Testimoni Dunia

Kalau di dunia ini ada barang bagus dan dibuktikan oleh orang-orang melalui testimoni; melalui kesaksian bahwa barang itu bagus, maka banyak orang akan berusaha memperoleh dan memilikinya. Kemudian, barang itu menjadi mahal, apalagi kalau sudah mulai langka. Demikian juga dalam masa pandemi ini., jika ada obat yang dinyatakan paling ampuh untuk mematikan virus COVID-19, maka obat tersebut menjadi barang rebutan dan akhirnya langka, sehingga tidak mengherankan kalau harga obat tersebut bisa dijual berkali lipat, namun orang tetap bersedia membelinya. Kalau stok di Indonesia habis, orang mencarinya di luar negeri, karena barang itu dianggap, dipercayai bagus, dan dibuktikan oleh orang-orang tertentu yang mempunyai pengalaman menggunakan obat tersebut. Jika obat atau barang tertentu—apakah itu kendaraan, jam tangan, tas, perkakas yang lain—dikenal sebagai baik, bagus, ada testimoni, maka barang tersebut akan dicari orang dan diusahakan untuk dimiliki dengan harga berapa pun.

Bagaimana dengan Tuhan? Ironis, di akhir zaman ini orang semakin tidak mencari Tuhan. Hal ini tidak mengherankan, sebab Alkitab sendiri telah memberi kesaksian bahwa pada hari akhir, Tuhan makin tidak dicari dan surga makin tidak dirindukan. Ibarat barang, Tuhan dan Kerajaan-Nya telah menjadi murah. Tidak dicari, tidak dibutuhkan, tidak ada kesaksian atau testimoni yang jelas bahwa barang itu bagus. Ironis sekali. Inilah yang membuat banyak orang menjadi murtad, banyak orang tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, banyak orang meninggalkan Tuhan. Seperti yang dikatakan dalam Matius 24:13-14; 2 Timotius 3:1-5, dan banyak lagi ayat Firman Tuhan yang menunjukkan bahwa dunia sebelum berakhir akan menjadi semakin jahat. Itulah yang disebut semangat nihilistik (nihil); tidak perlu ada. Negara Barat yang dahulu mengirimkan utusan-utusan Injil ke Asia, ke Timur—termasuk ke Indonesia—sekarang menjadi masyarakat yang nihilistik. 

Memang mereka berusaha menghargai nilai-nilai kemanusiaan, menjadi orang-orang humanis; orang-orang yang menghargai hak manusia (human rights), tetapi Allah tereliminasi dan terbuang karena sudah dianggap bukan “barang bagus,” bukan sesuatu yang berguna. Inilah pengaruh jahat yang memengaruhi banyak orang, dan juga sedikit banyak memengaruhi orang percaya. Bahkan teolog, pendeta, aktivis gereja pun tidak sungguh-sungguh yakin bahwa Allah itu berharga. Apa buktinya? Buktinya, mereka masih menaruh kebahagiaan pada hal lain, masih menaruh penghargaan kepada barang lain, dan menganggap bahwa barang itu yang melengkapi hidup. Dan tanpa barang itu, hidupnya menjadi kurang utuh. 

Kalau Tuhan berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” berarti kita harus yakin bahwa satu-satunya Tuan yang dapat melindungi kita, satu-satunya Tuan yang dapat menaungi kita, satu-satunya Tuan yang sungguh-sungguh dapat menjadi kebahagiaan dan sukacita kita itu, hanya Tuhan. Masalahnya, Tuhan tidak kelihatan dan tidak ada testimoni bahwa ikut Tuhan itu membahagiakan. Apalagi kalau melihat rohaniwan pun ternyata melakukan pelanggaran moral. Apakah soal uang, soal seks, atau soal-soal yang lain. Dan itu mengisyaratkan bahwa Tuhan yang dipercayai rohaniwan ini, tidak membahagiakan atau kurang membahagiakan. Mengerikan! Kita bersyukur karena Tuhan berbelas kasihan kepada kita. Kita disadarkan atas kesalahan yang kita lakukan; kemerosotan, kemunduran kerohanian kita, dan kita tentu dipanggil untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan.

Maka, kita harus berbalik kepada Tuhan. Tuhan bukan hanya berguna dan bermanfaat untuk menolong di kala susah, melainkan Dia segalanya dalam hidup kita. Tidak ada yang kita butuhkan selain Tuhan. Sebenarnya begitu. Itulah sebabnya Pemazmur bisa mengatakan, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya;” “Seperti rusa yang merindukan sungai demikianlah jiwaku merindukan Tuhan.” Kiranya kita memiliki kehausan akan Allah, kehausan yang kuat akan Dia. Jangan melihat testimoni-testimoni dunia. Walaupun tidak diucapkan, tetapi testimoni-testimoni itu mengisyaratkan bahwa dunia membahagiakan, dunia melengkapi, dunia menyempurnakan sukacita hidup; dan itu menyesatkan! Itulah cara Iblis membinasakan manusia. 

Kita percaya bahwa hanya ada satu Allah yang benar, satu Allah yang hidup Elohim Yahweh, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allah Israel, Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang bisa melindungi kita bukan hanya di bumi, melainkan selama-lamanya di surga. Jangan khawatirkan keadaan kita yang malang di bumi. Asalkan Tuhan berkenan, semua yang kita alami Tuhan jadikan untuk menyempurnakan kita. Dan pada akhirnya, kita akan melihat kehidupan di langit baru bumi baru. Setiap kita harus mengambil keputusan percaya kepada Allah Bapa dan mengikuti jalan Tuhan.

Walaupun tidak diucapkan, tetapi testimoni-testimoni dunia mengisyaratkan bahwa dunia membahagiakan, dunia melengkapi, dunia menyempurnakan sukacita kebahagiaan; dan itu menyesatkan!

Itulah cara Iblis membinasakan manusia.