Tergiring Untuk Hidup Suci

Rata-rata manusia—dalam konteks Kristen—matanya sudah buta, mereka tidak mempersoalkan hal kekekalan, pengadilan Allah, dan kemuliaan bersama Tuhan. Sangat sedikit kelompok orang yang sungguh-sungguh serius. Kalau setiap pagi kita doa pagi—juga petang dan malam—hal itu bukan karena kita punya masalah sakit, belum menikah, atau krisis ekonomi. Krisis kita itu bukan krisis yang menyangkut masalah-masalah fana. Krisis kita adalah hal-hal yang menyangkut kekekalan. Kalau kita mencari Tuhan, maka kita harus rela tidak punya apa-apa atau siapa-siapa. Sebab ketika kita menemukan Tuhan dan memiliki persekutuan dengan Tuhan, berarti kita memiliki segala-galanya.

Lalu apa artinya “harganya segenap hidup kita?” Dulu kita sering menyanyi, “Tubuh, nyawaku, roh, dan jiwaku, ku serahkan pada Tuhan. Hanya ini, Tuhan, persembahanku,” dan seterusnya. Itu artinya kita tidak boleh punya kebahagiaan selain Tuhan. Ini benar-benar konyol. Kita tidak memiliki kebahagiaan selain Tuhan. Kita harus berani berprinsip bahwa Tuhan adalah satu-satunya kebahagiaan kita, tidak ada yang dapat membahagiakan hidup kita selain Tuhan. Hanya Tuhan, bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Tuhan saja. Ini dengan sangat radikal akan membuat kita menjauhi dosa. Kita tidak usah memaksa diri untuk hidup suci, sebab kita dengan sendirinya akan merasa sangat terganggu ketika berbuat dosa. 

Kita akan tergiring untuk hidup suci. Kalau kita berbuat salah, jiwa kita akan terganggu hebat. Kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki, kita baru bisa mengerti apa artinya “Tuhan kehormatanku, Tuhan kemuliaanku. Aku tidak perlu punya nama baik, nama besar, nama tersohor, nama terkenal. Aku tidak butuh penghormatan, karena Tuhanlah kehormatanku.” Kalau Tuhan menjadi satu-satunya kebahagiaan, maka Tuhan menjadi kehormatan, dan kemuliaan kita. Dan ini luar biasa, Tuhan menjadi harta kita. Ini bukan hanya diucapkan dengan kata-kata, tapi harus dialami. Yang pembuktian dari kebenaran ini tidak lama. Kalau kita nanti berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, baru semua terbuka.

Kalau Tuhan menjadi satu-satunya kebahagiaan, kita tergiring untuk hidup suci; tak bercacat tak bercela. Tuhan menjadi kehormatan kita, kemuliaan kita. Kita bisa merasa cukup dengan apa pun yang Tuhan telah berikan. Dengan sendirinya, kita akan terlepas dari ikatan-ikatan dunia. Dulu kalau tidak makan ini, tidak enak. Kalau belum pergi ke tempat anu, belum puas. Kalau belum punya barang ini, rasanya belum lengkap. Belum lagi kalau belum menikah, belum merasa lengkap. Belum punya anak, belum merasa bahagia. Kita pasti tidak bisa berkata “Yesus cukup bagiku.” Tapi kalau Tuhan menjadi kebahagiaan satu-satunya, maka kita akan bisa merasa cukup. 

Dengan menjadikan Tuhan kebahagiaan kita satu-satunya, tanpa kita paksa-paksa, kita memiliki kerinduan akan Tuhan. Dan betapa bahagianya hidup kita, suatu hari nanti kita bertemu dengan Tuhan Yesus, muka dengan muka. Lalu dengan sendirinya kita merasa “dunia bukan rumahku.” Bukan hanya kata-kata, bukan hanya ucapan, tetapi penghayatan hidup. Terlepas dari ikatan dunia, Tuhan menjadi kehormatan kita. Kita merindukan Tuhan. Lalu yang hebat, kita menjadi hartanya Tuhan. Tuhan bisa berkata, “Ini harta-Ku. Ini milik-Ku. Ini kesayangan dan kesukaan-Ku. Inilah kekasih-Ku.” Namun, kita yang harus mengondisi hidup kita. 

Kita adalah manusia yang diberi Tuhan peluang menjadi pangeran-pangeran, putri-putri Kerajaan kekal yang kebesarannya tak terhingga. Kita adalah orang-orang yang dipilih, dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah; Raja di atas segala raja. Jangan menyesali keadaan kita. Tetapi berjuanglah untuk menemukan Tuhan, untuk mengalami Tuhan dengan harga yang seharusnya; segenap hidup. Dan Tuhan akan memampukan kita untuk membayar atau menyelesaikannya, karena memang Allah ingin kita ini menjadi kekasih-kekasih-Nya. Mestinya kita berpikir bahwa 70, 80, 90 tahun atau mungkin 100 tahun umur hidup kita, semata-mata hanya untuk menemukan kehidupan. Bukan kehidupan di bumi, sebab begitu kita terlahir, kita sudah hidup secara fisik. Tetapi kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan di kekekalan, menemukan Allah yang menjadikan kita kekasih-Nya. 

Ironis, banyak orang yang jiwanya sakit; entah karena masa lalu, kepahitan, tertolak, atau banyak hal lainnya. Mereka menjadi orang yang pemarah, pendendam, penuh kedengkian dan iri hati. Namun Tuhan menyembuhkan kita lewat perjalanan waktu. Kalau kita berani untuk menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan, 100% kita pasti sembuh. Memang di mata manusia lain kita seperti orang tidak waras, fanatik; sebaiknya kita diam saja. Sebab kalau sampai kita menjadi kekasih Tuhan, tak terkalahkan! 

Kalau Tuhan menjadi satu-satunya kebahagiaan kita, maka Tuhan menjadi kehormatan dan kemuliaan kita, sehingga kita tergiring untuk hidup suci.