Nasib di Kekekalan

Kata ‘takdir’ ini tidak asing bagi telinga kita, bahkan akrab di mulut banyak orang di sekitar kita. Menanggapi suatu realita yang dialami seseorang, mereka biasa menggunakan kata ini. Kata ‘takdir’ dalam pemahaman umum biasanya mendapat isi atau dimengerti sebagai penentuan Ilahi. Kata ‘takdir’ biasanya disejajarkan maknanya dengan kata ‘nasib.’ Kata ‘takdir’ sangat populer di lingkungan orang-orang beragama, karena kata ini bertalian dengan “oknum” yang diakui sebagai yang berkuasa menentukan apa yang terjadi atas hidup masing-masing individu manusia secara mikro, dan atas alam semesta ini secara makro. Oknum yang menentukan segala peristiwa dalam kehidupan tersebut adalah Tuhan. Dalam hal ini, mereka memercayai segala sesuatu telah ditentukan atau ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga, di balik kata ‘takdir’ diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam setiap kejadian atau peristiwa. Jadi, ‘takdir’ dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Tuhan yang mutlak atau absolut.

Dalam hal ini, Tuhan dipandang sebagai penyusun takdir atas segala sesuatu, baik yang hidup, apalagi bagi benda mati. Tidak ada yang luput dari penentuan-Nya. Maka memahami pengertian takdir, pada umumnya orang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki kedaulatan sama sekali dalam menentukan keadaan hidupnya, sebab Tuhan telah mempersiapkan segala kejadian yang akan dialami atau dilaluinya dalam hidup. Manusia hanya menerima saja yang disediakan baginya; bahkan surga atau neraka pun, Tuhan yang menentukan. Pemahaman di atas ini pada akhirnya bisa membangun pandangan bahwa pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia atau tidak diperlukan. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Tuhan menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang ditemukan secara otomatis. Dengan demikian, manusia juga tidak perlu memiliki integritas dan personalitasnya sendiri. Ini pandangan yang sangat keliru, sebab sesungguhnya manusia adalah makhluk yang harus menuai apa yang ditaburnya (Rm. 14:12; Gal. 6:7; 2Kor. 5:9-10).

Sejatinya, adalah satu hal yang sulit dimengerti kalau seseorang menerima konsep takdir, sementara juga menyerukan pertobatan dan berbagai panggilan serta seruan untuk hidup di jalan Tuhan. Adam dan Hawa diciptakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas. Apakah kita bisa menutup mata terhadap realitas adanya pilihan tersebut? Ketika Tuhan melarang manusia pertama untuk tidak makan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat tetapi Ia tidak menyembunyikan pohon tersebut, sejatinya hal tersebut merupakan signal yang jelas akan adanya kebebasan memilih. Di dalamnya, Tuhan menghargai keputusan yang diambil oleh manusia, baik benar maupun salah, baik penurutan maupun pemberontakan. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa manusia harus menentukan keadaannya sendiri, khususnya menyangkut keselamatan kekalnya. Hal ini akan membuat seseorang menyikapi hidup dengan sikap dewasa dan bertanggung jawab. Hidup adalah perjuangan antara membawa diri kepada kehidupan kekal atau kebinasaan kekal. Inilah risiko kehidupan bagi manusia yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kej. 1:26-27). Keserupaan tersebut juga menyangkut kehendak bebasnya.

Pandangan salah di atas dapat melahirkan pemikiran bahwa manusia hanya menjadi objek, bukan subjek. Konsep ini tidak benar. Sikap ini sebenarnya justru merupakan sebuah sikap menciderai Allah. Memang harus diakui adanya “takdir mati” yang harus kita terima sebagai penentuan Allah; misalnya jenis kelamin, suku bangsa, dan orangtua kita. Merespons penentuan yang tidak dapat diubah dan dibatalkan ini, kita harus bersikap positif. Dalam hal ini, kita harus mengucap syukur atas apa yang Tuhan kehendaki terjadi dalam hidup kita. Kita harus percaya bahwa porsi yang Tuhan berikan kepada kita adalah penerjemahan kedaulatan Allah yang bijaksana, adil, dan dapat dipercayai. Ia memberikan kepada kita sesuai dengan bagian kita yang dipandang-Nya cocok untuk masing-masing kita. Dalam kedaulatan-Nya yang sempurna, Allah telah menentukan bagian kepada masing-masing individu. Masing-masing individu bukan harus menerima saja, tetapi juga mengucap syukur, sebab Tuhan tidak pernah salah dalam menentukan sesuatu.

Sedangkan takdir hidup maksudnya adalah keadaan seseorang yang bisa diubah atau dikembangkan demi kemajuan positif kehidupan masing-masing individu, dan terutama bagi kemuliaan Tuhan. Takdir hidup ini bisa dikategorikan sebagai nasib yang tidak permanen, artinya bisa diubah. Seseorang tidak dapat menolak terlahir dari keluarga miskin, tetapi ia bisa mengubah kemiskinannya menjadi kaya apabila ia rajin, giat bekerja, dan jujur. Dalam hal ini, peran manusia itu sendiri sangat menentukan keadaannya atau nasibnya (Gal. 6:7), terutama nasib kita di kekekalan. Maka, sekaranglah waktunya untuk kita membenahi diri agar kita ikut layak dimuliakan di Kerajaan-Nya.

Peran manusia sangat menentukan keadaannya atau nasibnya; terutama nasib di kekekalan, maka sekaranglah waktunya untuk kita membenahi diri agar kita ikut layak dimuliakan di Kerajaan-Nya.