Pikul Salib

Pada umumnya, tidak ada orang yang mau menderita atau bisa menderita sementara ia masih memandang ada sesuatu yang bernilai di dalam hidupnya. Sebab kalau orang masih memandang ada sesuatu yang bernilai dalam hidupnya, penderitaannya pun pasti bukanlah penderitaan yang proporsional. Orang yang tidak menganggap ada sesuatu yang bernilai dalam hidup ini kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya, baru bisa hidup maksimal bagi Tuhan. Maka kalau orang masih terikat dengan dunia, tidak mungkin dimuliakan, sebab yang dimuliakan adalah mereka yang menderita bersama-sama dengan Dia. Mereka yang menderita bersama-sama dengan Dia adalah orang-orang yang memikul salib sesuai dengan standar yang Tuhan Yesus taruh. Bukan salib sendiri karena kesalahan pribadi, Tuhan yang menaruh salib itu. Maka Tuhan berkata, “pikullah kuk yang Kupasang,” Jika kita tidak menerima kuk dari Tuhan, maka dunia yang akan memberi kuk.  Kuk dari dunia adalah kuk yang nyaman dan bebas. Tapi sejatinya, kuk tersebut adalah kebebasan yang membelenggu. Waktu mati, baru kita mengetahui bahwa itu adalah kuasa kegelapan yang menggiring kita ke api kekal. Akan tetapi, kuk Tuhan menjerat kita, membelenggu, dan membatasi kita kepada kemerdekaan yang sesungguhnya.

Jadi yang menderita bersama-sama dengan Tuhan adalah mereka yang salibnya berat; sesuai dengan ukuran berat yang Tuhan sudah rancang untuknya. Tuhan Yesus memikul salib di sepanjang Via Dolorosa. Ia jatuh bangun, sampai harus dibantu oleh Simon dari Kirene. Kalau belum berat, berarti penderitaan yang dipikul bersama Tuhan belum proporsional. Dalam salah satu pernyataan-Nya, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu yang bersama-sama dengan Aku dalam segala penderitaan, kamu akan duduk bersama-sama dengan Aku.” Ini adalah hal yang sangat indah dan mulia. Maka, semestinya kita khawatir kalau kita tidak mendapatkan tempat itu karena kita sibuk dengan diri kita sendiri. Kita memikul salib, tapi salib buatan sendiri; tidak sampai berat, tidak sampai menderita. Namun seharusnya kita memikul salib sampai menderita; pasti berat, pasti melelahkan. Kadang, rasanya ingin menghindari Lazarus-lazarus yang Tuhan kirim. Belum lagi ketika ada suara yang mengatakan, “Memang orang ini menyusahkan. Jangan dibantu. Sudah, jangan dibalas.” Tapi ada suara lain yang mengatakan, “Kamu kehilangan kesempatan.” Di sini kita sering gagal. Gagal studi, gagal karier, mungkin gagal rumah tangga, gagal dalam kesehatan, atau gagal yang lain belumlah kegagalan yang sesungguhnya. Kegagalan yang sesungguhnya adalah kalau kita tidak dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Padahal, paket anugerah kita adalah paket anugerah keselamatan itu dimuliakan bersama Tuhan Yesus.

Dalam konteks ini, ketika kita ingin dimuliakan bersama Tuhan Yesus bukan berarti kita mengingini kedudukan yang sama dengan Tuhan Yesus. Sampai kapan pun kita tidak akan dapat menyamai kedudukan dan kemuliaan Yesus sebagai Tuhan. Mengingini kemuliaan di sini maksudnya adalah kemuliaan karakter seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus sendiri. Apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan, semuanya seturut dengan keagungan dan keluhuran Tuhan Yesus selama menjadi manusia di bumi. Kita tidak mengikuti “kemuliaan; keagungan” versi dunia dengan memiliki harta banyak, popularitas, relasi yang kuat, dan berbagai fasilitas mewah lainnya. Sebaliknya, kita rela menanggalkan seluruhnya untuk memperoleh keserupaan dengan karakter Yesus. Dengan memiliki karakter Yesus, di situ kita mewarisi kemuliaan yang Bapa janjikan. Oleh karenanya jelas bahwa yang menjadi perburuan kita satu-satunya adalah kembali memiliki kemuliaan dalam karakter kita yang ditandai dengan keserupaan dengan-Nya.

Maka perhatikan ini,  keselamatan adalah dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula; menjadi segambar, serupa dengan Bapa; berkenan. Jadi kalau tidak berkenan, berarti kita gagal menerima keselamatan itu. Dan kalau gagal menerima keselamatan, gagal menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Ini serius, akan menyita waktu, menyita seluruh hidup kita. Namun ini adalah pilihan yang terbaik. Kita tidak bisa hanya mengalir saja, tidak bisa. Kita harus memutuskan, memilih, dan berjuang. Dan nanti hidup kita akan jadi sangat menarik. Di tengah-tengah kesibukan kita bekerja, mengurus rumah tangga, bertanggung jawab kepada masyarakat, bangsa, dan negara, kita belajar menjadi anak-anak Allah yang berkenan untuk dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Saatnya kita mengambil keputusan, jangan menundanya!

Orang yang menderita bersama-sama dengan Dia adalah mereka yang memikul salib sesuai dengan standar yang Tuhan taruh baginya