Skip to content

Mengancam Ketenangan

Salah satu ciri dari kehidupan seseorang yang benar-benar bertumbuh adalah kesepian. Ketika kita bertumbuh di dalam iman, makin dewasa rohani, semakin mencintai dan menghormati Tuhan, semakin hidup suci, takut akan Allah, tidak mencintai dunia, keindahan dunia menjadi pudar di mata kita, maka di situ kita akan mulai merasakan kesepian. Karena kita mulai merasakan tidak banyak orang yang bisa kita ajak berbagi perasaan dan membicarakan pokok-pokok bahasan yang sama dengan kita. Fokus kita sudah langit baru dan bumi baru, Kerajaan Surga. Tetapi tema dan fokus banyak orang dalam percakapan masih seputar hal-hal dunia. 

Kita mulai tidak nyambung, mulai tidak ‘klik’ dengan mereka yang dulu dekat. Kita mulai kehilangan mereka. Dan cepat atau lambat mereka pun akan merasa kehilangan kita. Kita mulai tidak banyak teman. Bahkan sampai pada titik tertentu, kita tidak punya teman. Itu adalah ciri atau gejala dari orang yang benar-benar bertumbuh di dalam iman; makin dewasa rohani, makin hidup kudus tak bercacat tak bercela, makin tidak mencintai dunia, mulai fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, mulai menghayati dunia bukan rumah kita, makin berkerinduan bertemu dengan Tuhan muka dengan muka. Bersyukur kita mengalami hal ini. 

Selanjutnya, kita akan mendapatkan tantangan dan serangan dari berbagai pihak. Bukan hanya orang-orang di luar gereja, justru dari orang-orang di dalam gereja. Karena kita dianggap aneh, cara hidup kita mengancam mereka. Hidup dalam kekudusan, hidup tetap ada di hadirat Allah, hidup meneladani Yesus Kristus adalah hidup yang sulit, hidup yang berat. Ketika kita mulai bicara tentang kekudusan, maka kita akan dianggap sombong, dinilai merasa lebih benar dari orang lain, padahal kita tidak bermaksud begitu.

Seruan untuk hidup tak bercacat tak bercela, lalu kerinduan langit baru bumi baru mengancam ketenangan orang yang masih mau menikmati dunia ini.  Seakan-akan orang berkata, ‘boleh sungguh-sungguh, tapi jangan terlalu ekstrem.’ Yang namanya ekstrem itu selalu diasumsikan negatif, demikian juga fanatik, selalu diasumsikan negatif. Padahal mestinya untuk Tuhan dan Kerajaan-Nya, kita harus seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya. Untuk kekudusan mestinya kita seekstrem-ekstremnya, sefanatik-fanatiknya. Kalau ada kata yang lebih tajam, lebih keras dari ini, kita gunakan. 

Untuk Allah, Bapa Yang Maha Kudus kita harus menyerahkan hidup kita tanpa batas kepada-Nya. Mendengar kata ‘tanpa batas,’ mungkin kita dianggap bercanda atau main-main atau dianggap sedang mengintimidasi orang untuk menarik harta mereka untuk diri kita. Mendengar kata ‘tidak menyisakan,’ kita dianggap sedang mengintimidasi orang, memperdaya orang untuk memperkaya diri. Kita mungkin tidak bisa berbicara apa-apa dan memang tidak boleh banyak bicara, kita diam-diam-diam. Sementara itu kita terus membenahi diri. Karena untuk menjadi seorang yang benar-benar bersih di mata Tuhan, lurus, kudus tak bercela, tulus, bukan sesuatu yang mudah. Karena kita sudah biasa hidup di dalam kelicikan, kepura-puraan, egois dengan kecerdasan yang kita miliki, hidup suka-suka sendiri dan kita cerdas membangun argumentasi atau alasan kenapa melakukan ini atau itu. 

Padahal kita tidak memperkarakannya di hadapan Tuhan, apa penilaian Tuhan terhadap diri kita. Itu yang terjadi dalam hidup ini. Tetapi kita akan terus memandang Tuhan, tidak terpengaruh oleh keadaan dunia sekitar kita. Dunia sekitar kita sudah sangat-sangat-sangat gelap. Standar hidup kekristenan yang mestinya dipahami dan dikenakan, jauh dari pengertian banyak orang. Standar hidup kekristenan yang kita miliki itu sesungguhnya hanya satu: serupa dengan Yesus dan sempurna seperti Bapa. Itu berarti gaya hidup Tuhan Yesus yang harus kita kenakan.

Roh Kudus pasti menuntun kita bagaimana kita mengenakan kehidupan Yesus yang pernah Yesus jalani 2000 tahun yang lalu di Palestina, dalam hidup kita hari ini. Liku-liku, pernik-pernik kehidupan Yesus, Roh Kudus akan ajarkan kepada kita dan itu sangat pribadi sifatnya. Tidak ada orang tahu dan memang tidak perlu orang tahu. Kalau kita membaca surat Paulus, Roh Kudus menolong kita menangkap perasaan Rasul Paulus, kecintaannya kepada Tuhan, kegigihannya dalam pelayanan. Dan di situ kita akan merasakan sentuhan-sentuhan yang belum pernah kita alami sebelumnya. Kita mau bertekun mencari Tuhan. Apa pun yang terjadi. Dunia sudah sangat gelap.  Bukan hanya di lingkungan di luar gereja, juga di dalam gereja. Standar kehidupan Kristiani yang mestinya dikenakan, tidak dikenakan. Kita tidak merasa dan tidak boleh merasa paling baik, tapi kita harus bukan hanya baik, melainkan sempurna.

Seruan untuk hidup tak bercacat tak bercela, kerinduan langit baru bumi baru mengancam ketenangan orang yang masih mau menikmati dunia ini.