Membungkam Suara Hati

Saudaraku,

Minggu lalu kita bicara mengenai menerima realitas Allah. Suatu hal yang tidak mudah karena Allah tidak kelihatan. Seringkali kita menghadapi masalah, Allah seakan-akan tidak ada. Bahkan dalam banyak kejadian seakan-akan Allah tidak hadir. Sesungguhnya bukan karena Allah tidak hadir, tetapi kita yang tidak menangkap kehadiran Tuhan karena kebodohan kita. Sering kita merasa diri cerdas, sering kita merasa diri kita berhikmat dan bijaksana, tetapi sebenarnya kita picik. Kita tidak bijaksana sama sekali. Allah yang berhikmat, Allah yang bijaksana, Allah yang cerdas! Allah yang merajut, merangkai peristiwa-peristiwa hidup yang kita jalani untuk kebaikan kita. Tetapi kita yang tidak mengerti kecerdasan Allah atau tidak memahami maksud-maksud Allah karena kita tidak cerdas, karena kita tidak bijaksana. Lalu apa yang kita harus lakukan dalam keadaan seperti itu? Mestinya kita berdiam diri, kita tidak memberikan komentar.

Memang secara mulut kita tidak memberikan komentar, tetapi di dalam hati kita memberi komentar. Tapi coba jujur, ada komentar yang bersuara di hati kita. Dan sering kita tidak menyadari bahwa komentar-komentar itu komentar manusia lama kita yang memberontak yang tidak menghormati Allah. Dan itu bisa kita biarkan mewakili kita di hadapan Tuhan, ini bahaya. Makanya kita yang harus membungkam setiap komentar yang ada di hati kita. Paling tidak komentarnya adalah: “Mengapa Tuhan, mengapa?” Mengapanya bukan mau bertanya maksud Tuhan, melainkan merupakan jeritan hati yang tidak bisa menerima keadaan tersebut. Mari kita belajar untuk tidak marah, tidak ngomel, tidak memberontak, tidak menolak. Jangan mulut berkata “tidak”, tetapi hati yang memberontak. Komentar di dalam hati, jiwa, pikiran kita, kita harus kendalikan, tidak boleh itu mewakili kita. Padahal semua itu diizinkan Tuhan atau dibiarkan Tuhan untuk kebaikan kita. Yang tentu akhirnya semua demi kemuliaan Allah.

Tidak ada yang bisa melarang kita memercayai Allah. Kalau kita tidak sanggup memercayai Allah, itu karena diri kita sendiri, bukan karena orang lain. Kita sendiri bisa memercayai Allah atau kita sendiri yang melarang diri kita untuk percaya kepada Allah yang hidup. Makanya kalau Saudara ada dalam keraguan, kebingungan, tidak atau kurang memercayai Allah, Saudara yang harus memerintahkan diri Saudara sendiri. Kita harus perintahkan diri kita sendiri, “aku percaya Tuhan, tidak ada yang bisa melarang saya percaya kepada Tuhan.” Ketika kita menghadapi masalah ancaman, bahaya, tekanan dari pihak-pihak tertentu, kita tidak berdaya atau kita memang bermaksud tidak bereaksi, kita berkata, “Tuhan, kuserahkan dalam tangan-Mu”, lalu memercayai Tuhan. Kita belajar dari apa yang saya baca di Alkitab, “Aku menyerahkan nyawa-Ku.”

Ketika Tuhan Yesus di atas kayu salib, Ia berseru, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” Artinya, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Itu adalah situasi krisis dan kritis. Tuhan Yesus bisa meragukan Allah Bapa, tetapi Dia menutup penderitaan-Nya dengan ucapan, “ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku.” Senada dengan perkataan Daud, “kalaupun aku harus jatuh, aku jatuh di tangan-Mu, terserah Tuhan mau bikin apa.” Kita memercayai Allah, apa pun akibat dari keadaan itu, apa pun yang akan terjadi nanti, terserah Tuhan.Harus berani berkata, “Aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi situasi ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti; tetapi aku percaya kepada-Mu Tuhan, aku percaya dan tidak ada yang bisa melarang saya percaya, termasuk diri saya sendiri.” Aku percaya, lalu terserah apa yang akan terjadi nanti.

Tetapi percaya seperti ini harus disertai dengan kesucian hidup. Tidak bisa Saudara percaya Tuhan, sementara Saudara hidup tidak di dalam kesucian, hidup di dalam dosa; masih hidup dalam kebencian, dalam dendam, dalam ketidakjujuran, dalam perzinaan, dalam pencabulan. Saudara harus meninggalkan semua dosa-dosa itu, Saudara harus meninggalkan semua dosa-dosa itu; harus, harus, harus!!! Mendengar kata suci, jangan takut. Memang kita harus suci! Karena Alkitab berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16-17). Kita harus menjadikan Tuhan kebahagiaan dan kesenangan kita. Tidak boleh ada yang lain yang kita harap bisa membahagiakan, menyenangkan. Hanya Tuhan yang bisa membahagiakan dan menyenangkan hati kita. Dan sering saya bicara kepada diri saya sendiri, bahwa Allah yang kusembah ini Elohim Yahweh, yang melepaskan Israel dari Mesir ke Kanaan, yang membelah Laut Kolsom, Allah Yang Besar! Jangan takut! Ayo, suarakan kepada dirimu sendiri, perintahkan saraf-saraf Saudara untuk percaya. Tidak ada yang bisa melarang kita percaya, bahkan diri kita sendiri tidak boleh melarang kita percaya.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Sering kita tidak mengerti kecerdasan atau tidak memahami maksud Allah. Dalam keadaan seperti itu kita harus membungkam setiap komentar yang ada di hati kita; komentar manusia lama kita yang memberontak dan tidak menghormati Allah.