Mengendalikan Hati

Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Salah satu komponen yang dimiliki manusia yang juga dimiliki Allah adalah perasaan (dalam konteks ini, kata “perasaan” kita sebut “hati”). Hati manusia tidak dapat dimiliki oleh siapa pun, kecuali manusia itu sendiri. Di dalam hati itulah ada kedaulatan manusia. Allah bisa mengarahkan hati, tetapi Allah tidak akan pernah mengendalikannya. Oleh sebab itu, jangan sampai hati kita dimiliki oleh “pihak” lain. Kita yang harus mengendalikan hati kita. Kalau ibarat parabola, kita harus mengarahkan parabola hati kita itu dengan benar atau ke arah yang benar. Karena, dunia juga berusaha mengarahkan hati kita kepada arah yang dikehendaki oleh kuasa kegelapan. Hati kita harus kita arahkan kepada Allah dengan kesadaran, dan ini bisa kita lakukan dengan prinsip yang kita harus tahu bahwa tidak ada orang yang bisa melarang kita mengarahkan hati kita ke mana kita mau. Tidak ada subjek yang bisa mengarahkan hati kita, kecuali diri kita sendiri. Jadi kalau kita bermaksud mengasihi Allah, itu bisa. Sangat bisa. Tergantung dari kita. Sebaliknya, kalau kita tidak bermaksud mengasihi Allah, juga bisa.

Kalau kita terus-menerus mengarahkan parabola hati kita kepada Tuhan, nanti akan permanen terarah ke Tuhan dan tidak terarah ke yang lain. Kalau orang sudah terbiasa mengarahkan parabola hatinya ke dunia, ia akan permanen juga, dan tidak akan pernah terarah kepada Tuhan. Percayalah, orang yang paling beruntung dalam kehidupan ini—di bumi maupun di kekekalan—adalah orang yang mengarahkan parabola hatinya kepada Allah atau yang mengasihi Allah. Selagi kita masih bisa mengarahkan parabola hati kita kepada Allah, mari kita arahkan. Kita terus bertekun, bertahan, dan teguh dalam integritas mengarahkan parabola hati kita kepada Tuhan. Sampai kita tidak bisa menarik cinta kita. Kita tidak bisa menarik cinta kita kepada Tuhan sebab hati kita hanya terarah kepada Tuhan. Tuhan pasti menolong kita untuk itu, kalau memang kita berhasrat untuk itu. Dan ini harus kita lakukan sekarang. Sebab makin kita tua, kelenturannya makin berkurang.

Jangan sampai kita terlanjur mengasihi dunia atau objek apa pun dan siapa pun, sehingga kita tidak mengarahkan, artinya tidak dapat mengarahkan hati kita kepada Tuhan. Kita tidak mampu lagi mengasihi Allah. Dan Iblis mengupayakan supaya orang tidak bisa mengasihi Allah karena terkunci atau terbelenggu atau terpasung mengasihi dunia atau materi atau kekayaan. Seperti orang kaya di Matius 19 yang tidak bisa lagi meraih hidup kekal, karena hatinya telah terpasung oleh kekayaannya. Menjadi kaya tentu bukan sebuah kesalahan. Tetapi yang bermasalah adalah keterikatan dengan kekayaan tersebut. Keterikatan semacam ini mendatangkan kebinasaan bagi manusia. 

Ini sama dengan orang yang terlalu lama dalam kebiasaan hidup yang tidak sesuai kehendak Tuhan, akan terpasung di situ. Jadi yang bisa membelenggu, mengikat, memasung hati orang bukan hanya uang, melainkan juga kebiasaan-kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, tidak sesuai dengan kesucian Allah. Kalau orang misalnya tidak jujur, terus-menerus tidak jujur, sampai tidak bisa jujur. Dan Iblis sering mengondisi orang di keadaan seperti itu. Makanya kita bisa menemukan orang-orang Kristen di dalam gereja yang tidak pernah bisa mengerti kebenaran, karena memang sudah terbiasa jahat terhadap sesamanya. Jadi, walaupun kita menjadi orang yang rajin ke gereja, menjadi aktivis, bahkan pendeta, namun kalau kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita miliki tidak kita lumatkan, tidak kita binasakan, tidak kita gerus, tidak kita buang, itu akan membuat kita binasa. Karena Alkitab berkata orang dihakimi menurut perbuatan, bukan menurut iman. Ya, karena perbuatannya itu menunjukkan imannya.

Jadi kalau orang mengaku percaya Yesus tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan kehendak Allah, berarti ia tidak percaya. Yang percaya, yang selamat. Yang tidak percaya, binasa. Jiwa kita sudah dipengaruhi dunia ini, dan kalau tidak kita sadari, itu bahaya. Maka, kita harus memiliki kegentaran terhadap Allah, sehingga dijauhkan dari keadaan menghujat Roh Kudus. Karena proses menghujat Roh Kudus itu bertahap, dan banyak tidak disadari oleh orang. Iblis tentu cerdas, cerdik mengemas proses membawa orang itu kepada keadaan menghujat Roh Kudus. Kita harus membangun hati yang gentar akan Allah. Supaya kalau kita punya kesalahan, sekecil apa pun, kita menyadari kesalahan itu. Itulah sebabnya dikatakan, “Bangunlah kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu. Karena itu, perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup. Janganlah seperti orang bebal (asophia), tapi seperti orang bijak (sophia)” (Ef. 5:14-15). Kalau orang ceroboh hidup, maka lambat laun akan sampai pada keadaan menghujat Roh Kudus. Mari kita berjuang untuk bisa memiliki hati yang takut akan Allah. Dari hati yang takut akan Allah, kita bisa mengasihi Allah. Dengan hati yang mengasihi Allah, kita menjadi kekasih Allah.

Orang yang paling beruntung dalam kehidupan ini—di bumi maupun di kekekalan—adalah orang yang mengarahkan parabola hatinya kepada Allah; dan semua ada dalam kendali masing-masing pribadi.