Tanggung Jawab Menata Kekekalan

Kalau seorang mahasiswa mau lulus ujian, apalagi untuk menjadi juara, maka dia pasti belajar tekun. Apalagi kalau kita mau menjadi orang yang terkemuka di Kerajaan Allah di antara orang-orang yang terkemuka—terkemuka bukan supaya kita mendapat kehormatan dari manusia, tetapi supaya kita dipercayai oleh Allah di dalam Kerajaan kekekalan nanti—maka kita pasti serius. Orang yang serius mau menikmati hari tua tanpa penderitaan, dia sudah mulai merajut dan membangun petanya sejak sekarang dengan pola hidup yang baik, dengan pola makan yang baik. Kalau orang tidak tiap hari memeriksakan diri di hadapan Tuhan, dia tidak peduli pengadilan Tuhan, itu berisiko kematian kekal; terpisahnya manusia dari hadirat Allah. Jelas, orang yang tidak memedulikan pengadilan, pasti tidak mempersiapkan diri di hadapan penghakiman Allah. Kalaupun jadi Kristen lalu mau jadi orang baik, tidak serius memeriksa diri. 

Semua kita manusia berdosa. Tapi jangan berbuat dosa lagi. Jangan berbuat salah lagi. Orang yang tidak peduli pengadilan Tuhan, berisiko kematian kekal; terpisahnya dari hadirat Allah selamanya. Orang yang tidak peduli pengadilan, pasti tidak mempersiapkan diri di hadapan Allah. Kiranya kita memperhatikan hal ini, menyadari betapa pentingnya memperkarakan hidup kita di hadapan Tuhan setiap hari. Pertanyakan kepada diri kita masing-masing, “Seberapa saya serius dengan Tuhan?” Kalau tidak benar-benar ekstrem serius, bagaimana kita bisa menularkan keseriusan dengan Tuhan kepada sesama; terutama kepada keluarga inti dan keluarga besar. Kita menyongsong kekekalan. Kalau dari muda sudah diajar memperkarakan pengadilan Tuhan, makin hari mereka akan makin kuat. Dan sebaliknya, kalau dari muda sudah tidak pernah memperkarakan pengadilan, mereka jadi rusak. Dan hari ini, hampir semua orang tidak memperkarakan pengadilan Tuhan. Termasuk sebagian besar mereka yang mengaku sebagai anak-anak Allah, karena mereka sudah terpengaruhi dan tergarami dengan penggaraman yang salah dari dunia sekitar. 

Di dalam pengadilan Tuhan, Allah menuntut pertanggungan jawab setiap individu, apa yang telah dilakukannya dalam mengisi hidupnya di bumi. Ingat, kita tidak dapat menghindarkan diri dari pengadilan di hadapan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan di dalam Ibrani 4:13, “Sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Allah, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Makanya, sebelum kita diperhadapkan di pengadilan Tuhan, kita sudah membuat pengadilan terhadap diri kita sendiri. Dan kalau bersalah, kita merasa terhukum. Kita menghukum diri sendiri. Dan sebenarnya itu otomatis. Orang yang memiliki nurani dan mengembangkannya, maka ketika berbuat salah, ia akan dapat merasakannya.  Dan jangan kita lupa bahwa di dalam pengadilan Tuhan, Tuhan tidak menerima alasan apa pun. Salah adalah salah. Jadi, jangan kita membuat alasan apa pun

Pengadilan di hadapan Tuhan itu harus dihadapi oleh setiap individu, dan kita tidak tahu kapan terjadi hari itu. Harus selalu diingat bahwa hukuman kematian atas manusia bisa terjadi kapan saja. Makanya jauh-jauh hari kita sudah berkata, “Aku memerlukan-Mu, Tuhan. Hanya Engkau yang kuperlu. Ubah hidupku agar aku memberkati orang-orang yang kucintai.” Setiap hari kita harus memperhatikan hidup kita di hadapan Allah, seakan-akan ada di hadapan pengadilan-Nya. Dan seiring berjalannya waktu pada saat kita membereskan diri di hadapan Tuhan, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: yang pertama, ada pencobaan. Yang kedua, Tuhan mau kita bertumbuh. Jadi di hadapan pengadilan Tuhan, Tuhan bukan hanya memperkarakan kita berbuat dosa atau tidak, tetapi apakah kita bertumbuh atau tidak. Apakah umur rohani kita sesuai dengan kedewasaan umur biologis kita? Sebab kalau kita masih punya perjalanan waktu, berarti harus belajar, bertumbuh dewasa, makin sempurna. Supaya ketika bertemu dengan Tuhan, Tuhan menemukan wajah Yesus di dalam hidup kita. 

Dalam perjalanan waktu, Tuhan mengizinkan ada pencobaan-pencobaan, yang mana bertujuan untuk: satu, membuktikan kesetiaan dan cinta kita kepada Tuhan; kedua, mendewasakan kita. Jadi, hari ini mari membawa diri kita di hadapan Tuhan. Namun jangan berkata, “Saya sudah lahir baru kok tahun 2002.” Lalu, setelah itu apa? “Ya, sudah.” Tuhan menuntut kita untuk bertumbuh. Paulus pun punya rasa kegentaran yang ditulisnya dalam 2 Korintus 5:9-10, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam dalam tubuh ini maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan apa yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 

Jadi, perkarakan hal ini, apa yang telah kita lakukan dengan hidup ini? Seberapa banyak investasi kita untuk kekekalan? Seberapa kedewasaan rohani yang kita capai? Seberapa banyak kita berdampak untuk orang lain dan berguna bagi Kerajaan Bapa?” Jadi, umur makin panjang, tanggung jawabnya makin besar. Banyak orang bangga dengan umur panjang, tapi mereka tidak memperkarakan tanggung jawabnya dalam menata kekekalan. Ironis! 

Banyak orang bangga dengan umur panjang, tapi mereka tidak memperkarakan tanggung jawabnya dalam menata kekekalan.