Terpaksa

Jika kita perhatikan, ada orang-orang yang kalau sudah dalam keadaan terdesak, barulah dia berurusan dengan Tuhan. Seperti ketika terkena COVID-19—baik dirinya sendiri atau orang yang dia kasihi—atau ketika jatuh bangkrut, atau ketika menghadapi masalah tuntutan hukum; baru orang tersebut sungguh-sungguh mencari Tuhan. Kalau sudah dalam kondisi krisis, kondisi kritis barulah mereka mencari Tuhan, mencari pendeta. Ini sebenarnya hal yang licik. Tetapi kenyataannya, banyak orang Kristen seperti itu. Pada waktu tidak memiliki masalah, mereka tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Sejatinya, orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak menghormati Tuhan, tidak menghargai Tuhan secara patut. Mestinya kita mencari Tuhan dan membutuhkan Dia bukan karena kita memiliki masalah, melainkan karena memang kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan

Dalam kesabaran-Nya, ketika kita mengalami problem atau persoalan berat, lalu kita membawanya kepada Tuhan, Tuhan masih mau mendengarkan dan menolong. Namun, jika kita terbiasa seperti itu, maka ketika kita meninggal dunia lalu berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, bayangkan betapa gemetarnya kita karena tidak terbiasa berurusan dengan Tuhan. Dan ironisnya, saat itu tidak ada kesempatan lagi untuk kita menjalin hubungan dengan-Nya. Maka, seharusnya kita senantiasa berjalan dengan Tuhan, mencari Tuhan, memburu Tuhan, bukan karena kita ada di dalam kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan karena Tuhanlah kehidupan kita. Supaya kalau suatu saat kita meninggal dunia, kita sudah berjalan dengan Dia. Untuk masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani; sakit misalnya, kita bisa ke dokter atau bisa minta didoakan. Kalau kita menghadapi masalah hukum, kita bisa mencari bantuan lewat pengacara, dan lainnya. Tetapi kalau hal menghadap takhta pengadilan Allah, tidak ada bantuan dari pihak mana pun, karena masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan hidup, dan sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya.

Oleh sebab itu, memang fokus kita itu haruslah kekekalan. Kita berjalan dengan Tuhan hari ini, dan itu perjalanan yang terus kita bangun sampai kita menutup mata. Dan kalau kita betul-betul berjalan dengan Tuhan, kita memiliki kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan. Sebagaimana pemazmur mengatakan dalam Mazmur 42:1, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Kita merindukan Tuhan bukan karena kita punya masalah, melainkan sampai kita ini benar-benar dapat merasakan pentingnya kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. Bahwa jiwa kita ini kosong atau hampa tanpa Tuhan. Masalahnya, banyak orang belum sampai mengalami kekosongan jiwa ini, karena kekosongan jiwa manusia sesat. Banyak yang merasa jiwanya kosong karena belum punya rumah, belum punya mobil, belum punya jodoh, belum punya anak. Bukan tidak boleh memiliki jodoh, mobil, rumah, dan lain-lain, tetapi itu semua kekosongan yang menipu. Orang-orang seperti ini licik; yang kalau suatu saat ada masalah, barulah mereka datang ke Tuhan. Namun kalau mereka masih ada di bumi, memang dengan kekuatan materi dan koneksi, mereka masih bisa ditopang. Tetapi kalau sudah mati, tidak ada lagi yang dapat menopang dan tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri. 

Oleh sebab itu, Tuhan memang kadang-kadang—dengan terpaksa—mengizinkan kita dalam kondisi yang sulit dimana kita tidak berdaya, supaya kita mencari Tuhan. Melalui peristiwa dan masalah dalam hidup, Tuhan merangsang kita untuk mencari Dia. Dari masalah kebutuhan pemenuhan kebutuhan jasmani—entah itu masalah keuangan, sakit-penyakit, masalah hukum, masalah rumah tangga, dan lain-lain—Tuhan menyengat dan mengguncang kita dengan masalah-masalah tersebut, sehingga pada akhirnya Tuhan mau kita mencari-Nya. Namun, sering kali sesudah disengat dengan masalah pun, kita masih tidak mengerti atau bahkan tidak mau peduli. Yang kita upayakan adalah masalah itu selesai, sehingga kita dapat menjalani hidup dengan bahagia, bebas masalah. Padahal, dalam hidup ini selalu ada masalah. Kalau sudah begitu, mengerikan sekali! Sebab, jangan sampai Tuhan membiarkan dan tidak mau membentuk kita lagi. Jadi, kalau Tuhan memukul kita dengan masalah, kita harus segera memahami dan merespons dengan benar. Ayo, kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, seperti rusa merindukan sungai yang mengalir.

Tuhan memang kadang-kadang—dengan terpaksa—mengizinkan kita dalam kondisi yang sulit dimana kita tidak berdaya, supaya kita mencari Tuhan