Merindukan Kedatangan-Nya

Bagaimana kita bisa mengukur kita benar-benar bersukacita menyambut kedatangan Tuhan atau tidak? Ukurannya sederhana: apakah kita senang jika meninggal dunia? Apakah kita siap meninggal dunia? Bersuka tidak, meninggal dunia? Karena, meninggal dunia berarti kita bertemu Tuhan. Kalau Tuhan datang kembali; parousia, berarti Tuhan yang mendatangi atau menjemput kita. Tetapi kalau kita meninggal dunia, kita mendatangi Tuhan, berjumpa juga dengan Tuhan. Jadi, orang yang takut meninggal dunia, orang yang tidak senang meninggal dunia, pasti orang yang belum bersukacita. Tentu pergumulan ini pergumulan kita semua. 

Kalau kita tidak menantikan kedatangan Tuhan, tidak merindukan kedatangan Tuhan, berarti ada yang salah dalam hidup kita. Kita sedang bersuka dengan sesuatu, bukan bersuka untuk bertemu dengan Tuhan. Kita harus memeriksa diri sendiri, mengevaluasi, mengintrospeksi, dan mengukur, benarkah kita mencintai Tuhan? Dan kalau kita mencintai Tuhan, kita pasti merindukan kedatangan-Nya. Kita harus memaksa diri untuk merindukan Tuhan. Memang, ada banyak kesenangan yang menjadi kesukaan kita, yang membuat kita tidak sungguh-sungguh untuk merindukan bertemu Tuhan. Maka, kita harus memaksa diri untuk membunuh semua hasrat, keinginan, cita-cita, dan mengarahkan diri kepada Tuhan, dan menyatakan untuk hidup guna melakukan kehendak Tuhan saja. 

Jadi, baik kita makan atau minum, bekerja, berpacaran, menikah, punya anak, membangun rumah tangga, semua kita lakukan untuk kesukaan hati Tuhan. Dan orang yang benar-benar berusaha hidup untuk kesukaan hati Tuhan, itu orang yang akan merindukan Dia. “Sudah habis aku, Tuhan. Aku sudah selesai dengan diriku sendiri. Tidak ada yang kuingini, kuminati, kuhasrati.” Seperti pujian yang kita juga sering nyanyikan: “Tuhan, aku rela mengosongkan bejana hatiku” dari segala keinginan dan hasrat pribadi. Dan kita juga mengucapkan kalimat dalam lagu itu, di dalam syairnya: “Tuhan, penuhi aku dengan hasrat surgawi.” Kita harus nekat. Benar-benar seperti orang tidak waras. Dan memang dari kacamata umum, ini tidak waras. 

Menikah karena Tuhan, punya anak, berumah tangga, semua kita kerjakan untuk Tuhan, semua kita lakukan untuk Tuhan. Kita mau menjadi kesukaan hati Tuhan. Dengan demikian, hidup kita baru menjadi keharuman di hadapan Allah. Maka, dalam doa kita bisa berkata, “Tuhan Yesus, ajar aku memiliki keharuman seperti keharuman-Mu, sehingga aku menjadi keharuman di hadapan Bapa di surga.” Memang, tidak banyak orang yang nekat seperti ini. Tetapi berbahagialah kita yang nekat, karena hidup kita singkat. Kita tidak tahu kapan hidup kita berakhir. Dan kekekalan itu dahsyat. Intinya, hanya sedikit yang benar-benar bersuka; tidak banyak orang yang benar-benar bersuka untuk bertemu dengan Tuhan. 

Kita harus berusaha membunuh, mematikan semua hasrat, minat, keinginan pribadi kita, sehingga kita bisa mengatakan: “Tuhan, Engkau tujuan hidupku. Engkau gairahku. Engkau cintaku. Engkau minatku. Engkau hasratku, Tuhan.” Roh Kudus akan menolong kita mengelola batin dan hati kita, untuk bagaimana kita memiliki hanya satu ruangan dalam hidup ini, yaitu ruangan Tuhan. Kalau dulu, kita bagi-bagi berbagai ruangan, dan Tuhan punya satu ruangan. Sekarang, semua ruangan ini milik Tuhan. Ruangan kita hanya satu: ruangan Tuhan. Jadi, segala sesuatu harus dalam izin dan perkenanan Tuhan. Ini memang kedengarannya abstrak, tapi kita akan mengerti kalau kita menggumuli hal ini. 

Sedikit sekali orang yang benar-benar bersuka menyambut kedatangan Tuhan dan merindukan Tuhan. “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap;” jadi “sekalipun aku dalam keadaan yang susah, sulit, aku tidak minta dikeluarkan dari keadaan ini. Aku berserah. Apa yang Tuhan kehendaki, harus kujalani. Yang penting, bagaimana aku diproses untuk diubah menjadi manusia yang berkualitas. Dan dengan menjadi manusia yang berkualitas, aku bisa bersekutu dengan Bapa.” 

Jadi ketika Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup,” Tuhan Yesus menunjukkan betapa sulitnya sampai kepada Bapa, bukan betapa mudahnya masuk surga. Memang keselamatan hanya dalam Yesus Kristus. Hanya Dia yang memikul dosa manusia, yang karenanya ada pengadilan. Kalau tidak, maka tidak akan ada pengadilan. Semua manusia otomatis masuk neraka, siapa pun dia. Tapi dengan kematian Yesus di kayu salib menebus semua dosa dunia, maka ada pengadilan kepada semua orang. Tetapi, orang percaya bukan hanya diadili menurut perbuatannya sesuai dengan apa yang dipahami, sesuai hukum yang dipahami. Orang percaya dihakimi dengan ukuran berkenan kepada Allah. 

Seperti yang dikatakan dalam 2 Korintus 5:19 dan 20, berkenan kepada Allah itu ukurannya Yesus. Dialah model manusia yang berkualitas, yang harus dicapai orang percaya supaya bisa bersekutu sampai kepada Bapa. Jadi, “diperdamaikan” itu bukan sebuah wacana pasif, melainkan sebuah panggilan aktif. Berjuang untuk menjadikan Yesus jalan, mengikuti jejak-Nya, mengenal kebenaran; apa yang diajarkan dan yang diperagakan, sehingga menemukan hidup seperti hidup yang Yesus miliki. Barulah sampai kepada Bapa. Itu adalah perjuangan. Tapi untuk itu kita harus membunuh hasrat, minat, keinginan diri sendiri, dan semua cita-cita. Karena Alkitab berkata, “barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, dia sudah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya.” 

Kalau kita tidak merindukan kedatangan Tuhan, berarti ada yang salah dalam hidup kita.