Menghayati Kekekalan

Ada satu hal yang kita harus selalu ingat dan ini mendasari semua cara kita berpikir. Jangan anggap ini hal sepele dan sudah terlalu usang untuk dibicarakan. Ini harus selalu kita ingat bahwa manusia adalah makhluk kekal. Dengan kita menghayati bahwa kita adalah makhluk kekal, hal ini membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Yang jelas, kita lebih serius berurusan dengan Allah. Dan ini yang membedakan kita dengan makhluk ciptaan lain; apakah itu tumbuh-tumbuhan, atau hewan. Kalau kita membaca dalam kitab Kejadian, manusia itu diciptakan dengan cara yang sangat khusus, unik, berbeda dari penciptaan Allah atas ciptaan yang lain. Sebab ketika manusia diciptakan, Allah mengembuskan nafas kepada manusia. 

Alkitab menjelaskan bagaimana Allah menciptakan manusia; Allah mengembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidung manusia sehingga manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7). Allah menaruh yang namanya nishmat chayyim. Inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang hidup, yang artinya tidak pernah mengalami kematian seperti makhluk lain. Namun memang pada akhirnya, Adam dan Hawa melanggar perintah Allah, sehingga mereka mengalami kematian secara fisik. Fisiknya atau raganya mati, tapi jiwa rohnya masih abadi, masih sadar. Kalau hewan, raganya mati, kesadarannya sudah hilang sama sekali. Tetapi manusia tidak demikian. Raganya atau fisiknya mati, dikubur, tetapi kesadarannya masih tidak hilang, di dalam roh. 

Roh dan jiwanya itu masih kekal, abadi, ada, dan dalam kesadaran. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan, “Jangan kamu takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa dan membuangnya ke dalam neraka.” Maka hanya manusialah yang bisa mengalami dua kali kematian. Ada kematian jasmani, tapi juga ada kematian kekal; Wahyu 20:14, “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api, itulah kematian yang kedua. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api.” Ini tidak bermaksud menakut-nakuti atau mengancam. Jika kita bertobat karena takut atau karena ancaman, itu merupakan pertobatan yang tidak natural. Bukan pertobatan yang baik atau berkualitas. 

Tuhan mau pertobatan kita merupakan pertobatan yang tulus, lahir dari kesadaran akan kebenaran, sikap hormat kepada Allah, takut akan Allah, hati yang sungguh mengasihi Allah, dan kerelaan yang tulus meninggalkan dosa. Kalau tidak bertobat dengan sungguh-sungguh, bukan hanya fisiknya yang mati melainkan juga jiwa, rohnya pun juga bisa terbuang ke dalam lautan api. Ini yang menakutkan. Lebih menakutkan dari kematian fisik. Kalau hanya kematian jasmani, itu bukan sesuatu yang bisa dikatakan sebagai kecelakaan yang mahadahsyat. Kecelakaan yang lebih dahsyat atau mahadahsyat terkait dengan kehidupan manusia adalah ketika terpisah dari hadirat Allah. Dalam Matius 10:28 dikatakan, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah kepada Dia, Allah, yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Ini peringatan yang harus benar-benar kita perhatikan. 

Kiranya kita selalu mengingat bahwa kita adalah makhluk kekal. Hal ini akan membuat kita berurusan dengan Allah lebih serius, dan lebih sungguh-sungguh. Sebab kalau orang tidak sungguh-sungguh menghayati dirinya adalah makhluk kekal, apa yang dia lakukan? Jangan kita seperti mereka yang tidak memiliki pengertian, sehingga mereka sembarangan dalam hidup. Di dalam 1 Korintus 15:32 Paulus mengatakan, “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja, aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus. Apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Artinya, kalau manusia hanya berhenti sampai di kematian, setelah itu tidak ada kesadaran, kita puas-puaskan saja apa yang bisa kita nikmati hari ini. Tetapi, ternyata ada kebangkitan. Ini masalahnya. 

Maka seharusnya waktu hidup kita yang singkat ini, kita gunakan untuk mempersiapkan diri guna kehidupan di balik kematian nanti, di kekekalan. Manusia yang sungguh-sungguh menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal pasti menjadi lebih mulia dalam perilakunya dibanding orang yang tidak menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal.

 

Manusia yang benar-benar menghayati bahwa dirinya makhluk kekal pasti lebih mulia dalam perilakunya dibanding orang yang tidak menghayati bahwa dirinya makhluk kekal.