Menjaga Diri

Ciri lain dari seorang yang mengalami kemerdekaan dalam Tuhan adalah tidak lagi tertarik akan keindahan dunia. Tidak tertarik akan keindahan dunia berarti tidak lagi terikat dengan kekayaan. Masalahnya sekarang adalah mengapa orang terikat dengan kekayaan? Itu karena mereka memandang kekayaan sebagai jaminan hidup yang menentukan keamanan dan kebahagiaan hidup. Banyak orang berpikir bahwa dengan harta berlimpah, ia merasa lebih aman dan bahagia. Itulah sebabnya orang berusaha menambah jumlah harta sebanyak mungkin. Sebab dengan semakin banyak hartanya, hidupnya merasa semakin terjamin. Filosofi hidup seperti ini sudah mendarah daging dalam kehidupan banyak orang, dan diterima sebagai standar hidup yang wajar, termasuk oleh orang-orang Kristen. 

Tidak mengherankan kalau banyak orang Kristen yang sebenarnya terbelenggu dalam ikatan dosa ini. Rupanya, filosofi hidup seperti ini sudah ada sejak zaman Tuhan Yesus. Hal ini dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan orang kaya dalam Lukas 12:16-21. Orang kaya ini adalah gambaran kehidupan manusia hari ini yang merasa kurang aman dan kurang terjamin, serta kurang bahagia sebelum hartanya semakin berlimpah. Tuhan Yesus mengatakan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Kalau Tuhan mengingatkan kita untuk berjaga-jaga, berarti hal ini tidak boleh dianggap sepele. Kita harus sungguh-sungguh berjaga-jaga, artinya berusaha menghindar dari cara hidup dan filosofi hidup seperti itu. 

Peringatan serupa dilanjutkan Tuhan dalam Lukas 21:34, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Dalam ayat ini, orang percaya diingatkan Tuhan untuk secara aktif menjaga dirinya masing-masing, bukan Tuhan yang menjaganya. Setiap orang percaya harus menjaga dirinya agar tidak terlena dengan keindahan dan kenyamanan yang dunia tawarkan sehingga sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka yang terlena dengan keindahan dan kenyamanan dunia, kelak akan menyesal ketika hari Tuhan tiba-tiba datang. “Hari Tuhan” di sini berbicara mengenai akhir zaman ketika Ia datang kembali, namun bisa juga dikaitkan dengan kematian yang merupakan ‘hari Tuhan’ bagi setiap orang. Panggilan setiap orang percaya adalah meninggalkan cara hidup dunia untuk mempersiapkan kehidupan yang akan datang. Untuk itu, orang percaya sama sekali tidak boleh terikat dengan kekayaan, fasilitas, kesenangan, dan kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia.

Penyebab orang terikat dengan kekayaan adalah karena berbagai keinginan yang menguasai dirinya. Keinginan untuk memiliki berbagai barang yang dimiliki orang lain merupakan dorongan seseorang berusaha memiliki harta sebanyak mungkin, sebab dengan uang, ia dapat memuaskan segala keinginannya. Dunia hari ini adalah dunia yang memasuki semangat hidup afluenza, yaitu konsumerisme tanpa batas. Keinginan diumbar sehingga menjadi liar tak terkendali, artinya bisa diarahkan ke mana saja, kapan saja, di mana saja, dan dengan apa saja. Hati dan pikiran manusia bisa ternganga dan bisa menyerap apa pun yang ditawarkan. Dunia akan menawarkan berbagai fasilitas yang mendorong manusia memilikinya. Itulah sebabnya, dunia iklan atau advertensi begitu berkembang sebagai sarana untuk menarik minat manusia memiliki semua yang dapat ditawarkan. Dengan hal itu, manusia menjadi konsumeristik. Banyak orang merasa hidupnya tidak lengkap sebelum memiliki semua yang disediakan dunia. Dengan cara inilah Iblis menggiring manusia untuk tidak mengingini dan memiliki Tuhan.

Dunia hari ini adalah sebuah dunia tanpa Yesus, tanpa Juruselamat. Dunia tanpa Yesus sebenarnya tidak terlalu mengherankan, karena banyak penduduk dunia memang sudah menolak-Nya. Mereka sibuk dengan urusan sendiri. Namun, sangatlah menyedihkan kalau gereja-gereja pun tanpa Yesus, dan orang Kristen pun tanpa Yesus. Hal ini terjadi sebab orang-orang Kristen tersebut sebenarnya belum menjadi anak Allah. Orang Kristen seperti ini menolak keselamatan dari Tuhan. Mereka yang menolak keselamatan ini juga termasuk orang-orang Kristen yang semangat hidupnya tertuju kepada dunia ini. Orang Kristen yang hatinya tertuju kepada fasilitas dunia, pasti mata hatinya tertutup, sehingga tidak melihat cahaya Injil kemuliaan Kristus. Kalau mata hati seseorang sudah buta terhadap Injil, tidak akan ada proses dikembalikan ke rancangan semula. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang gagal menjadi anak-anak Allah, sebab mereka lebih memilih dunia. Oleh sebab itu, kita harus berani memilih Tuhan dan Kerajaan-Nya saja, sehingga kita dapat terlepas dari ikatan dunia dan dapat mengenali kemuliaan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kita akan dibuat oleh Tuhan lebih bisa menghayati kemuliaan Kerajaan Surga, sehingga keindahan dunia semakin pudar. 

Setiap orang percaya harus menjaga dirinya agar tidak terlena dengan keindahan dan kenyamanan yang dunia tawarkan sehingga sibuk dengan urusannya sendiri.