Menunda Menabur

Gereja harus memberi pelayanan yang baik, yaitu mengajarkan kebenaran yang dapat mengubah cara berpikir atau paradigma jemaat. Gereja yang hanya mengajarkan mukjizat dan berkat-berkat jasmani untuk diklaim dari Tuhan adalah gereja yang memarkir jemaat di dalam dunia, sehingga jemaat berpikir secara duniawi. Jemaat seperti ini berpotensi tergiring ke dalam api kekal. Kalau orang didorong ke gereja hanya supaya memperoleh mukjizat dan berkat-berkat materi atau berkat jasmani serta pemenuhan kebutuhan jasmani, mereka sudah disesatkan. Kalau jemaat diajar untuk memperoleh berkat berlipat ganda, 30, 60, 100 kali lipat karena memberi persembahan, itu berarti suatu pembodohan sampai tingkat penyesatan, dan dampaknya adalah kebinasaan. Pendeta dari gereja-gereja seperti itu merasa bahwa mereka sedang melayani Tuhan dengan memberkati jemaat dengan berkat jasmani yang menurut mereka sebagai kebutuhan utama. Tanpa disadari, pendeta-pendeta tersebut sebenarnya menyesatkan jemaat dengan memindahkan fokus. Seharusnya, fokusnya ditujukan kepada Kerajaan Allah, tetapi karena ajaran pemenuhan kebutuhan jasmani, fokusnya disimpangkan.

Dalam hal ini, tidak sedikit gereja yang menjadi alat Iblis untuk menyesatkan jemaat agar terhilang dari hadirat Allah. Pendeta-pendeta yang sebenarnya bukan hamba Tuhan yang benar tersebut biasanya menjadi hamba uang yang dipakai Iblis untuk menyesatkan umat. Hamba Tuhan palsu seperti ini bukan berarti tidak bisa berkhotbah dan bukan berarti tidak bisa mengadakan mukjizat. Mereka adalah orang-orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan, memikat banyak orang untuk mengikut atau menjadi anggota gerejanya. Hamba Tuhan seperti inilah yang suatu hari akan ditolak oleh Tuhan Yesus (Mat. 7:21-23). Hal ini seharusnya tidak mengherankan, sebab memang dari dulu penyesatan juga berasal dari dalam. Setan bukan hanya bisa ada di luar saja, melainkan juga bisa melingkar di mimbar gereja dan mengajarkan ajaran yang tidak membawa jemaat kepada Allah dan Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya, Paulus menasihati anak rohaninya, Timotius, agar mengawasi dirinya dan mengawasi pengajarannya. Oleh sebab itu, pastinya setiap orang harus lebih memeriksa dirinya sendiri daripada menilai orang lain dan menghakimi.

Gereja yang benar adalah gereja yang mendorong jemaat untuk mencari Tuhan saja, yaitu bagaimana hidup berkenan kepada Allah, menjadi anak-anak kesukaan Allah yang melakukan kehendak Bapa. Gereja seperti ini pasti mengarahkan jemaat untuk fokus kepada langit baru dan bumi baru, yaitu rumah Bapa di surga, selalu menyadarkan jemaat untuk menghayati bahwa orang percaya berasal dari atas, bukan dari bumi. Dengan demikian, orang percaya dapat menghayati bahwa dunia ini ini bukan rumahnya. Gereja seperti ini adalah gereja yang membangun anggota keluarga Kerajaan Surga. Dalam hal ini, gereja seharusnya kembali kepada maksud tujuan keselamatan yang Allah berikan. Keselamatan diberikan bukan supaya manusia memiliki agama, melainkan supaya manusia memiliki kehidupan sesuai rancangan awal semula. Oleh sebab itu, fokus pelayanan gereja haruslah perubahan kehidupan jemaat, yaitu dari kehidupan yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Selain gereja mengajarkan kebenaran, para pelayan jemaat harus menjadi teladan bagaimana hidup seseorang yang telah dikembalikan ke rancangan Allah semula.

Seharusnya orang percaya mengerti bahwa dalam kehidupan ini, ada hukum atau tatanan yang tidak bisa dilanggar. Hukum itu adalah hukum tabur tuai. Kalau seseorang rajin bekerja, pada umumnya bisa atau pasti dapat memiliki harta lebih banyak. Tetapi orang malas tidak akan dapat dipercayai memiliki harta banyak, kecuali dengan cara-cara curang yang akhirnya akan membawa orang tersebut kepada kebinasaan. Orang percaya harus menjadi manusia yang bertanggung jawab, yaitu dengan bekerja rajin, menjaga pola hidup yang baik agar memiliki kesehatan yang prima. Doa untuk memperoleh berkat jasmani akan sia-sia kalau seseorang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian, sebenarnya masalah pemenuhan kebutuhan jasmani bukanlah masalah yang besar. Masalah yang besar adalah bagaimana seseorang menjadi anak-anak Allah yang menyukakan hati Bapa atau hidup berkenan kepada-Nya. Inilah hari yang tersulit di dalam kehidupan yang harus diutamakan atau dikedepankan. Bahkan, mestinya hal ini satu-satunya agenda hidup kita.

Hukum tabur tuai adalah hukum atau tatanan yang seharusnya menggetarkan jiwa kita, karena bukan hanya manusia yang tunduk pada hukum ini, melainkan Allah sendiri konsekuen untuk menegakkannya. Dengan memahami hukum tabur tuai, seharusnya setiap orang percaya tidak menunda untuk menabur apa yang mendatangkan kemuliaan di kehidupan yang akan datang nanti. Hal ini tidak boleh ditunda, sebab penundaan merupakan hal yang sangat besar, yang akan disesali dalam kekekalan. Orang yang selalu menunda apa yang seharusnya dilakukan untuk Tuhan dan Kerajaan-Nya adalah orang yang tidak menyadari betapa dahsyatnya hukum ini.