Suara Nurani

Ketika seseorang bertumbuh mengenal kebenaran secara memadai atau dalam level tertentu dan bersungguh-sungguh untuk melakukan keinginan Allah, maka dalam proses untuk melakukan kehendak Allah tersebut, ia dapat mendengar suara Allah di dalam dirinya melalui nuraninya. Suara itu adalah nurani yang telah menerima bimbingan Roh Kudus untuk mengerti kehendak Allah. Suara itu akan semakin akrab dan menyatu dalam dirinya, sehingga dapat mengarahkan kehidupan kepada kehendak Allah yang sempurna. Suara nurani seseorang yang dipenuhi Firman kebenaran dapat menjadi suara yang seirama dengan suara Tuhan, sehingga Firman Tuhan dapat digenapi bahwa “roh manusia adalah pelita Tuhan.” Menjadi pelita artinya selain mengoreksi, juga memberi petunjuk.

Jika orang percaya terus bertumbuh dalam kebenaran sehingga semakin cerdas, maka nuraninya dengan mudah mendeteksi kalau ada suara yang tidak senada dengan kebenaran atau tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalau seseorang tidak memahami kebenaran secara memadai—karena tidak bertumbuh dalam kebenaran—maka ia tidak akan dapat mendengar suara Tuhan atau tidak memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan. Sebaliknya, ia mendengar suara lain yang disangkanya suara Tuhan. Dalam hal ini, banyak orang Kristen dalam kebodohannya menganggap suara yang bukan dari Allah dianggap sebagai suara dari Allah atau dianggap tidak menyalahi kekudusan Allah, padahal semua itu suara dari dunia yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Suara yang tidak sesuai dengan kebenaran mengarahkan seseorang pada kehidupan yang semakin jauh dari kesempurnaan.

Hati nurani atau suara hati lebih bersifat subjektif, maksudnya bahwa hati nurani kita sangat dipengaruhi oleh “diri sendiri” (yaitu yang menurut “aku” baik atau buruk). Suara hati mencerminkan segala pengertian dan prasangka masing-masing individu, sehingga jelas merupakan “sesuatu yang bersumber pada diri sendiri.” Dalam hal ini, kita tidak boleh mengidentifikasikan dan mengidentikkan hati nurani dengan suara Allah. Walaupun hati nurani tidak dapat diidentikkan dan tidak boleh diidentifikasikan sebagai suara Allah, tetapi hati nurani berhubungan dengan “yang Ilahi,” sebab komponen itu memang dari Allah dan diharapkan dapat sewarna dengan Allah, sehingga subjektivitasnya dapat dipercaya karena seirama dengan Allah. Sampai pada level ini, hati nurani manusia dapat menjadi pelita Tuhan.

Kalau hati nurani digarap dengan benar, maka menjadi hati nurani yang sewarna dengan Allah, ini disebut sebagai nurani Ilahi. Tetapi kalau tidak digarap dengan baik, maka yang baik menjadi jahat. Orang yang memiliki hati nurani yang berkelas “Ilahi” tidak membutuhkan hukum atau peraturan untuk memiliki kelakuan yang baik. Tidak perlu diancam hukuman untuk melakukan hukum, sebab ada “polisi” di dalam dirinya sendiri (Rm. 2:15). Kalaupun seseorang berbuat baik, bukan hanya karena ancaman neraka, tetapi hati nuraninya memang terbentuk demikian, yaitu tidak bisa berbuat salah. Dalam Roma 13:5 Paulus menulis, “Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.”

Oleh karena hati nurani belum tentu bisa mewakili suara Allah, maka hati nurani belum tentu dapat selalu dipercaya. Dengan demikian, hati nurani harus tunduk pada otoritas Firman Allah dan pengadilan Allah. Bagi orang pilihan Allah yang direncanakan Allah untuk sempurna, kita harus selalu mempertimbangkan kemungkinan kesalahan pada suara hati nurani. Menyadari hal ini, orang percaya tidak boleh berhenti dalam memperbaharui pikiran dan hatinya sampai makin memiliki pengertian seperti pengertian Allah. Sehingga, suara hati dapat mewakili suara Allah dan segala pertimbangan serta keputusannya, sesuai dengan yang Allah inginkan. Ini barulah dapat dikatakan “tidak meleset.” Keberadaan hati nurani yang murni ini membuat seseorang memiliki beban yang tulus terhadap keselamatan jiwa orang lain. Seperti Tuhan juga tidak menghendaki seorang pun binasa, Ia akan rela mengorbankan apa pun demi keselamatan jiwa orang lain (Rm. 9:1-3). Hati nurani yang terbeban bagi keselamatan jiwa orang lain ini, berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ia rela kebebasannya terampas demi menjadi berkat bagi sesama (1Kor. 10:25-29). 

Suara nurani seseorang yang dipenuhi Firman kebenaran dapat menjadi suara yang seirama dengan suara Tuhan