Pikiran Iblis

Segala sesuatu yang menghambat kita bertumbuh sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, adalah pikiran Iblis. Walaupun itu keluar dari pikiran manusia. Karena, standarnya itu serupa dengan Yesus, sempurna seperti Bapa. Supaya semua yang kita kehendaki selalu sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. , semua pikiran yang tidak membuat kita bisa sempurna seperti Bapa, berasal dari setan. Dulu kita menilai apa yang kita pikir itu normal. Namun ternyata kita salah menetapkan standar. Kenapa dikatakan berasal dari Iblis? Karena menjadi batu sandungan. Yesus mengatakan itu ketika Petrus mencegah-Nya pergi ke Yerusalem (Mat. 16:21-23). Padahal, Yesus ke Yerusalem supaya rencana Allah terpenuhi. Dia pertaruhkan nyawa-Nya. Yesus berkata, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” 

Maka, semua yang membuat rencana Allah tidak digenapi, yang membuat kita tidak sempurna seperti Bapa dan tidak serupa dengan Yesus, berasal dari setan. Semua pencapaian kita—gelar, pangkat, materi, dan lainnya—menjadi sampah kalau kita tidak semakin seperti Yesus. Ini bukan berarti kita tidak perlu sekolah tinggi atau bekerja menghasilkan banyak uang. Tapi semua pencapaian itu merupakan sarana untuk kita menjadi semakin sempurna. Maka, kalau kita mau dimuliakan bersama Yesus, kita harus menderita bersama dengan Dia. Untuk menderita bersama dengan Tuhan, kita harus sepikiran dan seperasaan dengan Dia. Kalau tidak, maka tidak akan sefrekuensi dengan-Nya. Dan kalau kita menderita untuk Tuhan, kita akan dimanjakan oleh Tuhan. Tapi, kalau mau dimanjakan Tuhan, pikul salib. Setan memberi kita roti, mahkota fana, kesenangan dunia, kekayaan, kehormatan, panggung, pangkat. Tetapi Tuhan Yesus memberi kita salib. Itu cara kita dimanjakan oleh Tuhan. 

Orang Kristen hari ini meminta berkat, hidup lancar, tidak memikirkan apa rencana Allah dalam hidupnya: sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, dan menderita bagi Dia. Matius 16:21 mengatakan, “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Petanya jelas: menderita, lalu dibangkitkan. Alkitab juga memberi petunjuk yang lengkap. Tidak hanya pikul salib, titik. Tidak sampai di situ. Tapi, pikul salib, kemudian ada mahkota yang disediakan. Tidak hanya menderita bagi Tuhan, pikul salib, tapi juga ada mahkota kemuliaan. Jangan sampai kita seperti Petrus yang ingin Yesus memperoleh kemuliaan, namun menghindarkan-Nya dari penderitaan. “Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu, hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” 

Sejujurnya, kita juga sering kali seperti Petrus. Menghindari penderitaan yang harus diderita, namun berharap memperoleh kemuliaan bersama dengan Tuhan di kekekalan. Sejatinya, tiada mahkota tanpa salib. Itulah mengapa Tuhan berkata, “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku,”. Setiap kita harus melalui jalan salib untuk mencapai jalan kemenangan. Untuk itu, semua naluri manusiawi untuk berbuat dosa harus kita buang. Ayat selanjutnya mengatakan, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat.16:25). Dengan kata lain,barangsiapa berani ‘bunuh diri,’ ia akan memperolehnya.” 

Oleh karenanya, mari kita sederhanakan prinsip hidup ini. Jangan diperluas. Target kita menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Entah kita menikah atau tidak menikah; punya anak atau tidak; kaya atau miskin, kita mau sederhana saja. Tidak ada yang mutlak di dunia ini selain menjadi seperti Dia. Masing-masing kita menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada kita. Masa lalu yang buruk, lupakan dan tinggalkan. Apa pun yang akan terjadi, terserah Tuhan nanti. Prinsip terpenting adalah bagaimana kita dapat dalam masuk surga. Dan ketika aku menutup mata, aku didapati Tuhan berkenan. Dengan prinsip hidup yang sederhana ini, kita dapat memiliki pikiran yang terfokus pada Allah, dan memangkas pangkalan Iblis dalam pikiran kita.

Segala sesuatu yang menghambat kita bertumbuh sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus adalah pikiran Iblis.