Menghayati Kehadiran Allah

Kita harus bersedia benar-benar serius mencari Tuhan, dan mengalami Tuhan. Tuhan harus menjadi segalanya dalam hidup ini. Kita harus benar-benar ngotot mencari Tuhan, lebih dari mencari uang, harta, karier atau apa pun juga. Kita juga harus benar-benar ngotot mengerahkan semua potensi kita untuk dapat mengalami Tuhan. Kita tidak boleh merasa puas dengan keberadaan kita sebagai jemaat yang sudah rajin ke gereja, sebagai aktivis jemaat, sebagai pendeta, sebagai dosen sekolah teologi, sebagai ketua sinode dan lain sebagainya. Kita harus selalu merasa kurang, selalu haus untuk mengalami perjumpaan dengan Allah. Dengan demikian kita dapat menghayati kehadiran Allah. Orang yang menghayati kehadiran Allah dapat dilihat cirinya, sebagai berikut:

Pertama, orang yang menghayati kehadiran Allah tidak memiliki perasaan takut terhadap hari esok, tidak takut terhadap masa depan, tidak takut terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya yang bisa mengancam hidupnya. Orang seperti ini tidak bisa hidup di dalam ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran.  Selama seseorang tidak memberontak kepada Allah dan selalu hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah, mestinya tidak ada yang ditakuti dalam hidup ini. Tidak ada yang membuat dirinya gentar. Orang yang gagal menghayati kehadiran Allah, ciri paling mudah terlihat adalah takut di tempat gelap karena yakin dan merasa ada setan. Orang seperti ini lebih percaya adanya setan daripada adanya Allah dan malaikat-malaikat kudus yang melindungi dan menjaganya. Ini sebenarnya orang yang gagal menghayati kehadiran Allah. Orang seperti ini juga memiliki perasaan takut mengenai hari esok, kalau-kalau dapat atau akan terjadi sesuatu atas dirinya. Mestinya selama kita tidak memberontak kepada Allah, selama kita hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah, tidak ada yang membuat kita takut.

Kedua, orang yang menghayati kehadiran Allah, hidupnya pasti bersih, tidak akan berani berbuat dosa. Karena tidak menghayati kehadiran Allah, maka tanpa sadar seseorang juga sering bersikap sembarangan, sehingga mudah berbuat sesuatu yang mendukakan hati Allah. Seperti pada waktu dalam percakapan seseorang menjadi sombong, tidak tulus dan senang membicarakan orang lain secara negatif. Karena gagal menghayati kehadiran Allah maka sebagai akibatnya seseorang menjadi tidak takut akan Allah secara benar. Sebenarnya keadaan ini sangat membahayakan, sebab jika terjadi berlarut-larut maka dapat membangun kebiasaan hidup yang tidak menghormati Allah. Orang yang tidak menghormati Allah pasti juga tidak mengasihi Allah. Dan orang yang tidak mengasihi Allah adalah orang yang terkutuk (1Kor. 16:22)

Ketiga, orang yang menghayati kehadiran Allah pastilah orang yang berani berkorban untuk pekerjaan Allah. Hal ini sebenarnya sulit dibicarakan, tetapi tetap harus dibicarakan dengan tegas dan jelas. Sejatinya, kalau kita diperkenan berkorban untuk pekerjaan Bapa sebagai pelayanan bagi Bapa, itu adalah sebuah kehormatan. Tentu pelayanan bagi Bapa adalah tindakan kasih kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau kita bisa berbuat sesuatu untuk sesama, dapat diperhitungkan sebagai tindakan yang kita lakukan untuk Tuhan sendiri. Bukankah ini sebuah kebahagiaan dan kehormatan yang tiada tara? Waktu kita berbuat sesuatu untuk orang yang kita tahu itu kita lakukan untuk Tuhan, air mata kita bisa berlinang, kita terharu, kita diperkenan berbuat sesuatu yang mulia sebagai persembahan bagi Allah yang Mahamulia.

 Keempat, orang yang menghayati kehadiran Allah pasti merindukan saat-saat jam doa. Sebenarnya kalau orang tidak ingin berdoa dan tidak merindukan jam doa, berarti gagal menghayati kehadiran Allah. Sikap hati tidak suka berdoa, hendaknya tidak dipandang sebagai hal kecil dan sepele, sebab kalau seseorang tidak merindukan jam doa berarti tidak merindukan Allah sendiri. Orang-orang seperti ini biasanya tidak hidup dalam keadaan bersih di hadapan Allah atau masih memiliki ikatan dalam percintaan dunia. Tidak mungkin orang-orang seperti ini merindukan Tuhan. Orang yang tidak merindukan Tuhan pasti tidak akan dapat menghayati bahwa dunia bukan rumahnya. Ini adalah orang-orang yang tidak merindukan Kerajaan Surga yang akan dinyatakan secara fisik suatu hari nanti. Kalau keadaan berlangsung berlarut-larut maka Tuhan pun juga tidak memperkenan dia masuk ke dalam Kerajaan-Nya. 

Ketika seseorang gagal menghayati kehadiran Allah, maka ia pasti tidak ingin bertemu dengan Tuhan Yesus. Akhirnya orang-orang seperti ini akan terbuang ke dalam api kekal. Orang seperti ini tidak layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Tidak mungkin orang-orang yang tidak merindukan Tuhan dan tidak merindukan Kerajaan Allah diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Orang-orang seperti ini biasanya lebih menghargai keindahan dunia daripada keindahan Kerajaan Surga. Mereka tidak pernah mendahulukan Kerajaan Allah, karena bagi mereka Kerajaan Allah bukan sesuatu yang menarik. Kiranya kita dijauhkan dari sikap ini.