Memercayai Pribadi-Nya

Seberapa hebat seseorang dapat menalar Allah kalau tidak dengan rendah hati mencari wajah Tuhan untuk mengalami-Nya? Ingat, ada Alkitab yang bisa memberikan pencerahan dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga seseorang bisa mengenal Allah dengan benar dan bisa mengimplementasikan kebenaran Alkitab dalam kehidupan riil. Jadi, kita yang tidak pernah duduk di bangku STT atau seminari, jangan merasa bahwa kita tidak akan pernah mengenal Allah dengan benar. Pengenalan akan Allah tidak dimonopoli oleh mereka yang duduk di STT atau seminari. 

Kita harus optimis bahwa kita bisa mengenal Allah. Allah itu hidup, nyata, Mahahadir. Jadi intinya, kita bisa serupa dengan Yesus dan sempurna seperti Bapa, sehingga layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Namun, kita harus menyediakan diri untuk mengenal Allah, karena ini satu-satunya tujuan hidup kita menjadi orang percaya. Menyediakan waktu untuk mengenal Allah, tentu melalui membaca Alkitab, doa, memperhatikan setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup, karena melalui hal itu Tuhan mau berbicara. Sekarang, kita mesti sudah serius menemukan Tuhan. Hidup sebersih-bersihnya, sesuci-sucinya, mencintai Tuhan sedalam-dalamnya. Kalau kita benar-benar rindu mengalami Allah, kita pasti menemukan Dia.

Setelah mempelajari definisi iman yang pertama—lewat pengalaman hidup—maka kita masuk dalam definisi iman yang kedua, mengenal Allah dan memercayai pribadi-Nya. Inilah yang menentukan relasi atau hubungan antara individu dengan Allah. Firman Tuhan mengatakan dalam Hosea 4:6, “umat-Ku binasa karena tidak mengenal Aku.” Bagi kita, Allah bisa kita kenali melalui Alkitab. Dalam Alkitab, kita menemukan jejak-jejak Tuhan dimana kita bisa mengenali sifat, hakikat, dan karakter-karakter-Nya. Tentu kita bisa mengerti isi Alkitab dengan pimpinan Roh Kudus dan jika kita tidak mencintai dunia (Luk. 16:11, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”). Kita harus dalam pimpinan Roh Kudus dan hidup dalam kesucian, maka baru pikiran kita dibukakan.

Pengalaman langsung dengan Allah—dari pengalaman tokoh-tokoh iman—itulah yang ditulis Alkitab, dan yang menjadi dasar dan acuan iman kita. Apa yang kita bisa teladani dari tokoh-tokoh iman, kekasih-kekasih Allah, sahabat-sahabat Allah itu? Pengalaman hidup mereka. Memang kasus-kasus yang kita hadapi tidak sama, tetapi intinya pelajaran rohani yang terkandung di dalam peristiwa-peristiwa itu bisa kita serap, kita alami. Bukan di logika semata, melainkan harus dialami. Orang yang hanya belajar teori mengenai Allah dari Alkitab, dari buku-buku atau pendidikan formal, mereka itu seperti orang yang belajar bengkel atau mesin, tetapi hanya belajar di ruangan kursus dan tidak pernah praktik.

Maka, kita harus memiliki usaha atau perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menghadirkan Allah yang ditulis Alkitab itu; meng-update Allah dalam hidup kita. Bagaimana Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub; Allahnya Musa, Allahnya Daniel, Allah kita yang hadir dalam hidup ini. Sekarang, kita harus membangun teologi yang berbasis pada penerapan konkret kehidupan. Jangan hanya berbasis pada buku-buku yang ditulis. Sayangnya, banyak teologi yang lebih pada olah nalar, dan tidak memiliki indikasi konkret dalam kehidupan ini, yaitu indikasi untuk mengarah pada penerapannya. Ini yang membuat teologi semakin jauh dari realitas hidup. Jikalau teologi yang dipahami orang makin jauh dari realitas hidup, maka makin jauh pula kehidupan orang itu dari serupa dengan Yesus dan sempurna seperti Bapa. Tidak heran, masyarakat Kristen seperti itu akhirnya makin seperti orang tidak beragama, dan gereja menjadi kosong.

Kita harus meminta kepada Tuhan untuk mengalami Tuhan. Allah yang hadir dalam kehidupan tokoh-tokoh iman adalah Allah yang sama yang hadir dalam hidup kita hari ini. Ia tidak berubah. Takhta pemerintahan-Nya tetap kekal selama-lamanya. Ia memerintah aktif dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Jika kita dapat menghayati hal ini dengan benar, hati kita akan bersukacita. Lalu, kita begitu berani menghadapi hidup. Begitu kuat dan kokoh menghadapi keadaan yang sulit bagaimanapun. 

Kita menghadapi keadaan seperti benang kusut yang tidak tahu bagaimana menguraikannya, tapi kita memandang Allah dan berkata, “Dia hebat, Dia kuat, Dia berkuasa.” Seberapa kita membutuhkan Tuhan? Biasanya sebesar masalah yang kita hadapi, bukan? Jika masalah kita besar, kita makin membutuhkan Tuhan. Kalau tidak punya masalah, bagaimana? Ini luar biasa. Pikirkan perkara besar untuk Allah. Maka, kepada anak-anak muda, jangan takut berpikir besar karena Allah kita besar, selama apa yang kita pikirkan sesuai dengan kehendak-Nya.

Memercayai Pribadi-Nya berarti memercayai bahwa Allah yang hadir dalam kehidupan tokoh-tokoh iman adalah Allah yang sama yang hadir dalam hidup kita hari ini.