Sisa Satu Peringatan

Kalau sekarang kita masih hidup, masih ada kesempatan, bisa jadi ini tinggal satu sisa peringatan. Sangat berbahaya apabila kita tidak menanggapi satu peringatan terakhir ini. Biarlah kita seperti orang yang kebakaran jenggot. “Kebakaran jenggot” menunjuk orang yang panik oleh sesuatu hal, namun juga bisa berarti orang yang bingung memberi jawab apa. Banyak hal yang bisa membuat kita panik. Orang yang panik akan mencoba mencari solusi untuk menyelesaikan penyebab kepanikannya itu. Banyak sumber yang membuat orang merasa dan mengalami kepanikan. Pertanyaan yang harus kita kemukakan kepada diri kita masing-masing saat ini adalah apa yang membuat saya panik? Kita harus dalam posisi kebakaran jenggot terkait dengan keadaan kita di hadapan kesucian Allah. Kalau kita ada di hadapan kekudusan Allah, apakah kita tahan berdiri dan siap? Seperti seorang yang diberi kepercayaan mengerjakan sesuatu oleh seorang majikan atau tuan, lalu tiba-tiba majikan datang. Kalau dia tidak mengerjakan pekerjaan itu dengan baik, dia akan menjadi panik. Tetapi kepanikannya sia-sia, karena ia sudah tidak bisa menyelesaikan tugas yang harus diselesaikannya.

Di Matius 25:1, Tuhan Yesus mengemukakan perumpamaan mengenai lima gadis yang bodoh dan lima gadis yang bijaksana. Di ayat yang ke-6, tertulis: “waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!” Baik lima gadis yang bodoh dan bijaksana, bangun. Ternyata lima gadis yang bodoh, pelitanya padam karena mereka kehabisan minyak. Mereka panik. Mereka coba meminta minyak kepada lima gadis bijaksana yang memiliki persediaan minyak. Tetapi lima gadis yang bijaksana mengatakan, “tidak cukup untuk aku dan kamu. Pergilah kamu ke tukang minyak, dan belilah.” Lima gadis yang bodoh pergi mencari minyak, dan ketika datang kembali, pintu sudah ditutup. Pertanyaannya adalah mengapa paniknya tidak jauh-jauh hari? Mengapa tidak “kebakaran jenggot” jauh-jauh hari?

Di dalam Wahyu 3:20-21, Tuhan Yesus berkata, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk. Jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” Selama ini, ayat-ayat ini digunakan untuk menantang orang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dimana “pintu” yang tertulis di ayat ini digambarkan atau dipahami sebagai hati manusia. Tetapi kalau kita melihat konteksnya, ini adalah jemaat Tuhan; jemaat yang sudah memiliki Yesus, jemaat terakhir yang menerima surat dari Yesus. Ini bisa menunjuk jemaat akhir zaman. “Pintu yang diketuk” itu bukanlah pintu hati. Ini bukan bicara mengenai orang Kristen baru yang belum menerima Yesus. Ini jemaat Tuhan yang suam-suam, jemaat yang tidak siap menyambut kedatangan Tuhan. “Pintu yang diketuk” itu maksudnya pintu dunia ini. Maka Tuhan Yesus berkata, “Aku akan masuk mendapatkannya, dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia dan ia bersama-sama dengan Aku.” Dalam ayat-ayat Alkitab, kita menemukan kalimat bahwa kita akan makan dan minum bersama-sama Tuhan. Jadi “pintu” yang dimaksud itu pintu dunia.

Dalam kehidupan ini, Tuhan berbicara kepada kita masing-masing melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk berbicara kepada kita, menasihati kita agar kita dewasa, sempurna, dan layak menjadi anak-anak Allah yang dimuliakan bersama Yesus. Atau, kalau kita mengacu pada Wahyu 3 tadi, supaya kita bisa menang dan didudukkan di takhta bersama Tuhan Yesus. Kita harus memiliki kepekaan dan kita harus bertanya kepada Roh Kudus, apa maksud Allah mengizinkan peristiwa-peristiwa itu terjadi dalam hidup kita. Jadi kalau kita menghadapi masalah, yang kita persoalkan bukan “mengapa hal ini terjadi” dengan mencari penyebab atau kambing hitam yang bisa dipersalahkan. Tetapi kita bertanya, “apa yang Tuhan mau garap dalam hidupku? Apa yang Tuhan mau ubah dalam hidupku melalui persoalan ini?” Kita harus benar-benar menemukan maksud Tuhan melalui peristiwa-peristiwa tersebut, supaya kita memperoleh dampak positif untuk hidup kekal kita. Karena pasti orientasi Allah mengizinkan peristiwa-peristiwa itu terjadi agar kita serupa dengan Yesus. Roma 8:28-29, “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia, agar serupa dengan Yesus.” Yesus adalah model dari manusia yang Allah kehendaki.

Allah mau memurnikan kita melalui berbagai masalah dan mempersiapkan kita untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Jadi, jangan mencari kambing hitam, jangan mempersalahkan siapa-siapa. Persoalan bukanlah isyarat kekalahan. Persoalan hidup adalah isyarat kemenangan, jika kita merespons masalah itu dengan baik. Roh Kudus pasti menolong. Ada seribu satu masalah yang kita hadapi. Temukan masalah-masalah dalam hidup kita, dan temukan maksud Tuhan di balik masalah-masalah tersebut. Tidak ada kemenangan tanpa persoalan. Justru kemenangan bisa kita peroleh ketika kita dimasukkan dalam pergumulan. Kita tidak bisa menang terhadap perasaan egois, perasaan mau menang sendiri, kecenderungan benci dan dendam kepada orang, kalau tidak menghadapi masalah kita disakiti. Masalah itu ternyata mau memberikan kita hadiah, yang namanya “kemenangan.” Jadi, bersyukurlah dengan masalah-masalah itu. Karena masalah-masalah itu merupakan cara Tuhan untuk memberikan kita piala kemenangan

Kalau sekarang kita masih hidup, masih ada kesempatan, bisa jadi ini tinggal satu sisa peringatan. Kalau peringatan ini tidak kita pergunakan dengan baik, kita bisa tidak punya kesempatan lagi.