusaha menghancurkan pekerjaan Tuhan dan membunuh iman orang percaya. Orang percaya akan makin diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang mengancam iman dan kesetian yang murni kepada Kristus. Kita harus mengenali ancaman-ancaman-ancaman tersebut dan menemukan cara mengantisipasinya.

Tantangan-tantangan tersebut antara lain: Pertama, pengaruh jahat dunia di sekitar kita melalui berbagai mass media dan pergaulan hidup. Iklim dunia sekitar kita semakin jahat, suasana fasik dunia ini sedikit banyak akan memengaruhi pola tindak dan pikir orang percaya (Ef. 5:15-17; Mat. 24:12). Kedua, aniaya dari pihak orang tidak percaya yang akan makin gencar menekan dan mencoba membunuh iman Kristen (Luk. 21:12-19). Ketiga, pengajaran sesat yang lahir dari berbagai kelompok Kristen dan pembicara-pembicara yang tidak mengerti kebenaran Firman Tuhan (Mat. 24:11). Keempat, sirkuit dunia roh yang tidak dipahami banyak orang yang akan banyak menjatuhkan orang percaya. Transfer spirit ini akan mengalir melalui berbagai sarana, bahkan melalui pengkhotbah-pengkhotbah yang tidak memiliki Roh Kudus yang benar (Mat. 24:11; 1Yoh. 4:1).

Mengantisipasi keadaan ini, orang percaya dipanggil untuk memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan secara benar dan tidak menundanya. Setiap kita harus sungguh-sungguh bergaul dengan Allah. Hal ini akan memberikan kepada kita kecerdasan Roh dan urapan baru yang membuat kita mampu menghadapi keadaan sukar ini, dan tampil sebagai pemenang. Dalam hal ini, orang percaya akan memiliki kepekaan dari Tuhan sendiri untuk mengenali dan membedakan segala roh. Orang percaya akan dibawa kepada karunia-karunia Roh yang membukakan banyak rahasia surga. Kegenapan nubuat nabi Yoel akan semakin nyata (Kis. 2:17-19).