Sebuah Keindahan

Ada dua aspek kehidupan yang harus kita mengerti dan terima, yaitu: pertama, kita harus menerima realitas bahwa kita hidup di dunia yang sudah jatuh, dunia yang sudah rusak, dunia yang sudah terhukum atau terkutuk. Maka, jangan berharap kita tidak mengalami apa yang dialami oleh manusia lain. Kita harus berpikir realistis dan menerima kenyataan bahwa kita juga bisa mengalami hal-hal yang juga dialami oleh orang-orang di luar orang percaya. Kenyataan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia, termasuk hidup kita. Jadi, jangan memandang itu sebagai hal yang sial, bencana, kutuk atau hukuman.

Kedua, ada Allah yang hidup, Allah yang hadir di dalam hidup kita. Di dalam hidup manusia secara umum, Allah menjaga tatanan dan memelihara kehidupan. Dalam hidup kita secara khusus, Allah mengemas semua peristiwa yang terjadi. Termasuk kesulitan dan penderitaan yang kita alami, kesulitan yang kita alami seperti yang dialami manusia lain, yang melaluinya Bapa mempersiapkan kita untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan. Oleh sebab itu, kita harus melihat dan bisa menemukan kawasan Ilahi seperti yang Henokh alami yang ditulis dalam Kejadian 5:24, “Henokh bergaul dengan Allah kemudian Henokh diangkat.” Allah mau tinggal bersama-sama dengan kekasih-Nya ini; sampai Henokh diangkat hidup-hidup.

Kita harus melihat peluang yang sangat mulia, yakni ketika kita dapat bergaul dengan Allah secara pribadi. Tentu saja ini bukan sesuatu yang mudah dan harganya tidak murah. Sebab, kita berurusan dengan Allah yang Mahaagung, Allah yang Mahatinggi, Allah yang Mahamulia. Harganya adalah seluruh kehidupan kita. Sejujurnya, kita belum membayar penuh harga percaya kita, sehingga kita belum berjalan dengan Allah secara ideal atau sebagaimana mestinya. Memang kita bukan orang rusak yang tidak beradab, tetapi mestinya kita bisa mencapai kehidupan yang sangat mulia ini, yakni berjalan dengan Allah.

Jangan sampai kesempatan yang berharga ini berlalu, dan kita meninggal dunia tanpa memiliki hidup yang bergaul, berjalan bersama dengan Allah. Harganya segenap hidup. Kalau bicara seperti ini, kadang-kadang orang menjadi takut. Tetapi kalau kita terus mencoba dan terus belajar, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan. Kalau kita berani belajar dan melangkah, pada akhirnya akan menjadi kesukaan. Maka, jangan memiliki kesenangan kecuali Tuhan sebagai kesenangan kita. Kalau kita memiliki kesenangan-kesenangan tertentu, hendaknya kesenangan-kesenangan itu juga bisa dinikmati oleh Allah. Makanya kita harus berani tidak memiliki kesenangan, kecuali Tuhan. Lalu apakah di dalam hidup ini kita tidak punya sama sekali kesenangan? Kalau Tuhan menjadi kesenangan dan kebahagiaan kita, maka Tuhan tahu kita manusia memiliki kesenangan juga. Melihat anak-anak sehat, melihat orang-orang yang kita kasihi sehat, kebutuhan terpenuhi, tidak mengalami kesulitan jika itu tidak mendewasakan. Tuhan juga pasti tahu bahwa kita adalah manusia yang butuh hiburan, kesenian, dan kebudayaan seperti musik, tarian, tontonan, dan sebagainya. Tuhan juga memahami bahwa manusia tercipta sebagai makhluk sosial, sehingga kita memerlukan kebahagiaan berkumpul dengan orang-orang yang kita kasihi; Tuhan pasti akan memenuhinya. 

Namun, hal yang penting adalah bukan hal-hal tersebut yang menjadi tujuan atau pencarian kita. Banyak orang lebih mengejar hiburan, kesenian, kesenangan, dan relasi dengan orang lain lebih daripada Tuhan. Tuhan dipandang kebutuhan yang dapat menyusul, bukan kebutuhan satu-satunya. Pencarian akan segala kesenangan seharusnya tidak menjadi tujuan dalam hidup kita. Tuhan adalah satu-satunya tujuan dari kehidupan kita. Kita tidak merasa bahagia bila Tuhan tidak merasa bahagia. Bahkan sekalipun kita berada dalam pertunjukan bersama orang yang paling kita kasihi, namun jika hubungan kita dengan Tuhan sedang berada dalam keadaan tidak harmonis; kita tidak merasa bahagia. Yang membahagiakan kita hanya Tuhan sehingga kita bisa berkata, “Tuhan, kalau pun aku tidak pergi wisata hal itu tidak menjadi masalah, kalaupun aku tidak punya barang ini, tidak apa-apa; asalkan hidupku menyenangkan Engkau, ya, Tuhan.”

Berjalan dengan Tuhan adalah sebuah keindahan dan kebahagiaan tanpa batas. Hanya dengan berjalan bersama Tuhan, kita dapat memiliki kerinduan pulang ke Rumah Bapa. Kita secara sukarela dapat menyerahkan semua milik jika Tuhan menghendaki untuk pekerjaan-Nya. Tentu ini semua kita lakukan berdasarkan hikmat dan tuntunan dari Roh Kudus. Namun, kesediaan untuk menyerahkan apa pun harus menjadi sikap hati yang kita rengkuh. Semua ini kita lakukan agar sebelum kita meninggal dunia, kita telah memenuhi apa yang Tuhan Yesus lakukan dan yang menjadi prinsip-Nya yakni, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Berjalan dengan Tuhan adalah sebuah keindahan  dan kebahagiaan tanpa batas.