Opsi Lain

Allah Bapa mempunyai banyak anak dengan kepribadian yang berbeda-beda. Tetapi ada satu prinsip yang sama, yaitu tidak memiliki hasrat keinginan yang bertentangan dengan Allah. Maka yang harus dipahami oleh setiap individu agar dipergumulkan atau diperjuangkan, dan bagi gereja selaku komunitas orang percaya yang menjadi representasi Tuhan adalah bagaimana membuat lukisan indah batiniah kita. Tetapi fakta yang kita bisa lihat dan alami, seakan-akan Tuhan itu membuka peluang untuk opsi lain; karena memang Tuhan tidak memaksa kita untuk memilih opsi-Nya. Sehingga, kita tidak berani fokus pada satu arah tersebut. Maka terjadilah yang namanya pasivitas rohani. Sibuk dalam gereja, sibuk pelayanan, sibuk kegiatan pelayanan gereja, tapi tidak mengalami progresivitas yang berarti. Jadi, lukisan batinnya itu tidak indah. Apalagi kalau sebelum aktif di gereja sudah berkarakter buruk/rusak; terbiasa tidak jujur, membalas kejahatan dengan kejahatan, dan lain sebagainya.

Ketika firman mengatakan—terkait dengan Yohanes Pembaptis—persiapkan jalan bagi Tuhan, lalu mereka harus memberi diri dibaptis (umat Israel) demi mempersiapkan kebenaran Injil yang mereka akan dengar, maka di sini moral umum seseorang harus benar terlebih dulu. Tidak boleh ada kejahatan-kejahatan. Menjadi anak-anak Allah harus berkenan, tidak boleh setengah berkenan. Kalau kita benar-benar menghormati Tuhan dan memercayai Dia dan mengasihi Dia, kita mau berjuang. Masalahnya, banyak orang yang tidak percaya. Tuhan itu seperti ada tidak ada. Lalu? Tidak menghormati Tuhan. Lalu? Tidak mengasihi Tuhan. Maka, kehidupannya tidak mengalami perubahan yang berarti seperti yang Allah kehendaki. Kolose 3:3 menulis, “Kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Inilah alasannya. Karena alasan ini, maka “pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Maka, setiap anak-anak Allah pasti memiliki karakter ini: yang pertama, setiap anak Allah itu harus berkenan. Yang kedua, setiap anak Allah itu memang diproyeksikan untuk dimuliakan. Dimuliakan bersama dengan Yesus. Kalimat lain yang dapat kita temukan di Alkitab: akan duduk sebagai raja-raja. Kita tidak berambisi untuk mendapatkan takhta itu, namun kita merindukan untuk bersama selamanya dengan Tuhan.

Tetapi karena Allah Bapa memproyeksikan kita untuk menjadi mempelai Tuhan Yesus dan bersama Yang Mulia memerintah di Kerajaan Surga, kita tidak boleh memiliki opsi lain. Seseorang yang punya opsi lain, berarti ia tidak percaya kepada Tuhan. Sangat dangkal dan miskin kalau percayanya itu hanya diisi dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Percayanya kepada Tuhan Yesus harus diisi dengan perjuangan untuk sempurna seperti Bapa. Ini adalah standar kebenaran. Tapi tidak mudah percaya akan hal ini. Bangsa Israel dari Mesir dibawa ke Kanaan, tidak ada opsi tempat lain, harus ke Kanaan. Dan untuk itu, mereka harus memberikan respons terhadap pimpinan Tuhan. Namun mereka menolak, berarti tidak percaya bahwa Tuhan sanggup membawa mereka keluar ke tanah yang berlimpah susu dan madu. Maka Tuhan memiliki pertimbangan. Kalau melewati negeri Filistin yang jaraknya pendek, mereka cepat sampai di Kanaan, tetapi mereka akan menyesal karena ternyata di situ musuhnya besar-besar seperti raksasa, dan mereka kecil-kecil seperti belalang. Maka Tuhan buat mereka berputar-putar agar dipersiapkan menjadi bangsa yang beradab, yang kuat. Sementara itu, mereka diajar mengenal Taurat di sepanjang perjalanan, yang membuat mereka menjadi bangsa yang berbudaya, dengan budaya sesuai dengan tuntunan Allah di dalam Taurat yang luar biasa.

Mereka dibuat Tuhan berputar-putar agar siap memasuki tanah Kanaan. Mereka harus dewasa, menaklukkan sendiri. Ini sama dengan kita, bahwa kita ini tidak punya opsi lain, selain menjadi sempurna. Kita harus mengusahakannya dengan serius. Tetapi banyak orang Kristen tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah kemutlakan. Karena banyak opsi lain dan mereka merasa boleh memilih. Padahal Tuhan hanya memberikan satu opsi: must be perfect atau to be like Christ. Sejujurnya, kita adalah korban dari kekristenan yang palsu; Kristen yang sudah tercemar, terdistorsi oleh cara berpikir anak dunia. Sehingga, kita merasa wajar-wajar saja hidup seperti orang lain hidup. Namun oleh kemurahan Tuhan, Tuhan proses kita sampai hari ini agar bisa mencapai kesempurnaan. Kalau kita tidak berani keluar dari zona nyaman yang selama ini kita nikmati, maka kita tidak akan pernah menjadi anak Allah sesuai standar Allah. Must be perfect. Sebab Tuhan tidak akan memuliakan orang yang tidak mulia. Dan standar mulia di sini adalah serupa dengan Yesus.

Allah Bapa memproyeksikan kita untuk menjadi mempelai Tuhan Yesus dan bersama Yang Mulia memerintah di Kerajaan Surga, maka kita tidak boleh punya opsi lain.