Membuat Warna di Hadapan Takhta Bapa

Semua orang Kristen bisa mengatakan ‘haleluya,’ semuanya juga bisa menyanyikan lagu-lagu rohani. Tetapi tidak semuanya memiliki kualitas yang sama. Allah pasti bisa membedakan dan sekaligus merasakan serta menikmati yang bisa dinikmati. Semua bisa berkata ‘haleluya,’ menyembah Tuhan, tetapi tidak semua memiliki kualitas yang baik, tidak semua manis terdengar di hadapan Tuhan. Bahkan malaikat-malaikat juga bisa merasakan; apakah penyembahan seseorang itu berkualitas tinggi atau berkualitas baik di mata Allah; yang dirasakan oleh Allah Bapa dan dinikmati oleh Allah Bapa. Kalau seseorang menyembah Tuhan dengan hati yang benar-benar mengasihi Tuhan, hidupnya bersih, tidak memiliki keinginan apa pun kecuali mau menyenangkan hati Allah, ia akan membuat warna di hadapan takhta Allah. Dan sebaliknya, jika ada seseorang yang menaikkan penyembahan namun hatinya masih terikat dunia, maka penyembahannya berwarna gelap dan tidak akan masuk/tembus sampai takhta Allah.

Pertanyaan untuk kita semua adalah apakah kita mau menjadi orang yang menaikkan penyembahan, doa, yang bisa membuat warna di hadapan Bapa di surga? Kita menyembah Tuhan dengan hati yang mengasihi Dia disertai tekad, komitmen, ikrar, janji, nazar untuk hidup suci, untuk tidak menginginkan apa pun selain menyenangkan hati Allah, berlindung hanya kepada Tuhan, mohon belas kasihan Dia; dan itu bisa membuat warna di hadapan takhta Allah. Tetapi, kalau hanya ngomong saja (Ing. lip service), maka penyembahan kita tidak tembus. Karena yang nyanyi hidupnya hitam—karena banyak keinginan, mencari kepuasan dan kesenangan sendiri, gila hormat, suka orang lain terlukai—ini orang-orang jahat yang tidak akan bisa membawa persembahan yang bisa membuat warna di hadapan takhta Allah Bapa. Oleh sebab itu, karena ini pilihan, mari kita berusaha memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan setiap saat.

Tuhan menguji setiap hati kita. Seperti yang dikatakan di dalam Wahyu 2:23, “Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.” Mengerikan, ini! Jangan sampai Tuhan memukul anak-anak kita karena perbuatan kita yang melukai hati-Nya. Oleh karenanya, kita harus sungguh-sungguh memiliki hati yang bersih. Kalau kita pernah melewati tahun-tahun dimana kita tidak memiliki hati yang bersih, sekarang kita belajar memiliki hati yang benar-benar bersih. Hati yang bersih adalah hati tidak ada kebencian terhadap orang, tidak ada dosa, keinginan kita hanya menyenangkan hati Allah, maka pasti Tuhan memberikan perlindungan atau proteksi yang khusus kepada kita masing-masing. Di sini kita bisa berjalan dengan Tuhan. Menjadi kerinduan kita bukan hanya pada waktu kita berdoa kita merasakan hadirat Tuhan, ada kelekatan dengan Allah, tetapi di sepanjang menit, jam, hari-hari kita terus kita hidupi hadirat Allah, hidup di hadapan Tuhan; memberi warna. Ini perjuangan, karena ini adalah pilihan. Hanya kita yang bisa mengoreksi diri kita. Sebab, kesucian adalah sesuatu yang natural, bukan mistik. Dari setiap gerak pikiran, perasaan yang muncul; kalau itu tidak patut, harus kita buang. Jangan memikirkannya sampai ada landasan (Yun. Topon) di dalam pikiran kita. Ketika kita melihat orang punya barang tertentu, kita baru saja mau mengingini, kita lupakan jika itu bukan kehendak Allah dan kebutuhan kita. Kita ingat orang yang merugikan kita dalam bisnis, orang yang mengkhianati kita, memfitnah kita, orang yang menyakitkan kita, orang yang merugikan kita. Baru mau mengingatnya, segera kita buang. Kita mengampuni, semua kita anggap sudah selesai; kita tidak berhak menghakimi orang, biar Tuhan yang menjadi Hakim dan menyelesaikannya.

Kita jaga pikiran kita, kita jaga mulut kita. Tidak perlu bercanda yang berlebihan, jangan ucapkan kata-kata yang tidak perlu; jaga perbuatan-perbuatan, apalagi kalau itu menyangkut Tuhan; jangan main-main. Kita bisa jaga setiap saat. Kalau dulu kita tidak menjaga; kita berpikir sesuka hati, berbicara sesuka hati, dan berbuat sesuka hati; dalam pertimbangan kita yang kita rasa sudah bijaksana, sudah cerdas rohani, padahal kita melukai hati Tuhan. Mari kita starting from zero. Kita seperti dari nol, kita belajar seperti anak kecil. Kita mau belajar di hadapan Tuhan. Kita mau sungguh-sungguh belajar untuk berubah terus dari waktu ke waktu. Kita mau sungguh-sungguh hidup berkenan di hadapan Allah walaupun itu satu perjuangan yang benar-benar berat, tapi tidak ada yang mustahil. Sehingga pada saat kita menghadapi kematian, kematian kita menjadi kematian yang bermartabat.

Orang yang menyembah Tuhan dengan hati yang benar-benar mengasihi Tuhan, hidupnya bersih, tidak memiliki keinginan apa pun kecuali mau menyenangkan hati Allah, ia akan membuat warna di hadapan takhta Allah.