Putus Hubungan

Ketika Abraham diperintahkan Tuhan untuk meninggalkan Ur-Kasdim, ia meninggalkan negerinya tanpa ragu-ragu. Abraham terus berjalan semakin jauh dari negerinya, dan tidak pernah berniat untuk kembali walaupun ia memiliki kesempatan untuk itu. Tindakan Abraham ini bisa diibaratkan; Ur-Kasdim telah disalibkan baginya, dan dia disalibkan bagi Ur-Kasdim. Sejak kepergiannya dari Ur-Kasdim, ia memutuskan hubungan dengan negeri tersebut. Kehidupan Abraham inipun menjadi inspirasi dan pola iman Kristiani kita. “Beriman” itu berarti memutuskan hubungan dengan dunia lama. Bisa dimengerti kalau Tuhan Yesus mengingatkan orang percaya agar tidak memiliki langkah hidup seperti istri Lot yang menoleh ke belakang. Karya keselamatan yang disediakan bagi keluarga Lot, gagal atas diri istri Lot karena ia menoleh ke belakang. Rupanya, istri Lot tidak rela memutuskan hubungan hati dengan apa yang ada di kota Sodom dan Gomora. Tubuh istri Lot meluncur ke luar kota Sodom dan Gomora, tetapi hatinya masih tertinggal di kota Sodom. Seharusnya Sodom dan Gomora telah disalibkan bagi mereka (keluarga Lot), dan mereka telah disalibkan bagi Sodom dan Gomora. 

Orang percaya pada abad mula-mula bisa percaya dan mengikut Tuhan Yesus kalau memiliki prinsip seperti yang ditulis Paulus ini, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikuti jejak-Nya, mereka harus kehilangan segala sesuatu. Mereka bisa kehilangan sahabat, teman, handai taulan, keluarga, bahkan nyawanya sendiri. Mereka disingkirkan dari masyarakat, bahkan mereka harus mempertaruhkan orang-orang yang mereka cintai karena dimasukkan penjara dan dibunuh. Sementara itu, mereka sendiri teraniaya dan bisa berakhir dengan kematian keji dalam bentuk hukuman pancung, disalib, atau dibakar hidup-hidup, dan lain sebagainya. Keadaan ini digambarkan Paulus sebagai dunia telah disalibkan bagi mereka dan mereka bagi dunia. Penderitaan tersebut menjadi kemegahan, bukan sesuatu yang memalukan karena mengerjakan kemuliaan. Bagi orang Kristen mula-mula, penderitaan yang berujung pada kematian sekalipun menjadi sebuah keuntungan yang tidak ditakuti sama sekali. Satu-satunya yang berharga apabila mereka dapat hidup seperti yang dikatakan Paulus dalam Kisah Para Rasul 20:24, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

Apakah prinsip hidup ini masih bisa dikenakan atau berlaku bagi kita hari ini? Tentu jawabnya adalah ya. Kebenaran Firman Tuhan memiliki nilai abadi, bahkan sampai Tuhan datang kembali, dan semua yang dinubuatkan itu digenapi. Masalahnya sekarang adalah bagaimana mengimplementasikan Firman Tuhan tersebut? Seperti Abraham meninggalkan Ur-Kasdim dan menjalani hidup pengembaraannya, demikian pula seharusnya orang percaya meninggalkan kesenangan dunia dan hidup dalam pengembaraan. “Hidup dalam pengembaraan” itu berarti tidak menjadikan dunia ini sebagai hunian nyaman yang tetap, tetapi sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya. Dunia ini harus dimengerti, diterima, dan diperlakukan sebagai bukan rumah kita. Sebaliknya, Kerajaan Tuhanlah yang harus dirindukan dan diharapkan dengan kuat sebagai rumah abadi setelah kita melalui persinggahan sementara di bumi ini.

Ketika kita menyatakan percaya, kita telah terhisab sebagai “bukan berasal dari dunia ini,” sama seperti Tuhan Yesus bukan berasal dari dunia ini. Prinsip ini mutlak harus dikenakan dalam kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Kalau seseorang tidak dapat menjadi murid, berarti ia tidak bisa digarap untuk diubah oleh Tuhan. Jika demikian, apa artinya menjadi Kristen? Ayat ini tidaklah sulit dimengerti pada zaman aniaya, karena mereka semua dibawa kepada kondisi dimana harus melepaskan segala sesuatu untuk menjadi orang percaya atau tidak sama sekali, sehingga tidak pernah menjadi orang yang diselamatkan. Berbeda dengan kondisi orang Kristen hari ini yang tidak memiliki konsekuensi apa pun saat mengikut Kristus. Dalam hal ini, kita mengerti mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa sebelum mengikut Dia, seseorang harus menghitung dahulu anggarannya, sebab mengikut Tuhan Yesus itu sangatlah sulit. Setiap orang yang mengikuti-Nya harus mengalami putus hubungan dengan kesenangan dunia tanpa terkecuali. Tentu memutuskan hubungan yang telah lama dijalin dengan dunia tidaklah mudah. Akan tetapi, kesulitan bahkan penderitaan besar tersebut akan membuahkan berkat besar yang tidak terkatakan. Inilah yang seharusnya menjadi kemegahan atau kebanggaan orang percaya. 

Setiap orang yang mengikuti-Nya harus mengalami putus hubungan dengan kesenangan dunia tanpa terkecuali.