Menggapai Puncak Kesempurnaan

Prinsip penting yang kita harus selalu ingat dan jangan kita disesatkan oleh pengajaran doktrin siapa pun dan dari mana pun bahwa sesungguhnya kita ini makhluk yang diberi Tuhan kebebasan untuk menentukan keadaan kekal kita. Adam dan Hawa tidak didesain untuk jatuh dalam dosa dan terbuang dari hadirat Allah. Kalau Adam dan Hawa terbuang dari hadirat Allah, itu karena keputusan dan pilihan Adam dan Hawa. Fakta ini sudah jelas memberi peta kehidupan. Jangan sampai hal ini diubah atau diganti. Alkitab adalah kebenaran yang mengemukakan fakta ini. Kita diberi Tuhan kendali dalam tatanan Allah; apa yang ditabur orang, itu juga yang dituai. Dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita bisa mengisi dan mengarahkan ambisi kita sesuai dengan keinginan atau kehendak kita sendiri, bukan keinginan atau kehendak Allah karena Allah memberi kita kebebasan. Apakah mengisi dan mengarahkan ambisi kita ke kanan atau ke kiri, ke bawah atau ke atas.

Menghayati dan menyadari betapa tragisnya hidup manusia—datang dan pergi seperti uap—betapa kita harus serius mengisi ambisi kita ini. Kalau kita datang dan pergi seperti manusia lain yang terbuang ke dalam api kekal, untuk apa kita menjadi manusia? Betapa celaka manusia yang datang di bumi tanpa melakukan kehendak Allah, hidup untuk kesukaan kesenangan diri sendiri, lalu pergi begitu saja. Lebih baik dia tidak pernah hidup atau lebih baik tidak pernah dihadirkan. Hal ini benar-benar mengerikan! Mestinya jiwa kita tergetarkan oleh realitas ini. Karenanya, kita harus mengisi ambisi dan mengarahkan ambisi kita ini ke arah yang benar. Tentu jawabnya adalah ke arah Tuhan. Masalahnya, ke arah Tuhan itu apa dan bagaimana? Kita mau mengisi dan mengarahkan ambisi kita hanya untuk satu hal, yaitu bagaimana kita bisa mencapai puncak kesempurnaan yang dapat manusia capai. Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Seberapa kesempurnaan yang bisa kita raih?

Sempurna seperti Bapa itu artinya tidak ada kejahatan, lemah lembut, menerima orang lain sebagaimana adanya, tidak ada kata yang salah, tidak melukai orang, tidak menyakiti orang, menjadi berkat, dan seterusnya. Dari hal kecil sampai hal besar. Bagaimana kita bisa mencapai puncak kesempurnaan itu? Apakah mungkin? Ternyata hal tersebut kita mulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan dalam hidup keseharian kita. Misalnya: sikap kita terhadap pasangan hidup, orangtua, anak, pegawai, pembantu, sopir, waktu berkendara, bagaimana kita dalam berbisnis, bagaimana kita dalam bersosialisasi dengan kolega, dengan bawahan, dengan atasan, dan lain sebagainya; yang semuanya itu harus sempurna. Tidak memiliki hati yang jahat dan melukai mereka, tidak membicarakan kesalahan orang di belakang, tidak membuat gosip, dan lain sebagainya.

Ini yang harus kita perjuangkan, yaitu bagaimana kita bisa mencapai puncak kesempurnaan yang bisa manusia capai. Perjuangan mencapai kesempurnaan harus menjadi satu-satunya ambisi kita. Suci itu bukan hanya tidak berbuat dosa, itu adalah kesucian pasif. Suci juga berarti aktif dalam melakukan segala sesuatu yang berkenan di hadapan Allah. Kita harus memiliki ambisi yang kuat, yang menyala, yang tidak pernah padam. Sehingga kapan pun, di mana pun akan membangun kehidupan yang akhirnya mendapat pengakuan dari Allah, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Jadi persinggahan sesaat kita di bumi untuk mendapatkan pengakuan ini. Setiap hari kita harus makin berjuang untuk mendapat pengakuan itu. Jangan berpikir karena pengakuan itu sudah diberikan kepada Yesus, maka kita ikut-ikutan mendapat pengakuan tersebut, itu salah. Ironis, banyak orang Kristen berpikir begitu atau tidak peduli dirinya berkenan atau tidak. Orang seperti ini tidak menghormati Allah. Jika kelak mereka bertemu dengan Tuhan, mereka akan gentar ketakutan.

Dengan rendah hati kiranya kita memperhatikan hal ini dan berubah. Jangan sombong! Gumuli hal ini, temui Tuhan, persoalkan apakah kita sudah mendapat pengakuan itu atau belum? Kalau belum, maka kita harus berjuang dengan lebih sungguh-sungguh. Jangan kita terganggu dengan apa kata orang bahwa kita “mencari selamat dengan kekuatan sendiri, atau keselamatan akibat perbuatan baik.” Itu pendapat mereka yang pikirannya pendek dan tidak mengerti konsep keselamatan yang benar. Keselamatan jelas oleh kurban Tuhan Yesus di kayu salib. Tanpa kurban-Nya, sia-sia semua yang dilakukan manusia. Mau baik bagaimana pun, sia-sia. Tetapi dengan adanya kurban Yesus, kita punya tanggung jawab untuk dimuridkan, diproses, bertumbuh dewasa dan berubah menjadi sempurna seperti Bapa. Oleh karenanya, jangan kita meninggal sebelum kita mendapat pengakuan berkenan; sebelum kita menggapai puncak kesempurnaan.

Jangan kita meninggal sebelum kita mendapat pengakuan berkenan; sebelum kita menggapai puncak kesempurnaan.