Pesta Rohani

Kalau Allah bisa dikenali hanya melalui sebuah sistem pendidikan, betapa kerdilnya Allah itu. Allah adalah Allah yang hidup, bukan semacam salah satu bidang ilmu pengetahuan yang menjadi objek penelitian dimana orang bisa menguasainya. Ia adalah Pribadi yang menghendaki sebuah hubungan interpersonal—hubungan antarpribadi, hubungan interaksi—dan mengalami Allah. Orang akan mengalami Tuhan secara unik dan dalam porsi tertentu. Karena pada dasarnya, pengenalan akan Allah itu bertujuan agar seseorang bisa menempatkan diri secara benar di hadapan Allah, dan menempatkan Allah secara patut di tempat yang terhormat di dalam hidupnya. Selanjutnya, orang tersebut bisa mengerti apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan, baik secara moral (tentu bicara soal kesucian), atau terkait dengan tugas.

Setiap orang pasti memuat rancangan Allah yang khas yang harus dipenuhi. Ketika seseorang meninggal dunia, mestinya ia sudah memiliki wajah batiniah sesuai dengan yang Allah kehendaki. Kita tahu yang Allah kehendaki itu adalah rancangan semula; manusia segambar dan serupa dengan Allah. Manusia pertama yang sempurna, yang menjadi model manusia yang Allah kehendaki, yang menjadi yang sulung adalah Tuhan Yesus. Artinya, ketika kita meninggal dunia, Bapa ingin menemukan wajah Kristus di dalam hidup kita; seperti pernyataan Paulus, “hidupku bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Pergumulan menemukan Allah ini yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata; tidak bisa dijelaskan secara lengkap dengan kalimat. Akan ada banyak pengalaman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi yang intinya kita menjadi takut akan Allah. Hati kita harus haus dan lapar akan kebenaran. Bagaimana dalam segala hal yang kita pikirkan, kita ucapkan, kita lakukan, kita mau, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Dalam melakukan hal-hal yang besar, Tuhan juga melakukannya melalui manusia. Dalam hal ini, Tuhan memakai jawatan guru, gembala sidang, pembicara mimbar, penginjil, konselor, dan lainnya guna mengubah orang. Maka, mereka harus benar-benar hidup lebih kudus, harus benar-benar lebih rela melepaskan segala sesuatu yang dimiliki bagi pekerjaan Allah. Oleh karenanya, orang-orang tersebut harus bisa menjadi teladan. Namun, tidak hanya orang dengan jawatan gerejawi saja yang bisa mengalami Allah. Setiap orang percaya yang sungguh rindu melakukan kehendak-Nya dapat mengalami-Nya. Itulah sebabnya, kita pasti bisa mengalami dan mengenal Tuhan secara maksimal. Kalau orang benar-benar bertemu dengan Allah, pasti hidupnya akan dipenuhi oleh sukacita yang tak terkatakan. Bukan berarti hidupnya bebas dari masalah, melainkan hidupnya akan diwarnai “pesta.” Bukan “pesta” seperti pengertian umum. Pestanya adalah ketika dia bisa menyukakan hati Allah, hatinya bersukacita. Sukacita yang tentu juga tidak bisa disamakan dengan sukacita dunia ini. Kita menikmati sukacita Tuhan dan ‘berpesta’ ketika kita menyembah Tuhan dengan hati yang tulus dan menghormati-Nya.

Orang yang benar-benar mengenal Allah, hidupnya pasti makin hari makin bersih. Jadi, kesucian itu bukan sesuatu yang mustahil, sebab Tuhan sendiri yang berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Kita bisa menikmati pesta, sukacita hidup, ketika kita diberikan Tuhan kesempatan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Tuhan kirimkan “Lazarus-Lazarus” di dalam hidup kita, dimana kita bisa mencurahkan hidup kita, kita seperti anggur tercurah dan roti yang terpecah. Interaksi kita dengan Tuhan itu menjadi hidup. Ketika kita bisa memberi pengampunan, doa yang tulus kepada orang yang menyakiti kita, ada sukacita, karena Tuhan pun bersukacita. Sebab, orang yang benar-benar menjumpai Tuhan, pasti menjaga perasaan sesama. Ia tidak akan melukai, tidak akan merugikan sesama. Tidak akan membongkar kejahatan orang atau kesalahan orang semena-mena, sebab masing-masing orang memiliki urusan dengan Tuhan. Apalagi memfitnah orang lain, hal tersebut jauh dari pemikirannya.

Jangan pernah kita menganggap mudah untuk menemukan Allah. Jangan berpikir mencari uang, berkarier, lebih sukar dari mencari Tuhan sehingga menempatkan hal-hal dunia di atas pencarian akan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Jadikanlah hal mencari Allah sebagai hal yang selalu darurat dan satu-satunya; bukan hanya paling penting, melainkan satu-satunya agenda hidup. Sampai kita bisa merasakan benar apa artinya kehausan akan Allah; sampai kita menemukan Dia sebagai Kekasih Abadi. Dengan ini, kita bersama dapat menikmati sebuah ‘pesta rohani’ bersama dengan Allah.

Orang yang benar-benar mengenal Allah, benar-benar bertemu dengan Allah, pasti hidupnya bahagia sekali, sebab akan diwarnai “pesta rohani.”