Ruangan Kecil

Sebagai orangtua, kita ingin anak-anak kita sehat, terlindungi, sukses, dan mengalami apa yang baik; kita akan tidak tega kalau ada sesuatu yang buruk terjadi atas mereka. Kita bisa menganalogikannya dalam hubungan kita dengan Bapa di surga. Sebagaimana kita memperhatikan dan mengasihi anak-anak kita, demikian pula Bapa di surga memperhatikan dan mengasihi kita agar kita berkeadaan baik. Tetapi kenyataan yang harus jujur kita akui, sering ada kecurigaan di dalam hati kita: “Apakah benar Allah mengasihi aku? Apakah sampai saat ini benar-benar Dia memperhatikan aku dan memedulikan aku?” 

Ketika kita menghadapi kesulitan berlarut-larut, masalah yang tidak kunjung selesai, keadaan yang tidak kita sukai terjadi dalam hidup kita, hidup yang tidak kunjung berubah menjadi baik; sejujurnya, kita menjadi tidak percaya penuh bahwa Allah itu baik. Mereka adalah orang-orang Kristen yang marah terhadap Tuhan. Mereka tidak langsung marah kepada Tuhan, tetapi marah kepada keadaan. Lalu mereka akan mencari “orang” yang dipandangnya sebagai penyebab keadaan itu. Mereka marah kepada orang-orang tertentu, pahit, sakit hati bahkan dendam. Itulah faktanya. 

Kalau jujur, ada suara di dalam diri kita (suara daging) bukan suara Roh, “Apakah Tuhan sungguh-sungguh memedulikan aku?” Mungkin kita bernyanyi: “Tuhan Pembelaku,” tetapi sejatinya ada keraguan di dalam hati kita. Apa bukti dari orang yang kurang percaya atau tidak percaya atau mulai meragukan Tuhan? Buktinya jelas, sederhana tapi pasti. Ia tidak sepenuh hati mau berurusan dengan Tuhan. Kalau orang sungguh-sungguh mau berurusan dengan Tuhan, tidak mungkin tidak ke gereja. 

Ke gereja bukan hanya hari Minggu, di pertengahan minggu kalau ada Pendalaman Alkitab, ada kebaktian doa. Sebab baginya, itulah kehidupan. Setiap pagi tidak mungkin tidak berdoa. Tidak mungkin tidak ada waktu secara pribadi bertemu dengan Tuhan. Orang yang mau berurusan sepenuh dengan Tuhan, tidak mungkin melakukan kegiatan yang tidak mendatangkan pertumbuhan iman.  Dia tidak akan menyanyikan lagu-lagu dunia yang tidak membawa kesegaran bagi hidup rohaninya. Orang-orang seperti ini hanya punya satu ruangan dalam hidupnya; dan ruangan itu untuk Tuhan. 

Pada umumnya, hati kita memiliki banyak ruangan. Ruangan untuk cari uang, anak, orangtua, hobi, dan lain-lain; namun ada ruangan juga untuk Tuhan. Tetapi ruangannya kecil karena tidak yakin apakah Allah sungguh-sungguh bisa diandalkan, apakah benar Allah itu baik dan mengasihi. Sehingga kita menyisakan ruangan kecil saja untuk-Nya. Ruangan itu besar atau kecil nampak dari cara kita menyediakan hidup—waktu, perhatian, tenaga, pikiran—untuk Tuhan. Sejatinya, Tuhan tidak membutuhkan uang atau tenaga kita. Jangan kita berpikir, Tuhan itu menuntut orang percaya harus memberi uang atau tenaga. Kalau kita memberi uang atau tenaga untuk Tuhan, itu karena kita mau mengasihi Dia; bukan kewajiban melainkan kebutuhan

Jadi kalau kita punya kesibukan kerja, memperhatikan anak dan lain-lain, semua ada di ruangan itu. Itulah yang dikatakan di dalam Firman Tuhan, “Baik kamu makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Banyak orang yang sampai hari ini hidup dalam kemiskinan mental, spiritual, rohani, juga harta. Hal itu terjadi karena mereka tidak benar-benar mengandalkan Tuhan. Firman Tuhan berkata, “orang yang bimbang hati jangan harap beroleh sesuatu.” Maka, jangan berhenti berurusan dengan Tuhan. 

Kita harus memberi ruang yang luas untuk Tuhan. Serusak apa pun kita, Tuhan sanggup pulihkan. Tentunya setelah melewati perjalanan panjang di dalam hidup, kita mulai mengerti bahwa hanya Tuhan yang kita butuhkan. Kalau hanya Tuhan yang kita butuhkan, tidak ada waktu untuk apa pun selain Tuhan. Bekerja pun, kita lakukan untuk Tuhan untuk menafkahi keluarga dan anak-anak bisa sekolah. Tidak ada waktu untuk menonton yang tidak perlu, bicara dengan orang-orang yang tidak membuat kita takut akan Allah. 

Apa yang kita baca dalam Alkitab—Yusuf, Daud, Daniel, Abraham, Paulus dan lainnya—adalah orang-orang yang ruangan hidupnya hanya untuk Tuhan. Tuhan tidak kelihatan, tetapi Tuhan ada. Masalahnya, apakah kita yakin bahwa kebaikan-Nya lebih dari apa yang kita duga? Kalau kita percaya Allah itu baik lebih dari apa yang kita duga, tetaplah dekat kepada-Nya. Kalau kita berkata, “Saya percaya,” apakah cara kita mencari Tuhan menunjukkan bahwa kita benar-benar berlindung pada-Nya? Jadi, kita harus mengubah total cara hidup kita yang salah. 

Allah itu hidup dan tidak berubah. Sering Tuhan membawa kita—seperti Tuhan membawa bangsa Israel ke pinggir Laut Teberau—ke tempat di mana kita tidak bisa lari ke kanan atau ke kiri. Namun di situ kemuliaan Tuhan mau dinyatakan. Hal itu hanya diberikan kepada orang-orang yang menghormati Tuhan artinya serius berurusan dengan Tuhan. Dia layak dipercayai dalam keadaan yang sulit bagaimanapun. 

Ruang hati yang kita sediakan untuk Tuhan besar atau kecil nampak dari cara kita menyediakan hidup—waktu, perhatian, tenaga, pikiran—untuk-Nya.