Merelakan Hak

Salah satu hal yang perlu dilepas untuk benar-benar menjadi milik Tuhan dan merdeka dalam-Nya adalah hak kita. Manusia pada umumnya merasa memiliki hak untuk hidup sesuai dengan selera sendiri. “Hidup sesuai dengan selera sendiri” artinya seseorang merasa bebas berbicara apa pun, membeli apa pun, pergi ke mana pun, mempunyai apa pun, memilih teman dan jodoh siapa pun, dan lain sebagainya. Hal ini sering dianggap sebagai suatu kewajaran. Biasanya, orang merasa berhak memiliki hidupnya sendiri sepenuhnya. Padahal, seharusnya sebagai anak tebusan, semua hak kita telah diambil alih oleh Tuhan (1Kor. 6:19-20). Itu berarti kita tidak boleh lagi bebas melakukan apa pun. Ini adalah konsekuensi sebagai umat tebusan. Orang yang memberi diri ditebus adalah orang yang merelakan semua haknya diambil. Kalau kita memberi diri ditebus oleh Tuhan Yesus, maka kita harus rela dimiliki Tuhan sepenuhnya. Itulah sebabnya Paulus mengatakan dalam tulisannya bahwa kita bukan milik kita sendiri, tetapi Tuhan yang memiliki hidup kita sepenuhnya.

Kita yang telah ditebus oleh darah Yesus harus menyadari dan menerima bahwa kita tidak berhak lagi memiliki kehendak dari diri sendiri, tetapi melakukan kehendak Tuhan. Oleh sebab itu, orang percaya yang dewasa yang mengerti hal ini tidak akan mudah mengatakan “aku berhak memiliki keinginan,” sebab hidupnya hanya untuk melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, bukan cita-citanya sendiri. Memang logikanya dan fair-nya, kalau kita telah dimiliki Tuhan, kita tidak berhak memancangkan cita-cita dan kehendak kita sendiri. Inilah kehidupan yang dimiliki oleh Tuhan; kehendak Tuhanlah yang harus berkuasa secara penuh. Kita sebagai anak tebusan harus memberi diri tunduk terhadap kedaulatan Allah secara penuh. Inilah kehidupan dalam ketaatan penuh. Manusia memang dirancang untuk ini sejak manusia itu diciptakan.

Sebelum kita ada dalam situasi dimana segala keinginan harus dilepaskan, yaitu ketika ada di ujung maut, kita harus sudah belajar dengan rela dan sukacita melepaskan segala keinginan serta mengenakan prinsip: makananku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Inilah gaya hidup yang Tuhan Yesus ajarkan. Dan setiap orang percaya wajib hidup sama seperti Dia hidup. Ketika kita menjadi orang percaya, gaya hidup inilah yang Tuhan kehendaki kita kenakan dalam kehidupan ini. Tuhan Yesus sebagai teladan atau yang memulai dan kita meneladani atau mengikuti-Nya. Dalam hal ini, yang diikuti adalah kesediaan hidup dalam ketertundukan terhadap otoritas Bapa.

Ciri kehidupan orang percaya yang benar adalah tidak lagi memiliki keinginan-keinginan seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia. Kalaupun ada keinginan memiliki sesuatu, maka motif dasarnya adalah karena hendak menggunakannya bagi kepentingan Tuhan. Ini berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Mereka mengingini sesuatu atau mau mencapai sesuatu, pada dasarnya hanya untuk menambah nilai diri lebih dari orang lain atau kebanggaan bagi diri sendiri. Kebanggaan-kebanggaan inilah yang menjerat manusia menjadi gila hormat, sehingga menjadi anak Iblis. Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak Allah, tetapi kelakuannya tidak menunjukkan dirinya anak Allah. Kalau keadaan ini tidak disadari, akhirnya ia tidak pernah mengenal dirinya dengan benar sampai masuk api kekal. Untuk ini, gereja harus berbicara lantang mengenai hal tersebut.

Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan, tetapi mengisi jiwa kita dengan keinginan Tuhan semata-mata. Ini akan membuka kesempatan di mana kehendak Tuhanlah yang menguasai kehidupan kita. Dalam hidup ini, mestinya kita hanya mau melakukan kehendak-Nya. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Tuhan akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi kalau seseorang tidak berhasrat melakukan kehendak Tuhan, Ia tidak akan memberitahu apa yang dikehendaki-Nya. Harus dipahami bahwa Tuhan adalah Pribadi yang Mahamurah, tetapi ia bukan pribadi yang murahan.

Dengan kesediaan menanggalkan segala keinginan bukan berarti kemanusiaan kita hilang. Kita tetap sadar bahwa kita tidak pernah menjadi siapa-siapa; kita tetap manusia dengan segala unsur kemanusiaan yang tidak pernah lenyap. Dalam hal ini, Tuhan akan mengizinkan kita menikmati kesenangan-kesenangan sebagai manusia dengan berkat-berkat yang Tuhan sediakan bagi kita, baik berkat jasmani maupun berkat rohani. Satu pihak, kita melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan. Sisi yang lain, kita tetap menjadi manusia dengan menikmati segala kesenangan yang Tuhan berikan. Kalau kita mau melakukan keinginan Tuhan, dasarnya bukan sekadar karena peraturan atau takut dihukum, tetapi karena kita mau membahagiakan hati Tuhan. Tuhan sebenarnya bisa tidak membutuhkan kebahagiaan dari kita. Tuhan sudah bahagia. Tetapi kalau kita boleh menyenangkan hati-Nya, ini adalah suatu anugerah dan kehormatan yang luar biasa.

Orang yang memberi diri ditebus adalah orang yang merelakan semua haknya diambil.