Tangisi Dirimu

Saudaraku,

Di beberapa gereja, Jumat Agung biasanya dirayakan dengan air mata, terutama gereja-gereja yang biasa mengeksploitasi perasaan atau meledakkan emosi. Ketika Tuhan Yesus digiring menuju bukit Golgota, wanita-wanita Yerusalem menangisi Dia. Kepada wanita-wanita itu Tuhan Yesus berkata, “jangan menangisi Aku. Tangisi dirimu sendiri dan tangisilah anak-anakmu.” Maksud pernyataan Tuhan Yesus itu adalah:

Pertama, 40 tahun setelah Yesus disalib dan bangkit, Yerusalem dihancurkan oleh Jenderal Titus, yang dikirim Roma untuk menumpas setiap kemungkinan api pemberontakan yang bisa timbul di tengah-tengah bangsa Yahudi, yang biasanya dipelopori oleh kelompok Zelotis. Bait Allah yang dibangun kembali oleh Herodes dihancurkan. Itulah sebabnya, Tuhan kita Yesus Kristus berkata, “tidak ada batu yang terletak di atas batu yang lain,” artinya memang sampai dasar dari Bait Allah pun diupayakan untuk bisa dibongkar. Tuhan mau menunjukkan adanya bahaya besar di depan, dan Tuhan Yesus menubuatkan itu 40 tahun sebelum peristiwa itu berlangsung.

Kedua, Tuhan menunjukkan bahwa apa yang dialami-Nya bukan karena kesalahan. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa apa yang diderita-Nya adalah akibat kesalahan dan dosa manusia. Sangat sedikit orang yang menangisi dirinya sendiri terkait dengan kurban Kristus di kayu salib. Boleh-boleh saja kita menangis dalam keharuan dan sentimentil dalam merayakan Jumat Agung—apalagi kalau disertai dengan tayangan, gambar, film atau video Yesus yang disiksa berdarah-darah, lebih membangkitkan emosi dan perasaan haru. Tetapi faktanya, itu hanya situasional; sesaat. Yang penting adalah bagaimana kita menangisi diri sendiri. Maka, jangan merasa kalau kita sudah menangis dalam keharuan merayakan Jumat Agung atau mengingat kurban Yesus, kita sudah berpartisipasi dan seakan-akan kita ada di pihak Tuhan; seakan-akan kita ada dalam pembelaan bagi Tuhan. Itu kebodohan, Saudara. Tangisi dirimu, lihat keadaanmu, apakah kamu hidup sesuai dengan maksud salib itu diadakan atau tidak.

Salib itu diadakan agar kita hidup, sebab Ia datang untuk memberi hidup. Maksud “hidup” di sini adalah kembali kepada rancangan Allah semula. Allah menghendaki ciptaan yang disebut manusia itu bukan saja segambar, memiliki komponen-komponen yang ada pada Allah, tapi juga memiliki kualitas seperti kualitas Bapa. Artinya, segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itu baru namanya hidup, ya, Saudaraku. Jadi kalau bicara mengenai hidup kekal, itu bukan hanya nanti hidup terus-menerus di surga karena terpaku pada kata “kekal” atau terkait dengan kata “kekal.” Terpisah dari Allah juga kekal, Saudara. Hidup kekal itu bicara soal hidup yang berkualitas.

Dan Allah menciptakan manusia memang demikian kehendak-Nya, demikian rancangan-Nya. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak mencapai itu. Dan Yesus menunjukkan wajah dari manusia yang Allah kehendaki, yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah, mengenakan kodrat ilahi, tidak bercacat dan tidak bercela. Yesus berkurban supaya kita hidup. Supaya kita menjadi seperti Dia, supaya kita memiliki standar seperti Dia.

Saudara,

Sekarang kita memeriksa diri kita sendiri apakah kita ini sudah benar-benar hidup atau belum? Memang semua harus melewati proses. Tetapi bagaimana pun perubahan itu harus kita alami dan sadari. Lalu kita semua harus melihat apa kekurangan, kelemahan kita. Kita ratapi dan kita mau belajar mematikan. Supaya, “hidupku bukan aku lagi tapi Kristus. Aku harus harus mati supaya Yesus hidup di dalam aku.” Jadi ketika kita menangisi diri kita sendiri, kita mau keluar dari pola yang salah, tindakan yang salah. Membawa kematian Yesus berarti kesediaan untuk menerima segala penderitaan demi kepentingan pekerjaan Allah.

Demi kepentingan pekerjaan Allah, maka: yang pertama, daging kita harus dimatikan. Manusia lama kita harus dimatikan. Yang berikutnya, kita rela berbuat apa pun untuk pekerjaan-Nya. Apa pun yang Allah minta, apa pun yang Allah kehendaki, kita berikan.  Dan itu adalah kehormatan. Sebab pada akhirnya ketika kita meninggal dunia, wajah batiniah kita sudah diolah Tuhan. Jadi bukan hanya perbuatan-perbuatan dosa yang sudah kita lakukan, diampuni. Tapi sumber potensi dosa dalam diri kita harus diubah. Ini wajah batiniah yang kekal, yang waktu kita meninggal, itu hasil akhir.

Sebenarnya kita sudah tidak berhak memiliki dirimu sendiri, sebab Tuhan telah menebus kita dengan darah yang mahal. Jadi kalau kita hidup, kita hidup untuk kemuliaan Allah. Yaitu bagaimana kita menjaga mulut, mata, tangan, seluruh tubuh, hati dan pikiran. Jangan berpikir apa yang Tuhan tidak kehendaki untuk kita pikirkan. Jangan ucapkan apa yang Allah tidak kehendaki umtuk kita ucapkan. Jangan lakukan apa yang Allah tidak kehendaki untuk kita lakukan.

Teriring salam dan doa,

Dr. Erastus Sabdono

Sangat sedikit orang yang menangisi dirinya sendiri terkait dengan kurban Kristus di kayu salib.