Menjual Diri

Hidup ini adalah perjuangan untuk menjadi berkenan yang harus dimulai dari dalam diri kita sendiri. Allah menyediakan sarana untuk proses pendewasaan atau penyempurnaan. Ada banyak peristiwa, banyak kejadian yang Tuhan izinkan kita alami, dimana kita harus memilih: apakah hidup menurut Roh, atau hidup menurut daging. Kalau kita membiasakan diri hidup menurut Roh, maka ketika ada peristiwa yang menyakitkan, kita akan dapat berkata, “ya, sudahlah;” “semua bisa dilewati.” Justru hal ini membentuk kita memiliki karakter Kristus, membentuk kelemahlembutan yang permanen. Bukan lemah lembut yang terpaksa; karena menghadapi orang yang lebih kuat, kita mengalah; tapi menghadapi orang lebih lemah, kita injak. Itu bukan lemah lembut yang benar. Lemah lembut yang benar adalah akumulasi dari gairah demi gairah yang benar sampai membangun karakter lemah lembut permanen. Jadi, jangan kita menjual diri kepada kuasa gelap hanya untuk kesenangan sesaat.

Terkadang kita lebih takut manusia daripada Tuhan. Demikian juga mengenai keinginan kita, dimana kalau kita membiasakan diri selalu memuaskan diri untuk memperoleh apa yang kita ingini—walaupun yang kita ingini itu bukan sesuatu yang melanggar moral umum, tetapi Allah tidak menghendakinya—ini juga merupakan pelanggaran. Kita merasa sah-sah saja dengan semua keinginan tersebut. Tapi jujur saja, di balik apa yang kita ingini, sering kali termuat kepuasan diri, atau kehormatan atau nilai diri. Kita harus ingat bahwa ketika kita menerima penebusan oleh Tuhan Yesus, berarti segenap hidup kita—termasuk pikiran, perasaan yang melahirkan kehendak—telah dimiliki oleh Tuhan. Bila yang kita ingini tidak sesuai dengan keinginan Tuhan, berarti kita menolak melayani Tuhan. Menolak melayani Tuhan bukan hanya berarti kita tidak mau mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja. Tetapi ketika kita menolak apa yang Allah ingini, kita menolak Tuhan.

Galatia 5:24-25 mengatakan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Jadi, kita tidak berhak mengingini sesuatu yang tidak dikehendaki atau tidak diingini oleh Tuhan. Tapi kita ini sudah banyak meleset, dan merasa sah-sah saja punya keinginan apa. Dengan mengingini sesuatu, maka jiwa hati kita terarah kepada sesuatu itu, dan kita menghamba kepadanya. Kita berpikir, kita tidak menghamba kepada Iblis, padahal sejatinya kita menghamba kepada Iblis, karena Iblis diwakili oleh “sesuatu” itu. Seperti di Lukas 4:5-8 Iblis berkata, “Kuberikan dunia ini kepada-Mu kalau Kau menyembah aku.” Dengan kita memfokuskan diri pada kekayaan dunia, kita sedang menyembah Iblis.

Menyembah Iblis di sini sama dengan menjual diri kepada kuasa kegelapan. Orang yang menjual diri kepada kuasa kegelapan dapat nampak normal secara lahiriah. Mereka tetap bekerja, menjalankan aktivitas, berkeluarga, bahkan bisa dihormati oleh masyarakat umumnya. Bahkan sebagian besar di antara mereka memiliki harta dan pengaruh di masyarakat. Bisa jadi mereka juga orang yang dipandang bermoral dan agamis di masyarakat. Namun secara batiniah sebenarnya mereka terjual pada kuasa kegelapan. Mereka tidak pernah mengalami penyempurnaan untuk semakin seperti Kristus. Mereka diparkir untuk menjadi manusia yang santun dan bermoral, tetapi tidak pernah menjadi seperti yang Allah kehendaki. Dengan demikian, mereka tidak memenuhi rancangan Allah semula dan menjadi bilangan orang-orang yang mengakhiri perjalanan kuasa kegelapan.

Sejatinya, setiap orang percaya dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Hal ini sama dengan pernyataan Paulus dalam Filipi 1:29, Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. Menderita untuk Tuhan paralel dengan menjaga hidup dalam kesucian yang bermuara pada keserupaan dengan Tuhan Yesus. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus memampukan setiap orang percaya untuk mencapai titik ini. Keselamatan dalam Tuhan Yesus bukan hanya membawa setiap orang menjadi beragama Kristen atau hadir ke gereja. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus mengembalikan manusia untuk mampu berkodrat ilahi, sehingga dalam setiap yang dipikirkan, diperkatakan, dan diperbuat, selalu sesuai dengan kehendak Allah. Ketika seseorang mampu menyelaraskan pikiran dan perasaan-Nya dengan Allah, di situlah ia sungguh terbukti sebagai milik Allah. Dalam tahap inilah seseorang dapat dikatakan lepas dari belenggu kuasa kegelapan, yakni dimana pikiran dan perasaannya tidak lagi ditentukan oleh suasana dunia. Pikiran dan perasaannya didominasi oleh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus. Oleh karenanya, setiap orang yang masih memiliki pikiran dan perasaannya sendiri tanpa bersedia untuk menundukkannya dalam Kristus, berarti tanpa disadari ia masih terjual pada kuasa kegelapan.

Jangan kita menjual diri kepada kuasa gelap hanya untuk kesenangan sesaat.