Memuliakan Allah dengan Sikap Hati

Satu hal yang harus kita imani adalah Allah yang disembah oleh Musa adalah Allah yang hadir dan ada di bumi yang sama; di bumi di mana Musa pernah hidup. Apa yang ditulis di dalam Alkitab, bukan dongeng dari sebuah negeri entah berantah. Bukan seperti cerita dongeng yang ditulis oleh H.C. Andersen atau penulis buku-buku fiksi lain. Alkitab ditulis oleh orang-orang yang mengalami Tuhan dengan pimpinan Roh Kudus. Maka di tengah-tengah banyaknya tekanan berat yang kita alami dalam hidup ini, kita tetap memiliki prinsip, yaitu diam, mengandalkan Tuhan, dan menjaga kesucian; kesucian pikiran, kesucian perkataan, kesucian seluruh aspek hidup; walau ini memang tidak mudah. Jangan marah kepada Tuhan, jangan memberontak kepada Tuhan, jangan menyalahkan orang lain. 

Jadi kalau kita menghadapi masalah—dengan orangtua, anak, pasangan hidup, rekan sekerja, atasan di kantor atau bawahan—baiklah kita berprinsip begini: “Kalau Tuhan mengizinkan semua itu terjadi, siapa kita yang bisa melawan dan mempertanyakan ‘mengapa?’” Hal itu akan membuat kita menerima apa pun yang terjadi, sehingga dengan pikiran jernih kita bisa mengambil hikmah pelajaran rohani, pendewasaan yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita. Di tengah-tengah situasi seperti itu, yang pertama Tuhan mengingatkan bahwa takhta-Nya tetap, tidak bergerak, tidak bergeser. Dia Allah yang memerintah, yang berkuasa, yang mengontrol dan mengendalikan segala sesuatu. Yang kedua, bahwa Dia Allah yang berkuasa di bumi yang sama; bumi di mana Musa pernah hidup, dengan segala keajaiban yang dirasakan oleh bangsa Israel dan Musa sendiri. 

Hal itu dimaksudkan agar kita menjadi kuat bahwa ada pemerintahan yang masih terus berlangsung, pemerintahan yang kekal, yaitu pemerintahan Elohim Yahweh. Dan agar kita percaya, jika kita benar-benar hidup tidak bercela di hadapan Allah—kita memberikan hidup kita untuk melayani Dia, mengabdi kepada-Nya—maka Tuhan yang menjadi Pembela kita. Jadi, kita tidak boleh sedikitpun takut. Kalau ada ketakutan atau kekhawatiran, itu menunjukkan bahwa kita tidak memercayai Dia. Kalau Dia ada, kita percaya Dia menyertai kita. Allah kita kuat. Jangan ada sedikitpun ketakutan atau kekhawatiran. Memang sebagai manusia bisa muncul ketakutan dan kekhawatiran dalam menghadapi dunia kita hari ini, menghadapi hari esok. Tetapi, percayalah bahwa Dia hidup, Dia hadir, dan Dia berkuasa. Muliakanlah Allah dengan sikap hatimu. 

Mari kita muliakan Allah dengan sikap hati kita dan percaya bahwa Dia menyertai kita. Apa pun yang terjadi, itu semua dalam kontrol Allah yang hidup. Apa pun yang terjadi. Di sini kita harus juga dipersenjatai dengan pikiran bahwa kalau Allah menghendaki sesuatu terjadi, siapa kita yang berani melawan. Seperti Daud yang dikutuk oleh Simei; dihujat, dilempari batu. Pada waktu Daud melarikan diri dari serangan Absalom, anaknya. Hulubalang Daud mau memenggal kepala Simei, Daud berkata kepada hulubalang itu, “Apa urusan kamu dengan aku, biarlah dia mengatakan itu kalau Tuhan suruh dia begitu, siapa yang berhak bertanya dan mengapa kau lakukan itu?” Kalau memang Tuhan menghendaki kita harus mengalami semua pergumulan itu—entah pekerjaan, usaha, ekonomi dan lain-lain—kita percaya Tuhan dalam pemerintahan-Nya mengontrol, mengendalikan semuanya. Ketakutan, kekhawatiran kita itu sebenarnya sikap tidak meninggikan Tuhan; sikap melecehkan. 

Percayalah, Allah yang membelah Laut Kolsom, Allah yang menurunkan manna, Allah yang sama yang akan mengurai kekusutan hidup ini. Kiranya ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita. Tunggu saja waktu-Nya dan lihat bagaimana Tuhan mengurai kekusutan-kekusutan hidup kita. Kalau kita memercayai Allah itu berkuasa, biar Allah yang bertindak. Ingat ini! Ini akan menjadi kekuatan bagi kita sekalian. Tenang, tenang, tetap tenang. Waktu akan membuktikan. Kalau kita memang salah, Tuhan penggal kepala kita, artinya Tuhan menghukum kita. Dipenggal ketenangan hidup kita, ekonomi, karier dan lainnya. Tetapi semua itu merupakan cara Allah untuk membuat kita lebih baik, lebih merindukan Kerajaan Surga, dan hidup suci. Tapi kalau kita benar, Tuhan pasti melindungi kita. Maka, serahkanlah hidup kita di dalam tangan Tuhan yang kuat.

 Muliakan Allah dengan sikap hati kita dan percaya bahwa Dia menyertai kita, sebab apa pun yang terjadi, semua dalam kontrol Allah yang hidup.