Skip to content

Presisi

Berurusan dengan Tuhan itu harus berlangsung setiap saat, tidak ada waktu di mana kita tidak berurusan dengan Tuhan. Betapa miskin dan celakanya orang yang berurusan dengan Tuhan dijembatani atau memiliki media liturgi gereja atau upacara atau seremonial. Hal demikian dilakukan di dalam banyak agama, agama primitif, kepercayaan kuno, yang dalam berurusan dengan sesembahannya itu hanya sesaat, yaitu pada waktu mereka mengadakan upacara. Dan itu sudah menjadi standar bagi bangsa Israel yang waktu itu belum mengenal Injil Kerajaan. Mereka memiliki jam-jam sembahyang di mana mereka harus menghadap Yerusalem sebagai kiblatnya. Ada hari-hari di mana mereka melakukan upacara keagamaan. Hal itu tidak bisa dihindari, karena memang demikianlah porsinya secara individu. 

Tidak banyak orang yang bisa berinteraksi dengan Elohim YAHWEH, Allah Israel. Hanya imam besar setahun sekali diperkenankan masuk ruang maha suci. Kalau ada orang tertentu yang bisa berinteraksi dengan Allah, maka mereka adalah orang khusus yang jumlahnya bisa terhitung; seperti, Abraham, Musa, dan lain-lain. Tetapi umat Israel pada umumnya diwakili oleh Imam Besar. Interaksi mereka dengan Allah merupakan interaksi dalam hukum. Jadi kalau hari Sabat, mereka berinteraksi dengan Allah melalui hukum Sabat, di meja makan mereka berinteraksi dengan Allah melalui hukum-hukum halal haram. Mereka berinteraksi dengan Allah melalui pakaian yang pantas dikenakan bagi wanita-wanita Yahudi. Itu sudah merupakan interaksi, tapi tidak secara langsung dengan pribadi Allah.

Masuk Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mulai mengajarkan format penyembahan kepada Allah di dalam roh dan kebenaran. Interaksi dengan Allah dalam segala hal dan secara langsung dalam segala hal. Secara langsung tentu melalui perilaku yang baik. Orang percaya harus berinteraksi langsung dengan perasaan Allah, karena urusannya bukan hanya apa yang baik, melainkan juga apa yang berkenan dan yang sempurna. Roma 12:1-2, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu serupa dengan dunia ini, tapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, supaya kamu mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.” 

Jadi, kalau bangsa Israel mewakili agama samawi, mereka menyenangkan Tuhan dengan melakukan hukum yang tertulis—yang jika dilanggar bisa nampak delik hukum dengan sanksi-sanksinya—tetapi orang percaya melakukan kehendak Allah. Sebab hukum kita adalah Tuhan sendiri. Ini kehidupan yang luar biasa, yang tidak wajar. Dan untuk mencapai kehidupan seperti ini, seseorang harus belajar sungguh-sungguh, hidupnya harus disita untuk masuk sekolah kehidupan ini, ia harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus supaya bisa seiring dengan pikiran dan perasaan Bapa. Itulah sebabnya dalam konsep Kristen, dosa itu bukan hanya melanggar hukum, melainkan ketidaktepatan. Kata yang sering digunakan adalah hamartia, yang artinya meleset. 

Jadi, bukan hanya menjadi orang baik yang tidak melanggar hukum, namun dalam segala hal presisi, sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah; yang sama dengan hidup menurut roh. Itulah sebabnya, menjadi umat pilihan itu harus bersedia kehilangan apa pun supaya bisa mengalami perubahan kodrat sampai pada tingkat atau tahap dalam segala hal yang dilakukan itu presisi, tepat seperti yang Allah kehendaki. Berbicara ini harusnya ada perasaan getar dan gentar di hati kita. Betapa keadaan kita masih jauh dari hal itu. Kehidupan manusia yang dikehendaki Allah orisinalnya itu begini, jadi manusia yang sekarang kita miliki itu imitasi, bukan orisinal. Imitasi dari gambar yang salah, yang diajarkan Lusifer. 

Lusifer menawarkan Hawa buah pengetahuan yang baik dan jahat dengan janji akan menjadi sama seperti Allah. Apa salahnya tahu apa yang baik dan jahat? Bagus bukan jika kita tahu apa yang baik dan jahat? Tetapi itu dipandang salah dan dinilai kehilangan kemuliaan Allah, sebab yang dikehendaki Allah bukan pengetahuan tentang yang baik dan jahat, melainkan kemampuan berpikir seperti Allah berpikir. Jadi, bukan baik dan jahat dengan satu standar, melainkan apa yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna di mata Allah. Agama mengajarkan etika apa yang baik dan jahat. Tapi sebenarnya standar manusia orisinal sesuai rancangan Allah adalah manusia yang dicerdaskan sehingga dalam segala sesuatu yang dilakukan bisa presisi. 

Standar manusia orisinal sesuai rancangan Allah adalah manusia yang dicerdaskan sehingga dalam segala sesuatu yang dilakukan bisa presisi.