Tidak Ada Kata “Amin”

Tuhan Yesus berkata di dalam Yohanes 17:21, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Tuhan memberi kepada orang percaya hak istimewa untuk ada dalam persekutuan dengan Bapa, Bapa di dalam Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus ada di dalam Allah Bapa, dan orang percaya di dalam Bapa dan Anak. Adalah suatu hal yang sangat luar biasa.  Kita orang ini yang tadinya adalah pemberontak, manusia yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, diperkenan tinggal di dalam Bapa dan Anak. Ini hal yang sangat luar biasa. Tetapi saying, tidak semua orang Kristen memiliki mengalami hal ini, karena mereka tidak berjuang belajar untuk hidup dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak.

Sejatinya, orang-orang yang tinggal dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak adalah gereja yang tidak kelihatan, yang tidak perlu memiliki merk, tidak perlu di bawah sinode, atau denominasi, yaitu orang-orang memang sudah ada di dalam hadirat Bapa setiap hari.  Gereja yang sesungguhnya, yang tubuhnya didiami Roh Kudus, adalah orang-orang percaya yang selalu ada di hadirat Allah. Ironis sekali setelah rambut kita memutih, usia menua, baru kita bisa menghayati apa artinya ada di hadirat Allah setiap saat. Kita semua memang sebenarnya ada di dalam cengkeraman kehadiran Allah, setiap kita. Tetapi apakah seseorang benar-benar membangun hadirat Allah di dalam hidupnya, itu tergantung masing-masing individu. Banyak orang Kristen, termasuk kita dulu, tidak mengrti hal ini sehingga tidak hidup di hadirat Allah dengan benar. 

Kalau kita mau membangun hadirat Allah di dalam hidup kita atau kita mau tinggal di dalam hadirat Allah, maka kita benar-benar dapat terus mengingat, terus-terus menghayati, terus-menerus dalam kesadaran bahwa kita ada di hadapan Allah. Jika demikian, maka kita pasti tidak akan berani sembarangan berbuat dosa. Pasti kita tidak akan merasa takut dan gentar menghadapi apa pun. Masalahnya, sering kita ini bersikap dualisme. Pada waktu kita ada dalam pertemuan doa, pada waktu kita kebaktian kita berusaha menghayati kehadiran Allah dan kita merasa ada di hadirat Allah, tetapi setelah selesai kebaktian, selesai pertemuan bersama dalam doa, kita sudah keluar dari hadirat Allah. 

Itu juga yang kita telah lakukan dan alami sebelum mengerti kebenaran ini. Dengan keadaan tersebut kita menjadi orang-orang Kristen yang munafik. Tidak ada satunya kata dan perbuatan, tidak ada sinkronnya antara pujian nyanyian yang kita ucapkan pada waktu kita di dalam kebaktian dengan kehidupan setiap hari. Ini yang benar-benar harus kita sadari, kita ratapi dan kita mau bertobat dan berubah. Sekarang kita harus mengerti bagaimana membangun hadirat Allah di dalam hidup ini. Memang dibutuhkan perjuangan, latihan, pembiasaan, sampai hal itu menjadi irama dalam hidup kita. Sesungguhnya hal ini adalah privilege (hak istimewa), yaitu untuk tinggal di dalam Bapa dan Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. 

Dalam Yohanes 20:21 Yesus menyebut “orang percaya” boleh ada dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak. Mereka adalah orang-orang percaya yang dikelompokkan oleh Tuhan dan disebut dengan istilah ‘mereka’. Seperti yang dikatakan dalam Firman Tuhan, orang-orang yang dikelompokkan sebagai orang-orang yang benar-benar dipandang sebagai gereja Tuhan yang sejati, “Agar mereka juga di dalam Bapa dan Anak.” Oleh sebab itu hendaknya kita membangun kehidupan seperti ini. Kalau kita tidak membiasakan diri mulai sekarang hidup dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak, maka kita tidak akan pernah bisa selamanya. Ini benar-benar mengasyikkan, menyenangkan, luar biasa. Dalam persekutuan dengan Bapa dan Anak sampai kita bisa mengerti bahwa kita bisa hidup tanpa siapa-siapa, dan bisa hidup tanpa apa-apa, tetapi kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Kita baru bisa mengerti bahwa harta kita itu adalah Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Memiliki Allah Bapa itu berarti memiliki segalanya. Jadi kalau masih ada orang Kristen yang merasa kurang, dia itu belum mengerti bagaimana tinggal di dalam Bapa dan Anak. 

Oleh sebab itu, tidak bisa tidak, kita harus hidup sangat berhati-hati, kita tidak lagi boleh sembarangan hidup, tidak boleh sembarangan berbicara, tidak boleh sembarangan mengambil keputusan dan bertindak. Kita harus menghargai dan menghormati Allah di mana kita selalu ada di hadirat-Nya. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang berharga dan mahal ini. Dalam hal ini kita tidak menutup doa hidup kita dengan “amin” sebab kita tidak pernah putus hubungan atau tidak pernah selesai dalam persekutuan dengan Allah. Tidak pernah menutup “amin”, karena tidak ada satu wilayah yang blank spot dengan Allah, selalu ada koneksi dengan Allah.  Kalau ada kata “amin” itu bukan mengakhiri persekutuan dengan Allah, tetapi penegasan bahwa yang dikatakan benar adanya.