Skip to content

Standar Kualitas Batin

Apakah kita dapat mengetahui sejauh mana kita sudah serupa dengan Yesus, atau sejauh mana prestasi dari keadaan pertumbuhan ketidaksempurnaan kita? Mestinya bisa, karena Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Maksudnya, Roh Kudus mengajarkan kebenaran yang terkait dengan hidup kita masing-masing, dan sejauh mana kita telah melakukan kebenaran itu. Yesus berkata: “Akulah kebenaran.” Jadi, kalau kita mengenal kebenaran, berarti kita mengenal apa yang Allah Bapa kehendaki, yang pernah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Apa artinya pengetahuan mengenai kebenaran, pengetahuan mengenai Tuhan, jika tidak kita peragakan? Kebenaran bukan hanya untuk pengetahuan semata-mata. Kebenaran yang murni pasti mendesak untuk diperagakan. Dan itu bisa terjadi kalau Roh Kudus menuntun kita. Kalau tidak ada petunjuk sama sekali untuk mengetahui sudah seberapa kita serupa dengan Yesus, maka jika kita tidak serupa, kita tidak bisa disalahkan. Tetapi kalau hal serupa dengan Yesus bisa kita ketahui dalam hidup kita namun kita tidak berusaha untuk mengenali dan menggumulinya, maka kita bersalah.

Di dalam Wahyu 2:23 firman Tuhan mengatakan, “Aku yang menguji batin.” Pernahkah kita mempersoalkan apa ukuran Tuhan Yesus dalam menguji batin? Tentu ukuran atau standarnya adalah diri Yesus sendiri, yaitu apakah orang percaya mengikuti jejak-Nya dan memiliki kualitas manusia batiniah seperti Dia. Allah adalah Allah yang tertib. Allah memberikan ukuran untuk ciptaan-Nya; terukur. Allah terukur dalam melakukan suatu tindakan, walaupun tentu kita tidak bisa mengukur Allah. Kehidupan orang percaya pasti juga memiliki standar; standar manusia Kerajaan Allah atau standar anak Allah. Itulah sebabnya dikatakan di dalam firman Tuhan bahwa suatu hari nanti kita akan menghadap takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:9-10). Hal ini menunjukkan atau mengisyaratkan bahwa Yesuslah yang akan menghakimi kita, karena Yesus telah mati di kayu salib, menebus kita, dan memiliki kita. Dia berhak menghakimi kita. Dia sudah lulus sebagai manusia yang sempurna. Dia menang, sehingga diri-Nya menjadi standar atau ukuran. Yang pasti akan dipersoalkan adalah apakah kita mengikuti Dia atau mengikuti jejak-Nya atau meneladani hidup-Nya.

“Yesus menguji batin,” artinya Yesus memeriksa apakah kita memiliki keadaan batin seperti diri-Nya. Dan ketika setiap orang percaya menghadap takhta pengadilan Kristus, kita tidak bisa berkata: “Saya tidak bisa seperti Engkau, Yesus, sebab Engkau berbeda dengan manusia pada umumnya.” Ibrani 2:17 mengatakan, “dalam segala hal, Dia disamakan.” Jadi tidak ada orang yang nanti bisa beralasan tidak bisa ikut Yesus, tidak bisa meneladani Yesus karena Yesus manusia istimewa. Yesus mengatakan: “Ikutlah Aku,” itu berarti kita bisa mengikut jejak-Nya. Jangan dipelintir, dinaifkan, disempitkan dengan pengertian “yang penting jadi Kristen, itu berarti mengikut Yesus.” Bukan. Ikut Yesus berarti mengikut jejak-Nya; berpikir seperti Yesus berpikir. Terkait dengan hal ini, firman Tuhan mengajarkan kepada kita agar kita selalu mengalami pembaharuan pikiran, agar kita bisa mengerti kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm. 12:1-2). Hal ini sebenarnya sama maksudnya dengan mengetahui bahwa kita sudah memiliki pikiran, perasaan Kristus, atau belum; mengerti apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Tentu melalui proses. Maka Ibrani 5:7-9 mengatakan bahwa “Yesus belajar taat dari apa yang diderita-Nya.”

Ada proses, perjuangan, pergumulan sampai Ia mencapai kesempurnaan dan menjadi pokok keselamatan. Artinya, menjadi teladan, contoh yang harus dipatuhi. Agar proses ini berlangsung dengan baik, harus ada mekanismenya. Di dalam Roma 12:1 dikatakan, “Persembahkan tubuhmu sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu ibadahmu yang sejati.” Kalau dalam teks aslinya, kata “ibadah” ini latreia, kata kerjanya latreuo, artinya pelayanan. Ini pelayanan yang sungguh, yang benar. Jadi, bukan aktif dalam kegiatan gereja, menjadi aktivis atau pendeta. Kita baru bisa dikatakan melayani apabila kita tidak menyisakan apa pun yang kita miliki, dan mempersembahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Kita harus punya komitmen untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya bagi Tuhan. Dan setelah itu, kita bisa diproses untuk menjadi serupa dengan Dia.

“Yesus menguji batin,” artinya Yesus memeriksa apakah kita memiliki keadaan batin seperti diri-Nya, karena itulah standar kualitas batin kita.