Setia

Saudaraku,

Kata iman atau percaya sudah biasa kita dengar dan kita ucapkan. Iman percaya tidak hanya menaruh keyakinan terhadap Allah secara pikiran, tetapi iman atau percaya itu menaruh hidup kita kepada Tuhan dalam perilaku, tindakan, dan perbuatan. Itulah sebabnya Yakobus berkata, “Iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh.” Kesetiaan kita menentukan kualitas iman dan pertumbuhan iman kita. Dewasa ini banyak orang tidak setia. Tidak memiliki integritas, karena memang tidak bersedia untuk bertekun. Ketika kita sungguh-sungguh mau menjadi anak-anak Allah yang berkenan di hadapan Allah, kita mulai belajar kebenaran Firman Tuhan, kita mulai belajar hidup benar, jujur, tidak menyentuh apa yang salah. Namun keadaan kita ternyata seakan-akan tidak berbeda dengan mereka yang tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ini yang bisa membuat kita kemudian menjadi kendor. Lalu kita melihat selingan, dan tidak jarang yang menyimpang, sampai terjebak dalam kesenangan-kesenangan dunia. 

Seperti misalnya, program Doa Pagi pada pkl.05.00 WIB. Kita bangun pagi-pagi dalam perjuangan melawan kantuk dan lelah agar dapat ikut Doa Pagi. Tetapi, rasanya kok sama dengan waktu kita belum bangun pagi dan berdoa; keadaan kita seperti tidak berubah. Dan Tuhan seperti diam. Sudah bangun pagi, sudah berdoa, kita sudah meninggalkan selimut, tetapi kok sama saja?! Nah, ini yang membuat orang berkata, “Ah percuma doa pagi, tidak ada bedanya. Mending gak usah doa.” Atau bagi orang yang tidak yakin doa pagi ini bermanfaat, maka mereka beralasan: “Maaf deh pak, kalau buat apa saja saya mau, tapi kalau buat doa pagi saya gak bisa. Soalnya saya gak bisa nangin pagi.” Ya, kalau doa pagi saja tidak bisa, jangan bilang bisa buat apa saja untuk Tuhan. Namun tentu bagi Saudara yang harus kerja sampai larut malam, bisa dimengerti jika Saudara tidak bisa bangun pagi. Tetapi kalau Saudara bisa, tetapi tidak mau melakukan, maka suatu hari nanti Saudara akan menyesal. 

Saudaraku, 

Kita melakukan semua ini di hadapan Allah, kita menyanyi, menyembah bagi Bapa di surga. Jangan berkata, “yang penting hati kita.” Memang hati kita penting, tetapi sikap hati pasti terekspresi dalam gerak tubuh, perilaku kita sehari-hari; termasuk ketika kita menyanyi dan menyembah dalam doa. Kita menyanyi dengan sungguh-sungguh karena kita ada di hadapan-Nya. Jangan “haleluyah, haleluyah” tanpa mengerti arti dan menghidupinya. Konsistensi dan integritas kita di hadapan Elohim Yahweh adalah “haleluya” yang sesungguhnya

Karenanya kita harus punya integritas, konsistensi. Walaupun tugas saya sangat banyak—menulis buku renungan bulanan, persiapan seminar, khutbah, mengajar dan lainnya—tetapi saya melakukan ini karena saya tahu ini menguntungkan. Kita mencari wajah Allah itu tidak mudah, bisa menghayati Allah yang hidup, Allah yang nyata itu tidak mudah. Kalau orang berkata mudah, berarti dia belum belajar untuk menemukan Allah secara benar. Menemukan Allah secara nyata itu bukan hal yang mudah; Dia tidak kelihatan. Kalau bangsa Israel melihat langsung kehadiran fisik Allah dalam bentuk berbagai manifestasi, tetapi kita ini tidak. Tetapi di sinilah kesetiaan kita diuji. 

Kita belum seperti orang-orang Kristen abad mula-mula yang teraniaya, dimana seakan-akan Allah diam meninggalkan mereka. Kita ini belum mengalami penderitaan hebat seperti orang-orang Kristen perdana. Jadi kalau sekarang kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, kita hidup suci, kita berkorban—namun seakan-akan Allah seperti tidak peduli—kita harus belajar percaya di situ. Kita belajar mempertajam iman kita. Kita diuji: “Apakah kita menaruh percaya kita kepada-Nya, bukan hanya keyakinan di dalam pikiran, tetapi penyerahan diri dalam tindakan dan perbuatan?” seharsnya kita bisa berkata, “Aku percaya WALAU keadaan tidak menunjukkan seakan-akan Engkau tidak peduli kepadaku.” Seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego yang dapat berkata, “Sekali pun Allah tidak menolong, tetapi kami tetap tidak menyembah patung dewa.” Patung yang didirikan di lembah Dura oleh Nebukadnezar. Ini baru namanya percaya yang tak bersyarat. Dan mestinya kita memiliki keyakinan seperti itu. Setialah, Saudara harus setia!

Pokoknya kita harus sangat ekstrem mencari Allah. Sampai kita bisa merasakan bahwa kita menemukan Allah. Sejatinya, banyak orang itu belum menemukan Allah. Semua masih fantasi di atas kertas. Berdoa pun hanya kepada Allah yang ada dalam pikirannya, atau di atas kertas, dia belum kontak langsung dengan Allah. Namun, mari kita belajar untuk mengalami Allah yang riil itu.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Kesetiaan kita menentukan kualitas iman dan pertumbuhan iman kita.