Semakin Sukar Melepaskan

Satu pertanyaan yang penting untuk kita renungkan: barang atau bagian apa dalam diri kita yang kita pandang paling berharga; uang atau harta, nama baik, harga diri, keluarga (anak, pasangan hidup), binatang peliharaan, lukisan, atau barang antik bagi yang menyukai barang seni, dan atau yang lainnya? Renungkan dengan serius. Seberapa puas kita menikmatinya? Berapa lama kita akan dapat menikmatinya? Kemudian, apa dampak atau akibat memiliki dan menikmati hal tersebut? Pertanyaan ini menggiring kita berpikir sehat, cerdas, dan rohani. Pertanyaan ini bisa dianggap mengganggu kebahagiaan hidup kita, atau sebaliknya, bisa menyempurnakan kebahagiaan hidup kita. Mengganggu berarti mengurangi perasaan bahagia atau mengganggu kesenangan, karena diingatkan bahwa suatu saat apa yang kita miliki akan kita lepaskan. Dan ternyata, segala sesuatu yang kita miliki kalau tidak dikelola dengan benar, tidak membawa akibat apa-apa dalam kekekalan, bahkan bisa membinasakan kita. Seperti api, ia bisa menjadi teman atau lawan. 

Semua hal bisa menjadi kebahagiaan kita, apabila kita menyadari bahwa segala sesuatu itu dipercayakan kepada kita untuk dinikmati walaupun sesaat, dan kita gunakan untuk melayani Sang Maharaja, guna membawa akibat kekal. Kita bersyukur karena segala sesuatu yang dianggap berharga tidak selamanya menguasai kita. Harus diakui, semakin banyak kita merasa memiliki sesuatu, semakin berat dan sukar kita melepaskannya. Hal ini tentu tergantung sikap hati. Ada orang yang memiliki sedikit, tetapi juga sukar melepaskannya, karena menganggapnya banyak. Akan tetapi logikanya, semakin orang memiliki banyak, semakin sukar ia melepaskannya, sebab semakin sakit ia melepaskannya. Inilah yang dimaksudkan Tuhan Yesus: “lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga.” Dalam hal ini, Paulus mengingatkan agar kita tidak berharap kepada sesuatu yang tidak pasti. Inilah tipu muslihat Iblis untuk membinasakan manusia. Iblis membuat manusia terikat begitu rupa dengan segala sesuatu yang bukan Tuhan. Inilah yang disebut Alkitab dengan percintaan dunia. 

Tuhan Yesus tidak akan pernah sembrono dalam ucapan-Nya. Ketika Ia berkata bahwa “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan,” itu mengandung tuntutan dan tantangan yang tidak boleh dianggap sepele. Dalam pernyataan ini, Tuhan Yesus menantang kita untuk berdiri di pihak siapa dan hidup untuk kepentingan siapa. Seseorang tidak boleh ada dalam kelompok massa yang mengambang. Massa yang mengambang adalah mereka yang tidak memiliki niat untuk memilih atau mengambil keputusan. Kalau hanya menjadi Kristen dan menjadi aktivis, seseorang belum tentu termasuk kelompok pemilih aktif

Banyak orang Kristen yang merasa sudah memilih Tuhan, padahal mereka belum berdiri di pihak Tuhan. Kalau seorang pelayan jemaat atau aktivis menjadikan gereja sebagai bisnisnya pribadi, ia tidak akan bisa berkata tegas kepada umat, sebab hal itu bisa mengganggu mata pencahariannya. Dengan gampangnya ia mengesankan bahwa semua yang sudah ke gereja—apalagi yang mendukung kegiatan gereja—berarti sudah di pihak Tuhan. Baginya, yang penting menguntungkan pelayanan gerejawi. Ia juga tidak akan mengarahkan jemaat sungguh-sungguh untuk hidup sebagai pengikut Kristus yang sejati, sebab dirinya sendiri juga belum menjadi pengikut Kristus yang sejati. Mereka belum mengerti kepentingan Tuhan. Hal ini pun dipandang wajar oleh jemaat yang digembalakan karena membuat hidup mereka nyaman. Oleh karenanya, benarlah apa yang dikatakan Paulus dalam 2 Timotius 4:3 “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Untuk mereka ini, pada bagian lain, Paulus menyatakan: Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Flp. 3:19).

Tidak ada suatu kebutuhan, kecuali kebutuhan tersebut berguna bagi kepentingan pelayanan pekerjaan Tuhan. Cara hidup seperti ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan, sebab standar hidup yang dimiliki manusia pada umumnya adalah hidup untuk kepentingannya sendiri. Hidup untuk diri sendiri dianggap sebagai nilai umum yang tidak menyalahi kesantunan hidup. Hal itu memang tidak menyalahi kesantunan hidup di mata manusia, tetapi tidak memenuhi standar sebagai anak tebusan. Sebagai anak tebusan, seseorang harus hidup sepenuhnya bagi majikan yang menebusnya. Sebenarnya, merupakan suatu kehormatan kalau kita hidup sepenuhnya bagi Sang Maharaja, Tuhan Yesus.

Semakin banyak kita merasa memiliki sesuatu, semakin berat dan sukar kita melepaskannya.