Tantangan Terbesar

Kalau Alkitab berbicara mengenai “kematian dari manusia lama,” hal itu menunjuk kepada kesediaan untuk meninggalkan sama sekali cara berpikir, pola hidup, dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Seperti bangsa Israel diperintahkan untuk menumpas bangsa-bangsa di Kanaan, demikian pula kita harus menumpas semua pola berpikir dan gaya hidup yang masih memuat unsur-unsur kafir. Toleransi yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap sebagian penduduk Kanaan menjadi penyebab pengaruh kafir masuk dalam kehidupan umat Tuhan. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh berhenti mengalami pembaharuan pikiran seperti yang dinasihatkan oleh Paulus (Rm. 12:2). Target yang harus dicapai adalah “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Sampai taraf ini, orang percaya pantas mendapat pernyataan Paulus bahwa kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:1-4). “Telah mati” berarti tidak lagi mengharapkan kesenangan dari dunia ini apa pun bentuk dan caranya. “Telah mati” di sini berarti pula bersedia untuk tidak memiliki keinginan diri sendiri. Semua keinginan yang ada pada kita harus untuk kepentingan Kerajaan Allah dan kesenangan hati Tuhan. Kepentingan Kerajaan Allah adalah mengusahakan agar orang-orang dibawa mengenal Tuhan Yesus dan kebenaran-Nya, serta bisa bertumbuh menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus.

Dalam hal di atas, orang percaya harus menyediakan “bejana kosong” dan membuka diri untuk diisi oleh Tuhan Yesus. Lagu “Mari Masuk” bukan hanya berarti seseorang merasa Tuhan Yesus telah masuk dalam hatinya dan merasa telah berdiri di pihak Tuhan dan memiliki keselamatan. Itu merupakan pernyataan agar Tuhan Yesus masuk dalam hati, yang berarti juga adanya usaha keras untuk mengosongkan bejana hati dan mempersilakan Tuhan Yesus memenuhi diri kita dengan pikiran dan perasaan-Nya (Flp. 2:5-7). Pikiran dan perasaan Tuhan terdapat pada kebenaran Firman (logos) yang murni dan suara Tuhan (rhema) melalui pengalaman hidup konkret yang dialami orang percaya. Semakin penuh bejana hati kita dengan kebenaran Firman Tuhan, seiring dengan itu, semakin terbuang semua konsep dan pola berpikir yang tidak sesuai dengan kebenaran. Melalui proses ini, segala keinginan dan cita-cita kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dapat diluruhkan. Proses ini merupakan proses mengalami kematian dari manusia lama kita. 

Memang proses sampai taraf “mati secara permanen” adalah proses yang panjang. Akan tetapi, itu harus dimulai dari sebuah kesediaan. Kesediaan itu adalah kerelaan meninggalkan dunia atau melepaskan diri dari segala milik (Luk. 14:33). Kesediaan yang tulus menunjukkan bahwa seseorang mengasihi Tuhan. Sejak memiliki kesediaan itu, seseorang akan digarap Tuhan. Ia berhak mendapat penggarapan Allah melalui segala keadaan atau peristiwa yang ia alami (Rm. 8:28). Tanpa kesediaan yang tulus atau sikap hati yang mengasihi Tuhan dengan benar, seseorang tidak akan mengalami penggarapan Allah. Hal ini juga berarti proses keselamatan tidak bisa berlangsung dalam kehidupan orang tersebut. Dalam hal ini, respons manusia sangat menentukan, sebab hanya orang-orang yang mengasihi Tuhan yang akan mengalami proses keselamatan sehingga menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Tuhan tidak akan menggarap orang yang tidak menghargai kasih karunia-Nya.

Ajaran mematikan nafsu dan segala keinginan semacam ini juga terdapat dalam berbagai agama. Mereka yang berani melakukan hal ini akan menjadi orang-orang yang unggul luar biasa. Kalau mereka sanggup melakukannya, mengapa kita tidak berani melakukan? Kita bukan hanya mematikan nafsu dan segala keinginan—artinya mengosongkan diri belaka—tetapi kita mengosongkan diri untuk diisi oleh atau dikuasai oleh Roh-Nya, sehingga kita bisa memiliki kepribadian seperti Tuhan Yesus. Suatu hari bila kita berjumpa dengan Bapa, Ia akan menemukan pribadi anak-Nya di dalam diri kita. 

Tantangan terbesar untuk menghidupkan pribadi Tuhan Yesus dalam diri kita adalah diri kita sendiri. Di dalam diri kita, terdapat semacam ‘raksasa’ yang telah lama hidup berdampingan dengan kita. Raksasa ini menunjuk pada nafsu dan segala keinginan dunia yang terbentuk melalui apa yang didengar, dilihat, dan dirasa nikmat sejak kecil. Raksasa itu harus segera dimatikan agar tidak menjadi sosok yang mustahil ditumbangkan. Faktanya, banyak orang sampai taraf dimana raksasa dalam dirinya tidak bisa dimatikan lagi. Mereka adalah orang-orang yang tidak bersedia menyangkal diri, sehingga Bapa tidak dapat menemukan pribadi Anak-Nya dalam diri mereka. Sungguh suatu penyesalan yang besar apabila dalam hidup ini kita tidak pernah menumbangkan raksasa dalam diri kita, kemudian berjumpa dengan Bapa dalam kondisi yang belum berkenan.

Tantangan terbesar untuk menghidupkan pribadi Tuhan Yesus dalam diri kita adalah diri kita sendiri.