Penyesatan dalam Beragama

Salah satu penyesatan atau pembodohan yang berhasil dilakukan oleh kuasa gelap adalah membuat banyak orang Kristen menganggap bahwa percaya kepada Yesus itu sesuatu yang mudah. Hal ini juga tentunya terjadi selain dalam khotbah-khotbah dan pengajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran orisinal Alkitab, juga akibat pengaruh dari berbagai ajaran di sekitar Kristen yang tidak berdasarkan Alkitab Perjanjian Baru. Bangsa Israel memiliki agama yang namanya agama Yahudi, atau sering juga dikenal sebagai Judaism; atau juga disebut sebagai agama Musa. Ini adalah agama samawi pertama. Agama samawi artinya agama yang percaya kepada Allah yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, meyakini Allah mewahyukan hukum, dan suatu saat akan menuntut pertanggungjawaban, serta pada suatu hari Ia akan menghakimi. Ada orang-orang yang akan diperkenankan masuk surga, dan ada orang-orang yang dibuang ke dalam neraka. 

Bagi bangsa Israel yang beragama samawi, asal mereka mengaku bahwa Allah yang bernama Elohim Yahweh adalah Allah yang Esa, maka mereka sudah merasa menjadi umat pilihan dan menganggap itu keberimanan yang benar; jadi dianggap sudah sebagai orang beriman. Mereka memiliki syahadat yang berbunyi: shema yisrael Adonai Eloheinu, Adonai ehad. Yang artinya: “dengarlah Israel, Yahweh itu TUHAN kita Esa, Yahweh itu Esa.” Pada zaman itu, mengucapkan syahadat ini, bagi orang Yahudi berarti sudah menjadi umat beriman. Dan keberimanan seperti itu sudah dianggap cukup. Dengan demikian, mereka pun dapat menjalankan hidup keberagamaan mereka. Terdengar cukup sederhana, bukan? 

Sejatinya tidaklah sesederhana itu, sebab hidup mereka dikawal oleh hukum. Selain memiliki syahadat, mereka memiliki hukum; hukum dengan sanksi-sanksinya. Misalnya, mencuri hukumnya adalah jarinya dipotong; berzina, hukumannya adalah dirajam. Mereka memiliki tatanan hukum dalam kehidupan mereka setiap hari. Dan hukum-hukum kehidupan keberagamaan mereka tertulis dengan sangat rinci dan detil. Dengan demikian, hidup keberagamaan mereka bisa berlangsung dengan tertib. Ini sangat berbeda dengan orang Kristen. Orang Kristen tidak memiliki hukum-hukum dan sanksi-sanksinya. Tidak ada tatanan hukum seperti itu bagi orang Kristen. Oleh sebab itu, sangatlah keliru kalau kita menyamakan kekristenan dengan agama samawi semacam itu. 

Asal sudah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, berarti sudah menjadi anak-anak Allah dan pasti masuk surga. Di sini Iblis menyesatkan kita. Salah satu penyesatan yang berhasil dilakukan oleh kuasa gelap ialah ketika orang Kristen berpikir bahwa percaya Yesus itu mudah. Mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, otomatis sudah menjadi anak-anak Allah, lalu masuk surga. Ini sama dengan mengucapkan syahadat, lalu sudah jadi orang beriman. Padahal sebenarnya berbeda. Kalau orang-orang Yahudi atau orang-orang beragama samawi lainnya, ada hukum dan sanksi-sanksinya. Hidup mereka diatur oleh hukum dan sanksi-sanksinya itu. Lalu, bagaimana dengan kekristenan? Kita melihat Alkitab, Yakobus 2:19 mengatakan, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja, itu baik. Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan gemetar.” Konteks Yakobus ini berbicara kepada orang Kristen, dan di antaranya juga mantan orang Yahudi atau mantan orang beragama Yahudi atau agama Musa atau Judaism. “Kamu percaya Allah itu Esa, ada? Setan juga percaya Allah itu ada dan Esa.” 

Dengan kalimat lain, Yakobus hendak mengatakan, “Iman bukan hanya keyakinan dan pengakuan bahwa Allah itu ada dan Esa, tetapi iman itu menunjuk hubungan.” Bagi orang beragama samawi seperti agama Yahudi, mereka bukan hanya mengaku Allah itu ada dan Esa, namun mereka juga punya hukum dan sanksi-sanksinya. Mereka punya ikatan perjanjian dengan Allah. Bagi orang Yahudi, kalau mau jadi umat Allah, satu, disunat. Jadi, tidak ada orang Yahudi yang tidak disunat. Makanya bagi orang Yahudi kalau menyebut “orang kafir” berarti orang yang tidak bersunat. Kalau kita berbicara soal “sunat,” itu sudah ada 1440 sebelum Masehi atau sekitar 1500 tahun sebelum ada agama Kristen. Sejak itulah orang Yahudi sudah mengenal sunat. Jika tidak disunat, maka berarti bukan orang Yahudi. Kedua, hukum Taurat. Jadi mereka diikat dengan sunat dan hukum. Ada ikatan perjanjian antara Allah dan orang Yahudi yang adalah umat. 

Betapa bodohnya dan piciknya kalau orang Kristen merasa memiliki keyakinan kepada Allah dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka sudah jadi anak Allah tanpa ikatan apa pun. Lalu apa ikatannya? Sebenarnya ada, ikatannya adalah dimeteraikan oleh Roh Kudus. Tetapi berapa banyak orang Kristen yang memiliki kesadaran bahwa dia punya ikatan dengan Allah atau dengan Roh Kudus dimeteraikan? Dan kalau Roh Kudus dimeteraikan, 1 Korintus 6:19-20, “Kamu bukan milik kamu sendiri. Muliakan Allah dengan tubuhmu,” artinya kamu tidak boleh berbuat dosa. Tatanannya bukan hukum, melainkan kehendak Allah. Tatanannya bukan sekadar hukum, melainkan kesucian. Tatanannya adalah seluruh hidup kita dimiliki Allah. 

Salah satu penyesatan yang berhasil yang dilakukan oleh kuasa gelap  adalah ketika orang Kristen berpikir bahwa percaya kepada Yesus itu mudah.