Tanggung Jawab Membangun Diri

Kalau kita tidak semakin seperti Tuhan Yesus, kita tidak mungkin merindukan Dia. Ketika kita memiliki sifat-sifat yang semakin seperti Allah, kita seperti ditarik, maka baru kita sadar bahwa “dunia bukan rumahku.” Kita baru mengerti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Kamu bukan dari dunia ini.” Itulah sebabnya seseorang tidak bisa memaksa diri merindukan Tuhan, tidak bisa memaksa diri menghayati dunia bukan rumahnya kalau sifat-sifatnya masih sifat-sifat dunia. Manusia dapat memiliki sifat-sifat Allah, tetapi tidak otomatis. Maka, manusia bertanggung jawab untuk membangun dirinya. Dan sejak manusia diciptakan, ia sudah memiliki tanggung jawab itu. Sebab kalau kita tidak berjuang untuk memiliki sifat-sifat Allah, kita akan memiliki sifat-sifat yang lain. Agama mengajarkan hukum; kekristenan mengajarkan perubahan kodrat. Itulah sebabnya Allah menciptakan manusia segambar dengan diri-Nya. Tetapi keserupaan dengan Allah—artinya sifat-sifat seperti Allah—menjadi tanggung jawab manusia itu. Tentu untuk memiliki sifat-sifat Allah, manusia tidak bisa mengusahakannya sendiri. Roh Kudus akan memimpin.

Dalam Kejadian 1:27 dikatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Allah menciptakan manusia tanpa bahan, artinya idenya dari Allah. Bara; menciptakan gambar (Ibr. tselem). Tetapi rupa (Ibr. demuth)—yang memuat sifat-sifat Allah—harus diusahakan oleh manusia itu sendiri; tentu dalam pimpinan Allah. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, artinya Allah menaruh jiwa, pikiran, dan perasaan di dalam manusia—sama seperti Allah sendiri yang juga punya pikiran dan perasaan. Tetapi kualitas dari pikiran, perasaannya diusahakan oleh manusia itu sendiri, dalam pimpinan Allah. Ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan. Tapi kepada Allah, apa yang wajib kamu berikan.” Apa yang wajib diberikan kepada kaisar? Uang dinar. Kenapa? Karena di uang dinar itu ada tulisan dan gambar kaisar. Lalu apa yang harus diberikan kepada Allah? Sesuatu yang ada gambar dan tulisan Allah. Manusia inilah yang ada tulisan, ada ukiran gambar Allah (Ibr. tselem).

Jadi, kualitas batiniah kita tergantung diri kita masing-masing. Itu tatanan sejak semula. Desain awal, memang manusia harus bertanggung jawab. Maka, harus tahu tiga kata yang berarti mencipta, yaitu: yang pertama, bara (Kej. 1:27, menciptakan tanpa bahan). Yang bisa menciptakan jiwa—dimana ada pikiran, perasaan—hanya Allah yang bisa; tidak ada yang bisa. Kata kedua, yatsar, yang artinya “membentuk” (Kej. 2:7). Yang ketiga, asah. Seperti yang kita dapati dalam Yeremia 18:4, tukang periuk yang membentuk tanah liat. Jadi, sejak semula Allah memang mendesain manusia untuk membangun dirinya sendiri. Allah memberi jiwa, dimana terdapat pikiran dan perasaan. Tapi kualitasnya, tergantung manusia itu sendiri. Manusia sudah jatuh dalam dosa, rusak. Matius 9:12 mengatakan, “Yesus mendengarnya dan berkata: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.’” Namun betapa celaka orang yang tidak sadar dirinya sakit. 

Iblis membuat banyak mainan, kesenangan, persoalan, pergumulan, sehingga manusia gagal fokus dan tidak lihat dirinya. Banyak wanita “sakit” karena belum punya jodoh. Banyak pasangan suami istri “sakit” karena merasa belum punya keturunan. Ada banyak orang “sakit” karena belum punya mobil, rumah, dan lain-lain. Merasa “sakit” karena hal itu. Salah. Dan orang seperti ini pasti tidak mencari Tuhan. Kita sakit karena kita tidak segambar dengan Allah.

Diperlukan perubahan. Dan ini tergantung kita masing-masing; mau berobat atau tidak. Kenali di mana sakitmu, Tuhan sembuhkan. Kita tidak bisa datang ke dokter lalu berkata, “Dok, saya sakit apa?” Justru dokter yang akan bertanya apa yang kita keluhkan. Sakit batin kita juga begitu. Selidiki dan ketahui yang mana, maka Tuhan akan menggarapnya. Namun, kita juga harus ikut membereskan. Kalau penyakit jasmani kita disembuhkan dengan obat, maka manusia batiniah kita dipulihkan dengan Firman, doa, persekutuan dengan Tuhan setiap saat, serta melalui peristiwa-peristiwa hidup yang terjadi, sehingga kita akan memiliki kecerdasan roh dimana kita bisa membedakan apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. 

Allah dari mulanya tidak membuat hukum karena Allahlah hukumnya. Memiliki kodrat ilahi bukan berarti kita menjadi manusia yang menyamai Allah. Tidak akan pernah bisa. Tetapi kita bisa memiliki karakter seperti Pencipta kita, karena memang Dia adalah Bapa kita. Itulah sebabnya, 1 Timotius 6:11 mengatakan, “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” Orang percaya disebut sebagai man of God; ho anthrope Theou (ὦ ἄνθρωπε ἄνθρωπε) karena kita punya sifat-sifat, karakter Bapa. Memiliki karakter Bapa adalah suatu kehormatan bagi kita.

Manusia bertanggung jawab untuk membangun dirinya untuk dapat memiliki sifat-sifat Ilahi.