Percaya Walau Tidak Melihat

Satu hal yang kita, sebagai makhluk ciptaan, harus sadari dan terima ialah bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Setiap saat, setiap menit, setiap detik, keadaan bisa berubah. Kita ini orang-orang yang digambarkan seperti telur di ujung tanduk. Kita berkendara mobil baik-baik, namun di belakang mobil ada truk/trailer besar yang dikendarai oleh sopir yang mengantuk, dan bisa saja menabrak kita setiap saat. Atau karena menginjak sesuatu, kita terpeleset, kepala terbentur benda keras, sehingga mengalami gegar otak. Itu juga bisa terjadi. Belum lagi banyak orang yang malam harinya tidur nyenyak,n amun besok paginya ternyata sudah menjadi mayat. Ini semua fakta empiris atau kejadian; realitas nyata yang dialami atau bisa dialami setiap orang. Dengan melihat kondisi hidup seperti ini, kita butuh perlindungan. Kita butuh naungan. Tidak ada naungan yang lebih kuat dari Allah sendiri yang menciptakan langit dan bumi. Namun masalahnya, kita harus mengenali siapa Allah yang benar itu, karena banyak allah di dalam dunia yang dipromosikan oleh pengikutnya dan tokoh-tokohnya sebagai allah yang benar. Semua agama mengklaim allahnya allah yang benar, termasuk orang Kristen mengklaim bahwa Allahnya Allah yang benar.

Allah kita adalah Allah yang disembah juga oleh orang-orang Israel, karenanya Allah kita itu menyebut diri sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub; Allah Israel, Elohim Yahweh. Elohim Yahweh, ini Allah yang benar. Satu-satunya Allah yang benar. Allah kita tidak provokatif, tidak terang-terangan menyatakan diri secara fisik bahwa Dialah Allah yang benar. Allah yang benar membiarkan semua agama berkembang dan eksis. Bahkan kita melihat dewa-dewa yang disembah oleh suku-suku bangsa bisa menunjukkan kehadiran, keperkasaan, dan kekuatannya. Kita tidak dapat membantah itu. Jadi, tidak heran kalau banyak keyakinan yang umurnya bisa ribuan tahun, bukan ratusan tahun, dan mereka juga mendapatkan verifikasi atau pembuktian bahwa allah yang mereka sembah itu allah yang benar, berkuasa, dan bisa diandalkan menjadi sumber pertolongan.

Bagaimana sikap kita terhadap Allah yang kita sembah yang bernama Yahweh; Elohim Yahweh atau Allah Yahweh, yang kita panggil “Bapa?” Dia adalah Allah dan Bapa dari Tuhan kita, Yesus Kristus, atau Bapa kita semua. Apakah kita juga seperti banyak orang yang berusaha untuk membuktikan bahwa Allahnya itu Allah yang benar, Allah yang berkuasa dengan mengalami secara fisik kehadiran dari Allah yang kita sembah? Tidak tertutup kemungkinan Allah yang kita sembah akan menyatakan diri dalam hidup kita secara fisik dengan kekuatan dan keperkasaan-Nya, tetapi tidak selalu begitu. Ingat ketika Tomas tidak mau percaya kepada Yesus atas kebangkitan-Nya. Dia berkata kepada murid-murid yang lain bahwa ia tidak percaya sebelum mencucukkan jarinya ke lubang bekas paku di tangan Yesus dan bekas tombak di lambung Tuhan Yesus. Yesus kemudian menampakkan diri dan memanggil Tomas. Tuhan Yesus berkata, “berbahagialah orang yang percaya, walau tidak melihat.” Pernyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menantikan atau mengharapkan Allah menyatakan diri secara fisik terlebih dahulu, baru kita percaya. Kita harus percaya walau tidak melihat, walau tidak ada bukti tanda-tanda fisik.

Kita percaya bahwa satu-satunya Allah yang benar adalah Allah yang bernama Yahweh; Elohim Yahweh, Allah Israel yang menyatakan diri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Dialah Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Percaya, titik. Percaya itu tidak harus didasarkan pada bukti-bukti fisik atau lahiriah. Percaya harus didasarkan pada kesediaan mengakui bahwa Allah itu hidup, Allah itu nyata, dan sekaligus meyakini bahwa Dia baik. Tidak boleh kita meragukan-Nya. Allah yang Mahabesar, Allah yang Mahamulia patut dipercayai dengan keyakinan seperti ini. Yakin bahwa Allah itu hidup dan nyata, walaupun tidak ada dasar-dasar secara lahiriah atau fisik yang membuat kita percaya. Jangan kita menuntut untuk melihat dan mengalami, baru percaya. Memang ada orang-orang yang diberi Tuhan kesempatan melihat dan mengalami, lalu percaya. Tetapi Tuhan mengajar kita untuk percaya walau tidak melihat dan tidak mengalami. Setelah kita percaya, pasti kita akan mengalami. Pasti, karena Allah itu hidup. Jangan mengalami dulu, baru percaya. Percaya dulu, pasti kita akan mengalami.

Allah mau orang percaya atau anak-anak Allah mengalami Dia. Allah bukanlah Allah yang diam; Dia Allah yang berkehendak. Allah menginginkan anak-anak-Nya berinteraksi dengan Dia dan memiliki hubungan timbal balik. Sehingga anak-anak Allah bisa mengalami Allah secara riil, bahkan secara fisik, dan bisa mendengar suara Tuhan secara limpah karena memang Ia hidup, hadir di dalam hidup kita. Tetapi jangan melihat, mengalami, lalu baru percaya.

Percaya harus didasarkan pada kesediaan mengakui bahwa Allah itu hidup, Allah itu nyata, dan sekaligus meyakini bahwa Dia baik; walaupun tidak ada dasar-dasar secara fisik yang membuat kita percaya.