Skip to content

Menemukan Kemuliaan Tuhan

Tidak ada kemuliaan apa pun selain Tuhan. “Kemuliaan” berasal dari kata “mulia.” Mulia artinya “agung,” bisa berarti “besar, bernilai tinggi, sangat berkualitas, luhur.” Jadi, tidak ada kemuliaan selain Tuhan. Satu kali ada seorang datang kepada Yesus dan berkata, “Guru yang baik, apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, “Tidak ada yang baik selain Allah.” Ini sama dengan “tidak ada yang mulia selain Allah.” Jika kita percaya hal ini, maka dalam hidup ini yang kita cari hanya Tuhan. Jangan dibalik. Mencari dunia dengan memakai Tuhan sebagai alat, kekuatan, sarana. Kita harus menggunakan apa pun yang ada pada kita, semua potensi; kemampuan, harta, uang, untuk menemukan Tuhan.

Memang menemukan Tuhan bukan sesuatu yang mudah. Jadi, jangan merasa sudah menemukan Tuhan hanya karena sudah beragama, ke gereja, sudah berdoa. Menemukan Tuhan artinya bersekutu dengan Tuhan, menjadi satu dengan Tuhan (in bound in God). Ini harus diperjuangkan, karena kita tidak bisa menjadi satu ikatan dengan Tuhan, tidak bisa ada dalam persekutuan dengan Tuhan kalau karakter kita tidak mengimbangi Allah. Allah yang mulia hanya bisa bersekutu dengan manusia yang mulia. Roh Kudus akan menolong kita untuk menjadi manusia yang mulia, memiliki sifat-sifat Allah; kelembutan, belas kasihan, kemurnian, dan sifat-sifat Allah yang lain. Dan memang inilah rancangan Allah semula: menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah. 

Tetapi kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan; kehilangan sesuatu yang bernilai. Dan yang bernilai itu hanya Allah. Manusia tidak bisa segambar dan serupa dengan Allah, manusia tidak memiliki sifat-sifat Allah. Dan inilah yang dimaksud kehilangan kemuliaan. Sebab, tidak ada kemuliaan selain Allah. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia segambar dan serupa dengan Allah, yang sama dengan agar manusia menemukan kemuliaan itu. Dan kemuliaan itu adalah sifat, karakter dari Allah. 

Jadi, bagaimana kita bisa menemukan kemuliaan itu? Kalau kita menemukan Allah. Bagaimana kita bisa menemukan Allah? Kalau kita terikat dalam persekutuan dengan Tuhan. Dan itu bukan hanya datang ke gereja, bernyanyi memuji Tuhan, melainkan setiap saat hidup di hadirat Allah, setiap saat hidup dalam persekutuan dengan Allah. Hal ini harus benar-benar diperjuangkan. Karena, mengubah karakter, watak, sifat kita yang duniawi, yang kedagingan, yang telah tercemari oleh dunia, terpapar oleh sifat-sifat dosa, tidak mudah. Karakter dosa itu melekat dan seakan-akan menjadi bagian yang menyatu tak terpisahkan, bagian integral di dalam diri kita. 

Tetapi, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Roh Kudus menolong kita sehingga kita bisa terus bertumbuh untuk mengenakan kodrat ilahi; memisahkan manusia daging dan manusia roh, lalu membuat manusia daging kita dimatikan, supaya manusia roh kita tumbuh kuat, atau dengan kalimat lain supaya Kristus hidup di dalam diri kita. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang berharga. Jangan membuang waktu, tenaga, pikiran untuk hal yang tidak mulia. Jadi kalau Alkitab berkata, “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” Segenap dunia, kurang banyak apa? 

Karena dunia ini bukanlah sesuatu yang bernilai tinggi, bukan sesuatu yang mulia. Yang mulia hanya Tuhan. Kemuliaan hanya kita peroleh di dalam Tuhan. Jadi, jangan sampai kita membuang waktu, tenaga, pikiran, untuk hal yang sia-sia dan tidak bernilai. Kita bersyukur mendapatkan peringatan ini sebelum melanjutkan hari hidup kita. Sebelum melewati minggu, bulan-bulan, dan tahun-tahun panjang ke depan, kita dilengkapi dengan firman ini, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?”

Jadi, kita harus camkan hal ini! Kita meteraikan di dalam jiwa, hati, dan pikiran kita bahwa tidak ada yang mulia kecuali Allah! Tidak ada yang mulia kecuali Tuhan! Jadi sesuatu yang sangat bisa beralasan ketika pemazmur mengatakan, “Tidak ada yang kuingini di bumi ini selain Engkau.” Dan tidak berlebihan kalau Paulus juga menulis, “Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi! Pikirkan perkara yang di atas, di mana Kristus ada duduk di sebelah kanan Allah Bapa.” Pikirkan Tuhan, temukan Dia! Hidup dalam persekutuan dengan Allah! Ini menjadi kebahagiaan kita yang seperti api yang menyala di hati kita. 

Seperti mesin uap kapal yang menggerakkan kapal, mesin uap kita itu gairah untuk menemukan Allah. Jadi kalau kita doa setiap pagi, itu bukan hal yang istimewa. Itu biasa! Orang dari pagi sampai sore dan dari sore sampai pagi lagi, mencari uang. Itu biasa, karena uang dianggap mulia, bernilai tinggi, dan berharga. Kalau kita, tidak demikian. Kita memang kerja keras, rajin, tetapi kita menyediakan hati kita untuk Tuhan. Kita lakukan segala sesuatu hanya karena kita mau bertumbuh sempurna, memiliki sifat Allah, bisa bersekutu dengan Allah, dan ini menjadi bekal kekal kita!