Membangun Cinta

Tidak dapat disangkali bahwa kita bisa membangun cinta kita kepada objek-objek tertentu. Dulu ketika peran orangtua begitu kuat dalam menjodohkan anak-anaknya, banyak anak yang dijodohkan begitu saja tanpa ada masa berpacaran, tanpa ada pertemuan seperti anak-anak muda hari ini. Dari tidak kenal, lalu dipaksa kenal, untuk kemudian membangun rumah tangga. Pada akhirnya, mereka bisa saling mencintai. Memang mungkin karena suasana zaman waktu itu. Dan jarang kita mendengar perceraian, sebab perceraian itu aib. Faktanya, rumah tangga-rumah tangga tersebut bisa utuh dan kokoh. Tidak jarang yang tadinya tidak cinta, lambat laun menjadi cinta; bahkan ketika pasangannya dimasukkan ke liang kubur, pasangannya mau ikut masuk juga karena begitu besar cintanya.

Jadi, sebenarnya cinta itu bisa dibangun. Demikian pula cinta kita kepada Tuhan, bisa kita bangun. Tuhan tidak memiliki martabat dan tidak bernilai kalau Ia menaruh cinta terhadap diri-Nya di hati seseorang, sedangkan orang tersebut belum tentu mencintai Tuhan. Itu pemaksaan, dan itu bukan hakikat Allah yang adil, bermartabat, dan agung. Kita saja sebagai manusia tidak ingin memaksa orang mencintai kita. Kalau seorang pria memaksa wanita mencintainya, maka itu cinta yang tidak natural; cinta yang tidak tulus. Jadi, cinta harus dengan natural, tulus, yang diberikan seseorang kepada objek lain. Tuhan tidak memaksa kita untuk mencintai Dia dan Ia tidak menaruh secara mistis rasa cinta dalam diri kita untuk diri-Nya. Cinta itu harus kita bangun sendiri. Tadinya kita mencintai dunia, mencintai berbagai hobi, kesenangan, kehormatan, nafsu-nafsu kita. Sekarang, kita memilih untuk mengarahkan cinta kita kepada Tuhan; itu bisa, bukan tidak bisa.

Hal itu harus kita paksakan, bila perlu. Sekalipun karakter kita lebih buruk dari sebagian besar orang dalam banyak aspek, namun satu hal yang harus kita mengerti bahwa mengasihi Tuhan itu segalanya. Maka, kita harus berusaha mengasihi-Nya. Bahkan, kalau perlu kita memaksakan diri kita untuk mengasihi Tuhan. Betapa indah dan mulia, betapa agung dan berharganya kalau kita bisa mencintai Allah dengan tulus, natural, ikhlas. Kualitas cinta yang seperti ini pasti Allah merasakannya. Kepada orang berdosa, Allah mencintainya. Apalagi kepada orang yang mau mencintai Dia. Pasti akan terjadi hubungan yang indah sekali. Kesempatan tersebut hanya pada waktu kita hidup di bumi, bukan nanti pada waktu setelah meninggal. Oleh karenanya, sejak kita di bumi ini, kita bisa membangun cinta kita kepada Allah.

Masalahnya, Allah tidak kelihatan, Dia tidak tampak, dan seakan-akan Dia tidak ada. Sering, seakan-akan benar-benar Tuhan tidak ada. Kita sering diuji lewat berbagai masalah. Jika kita mengingat Abraham, ia harus menunggu anaknya selama seperempat abad. Dua puluh lima tahun, bukan sebuah waktu yang singkat. Seakan-akan Tuhan tidak setia, dan negeri yang dijanjikan di mana Tuhan memerintahkan Abraham keluar dari Ur-Kasdim pun, tidak kunjung ditemui. Tetapi imannya tidak menjadi gugur. Lalu, bagaimana kita bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan ketika situasinya tidak mendukung? Kita harus percaya bahwa Alkitab itu benar. Alkitab telah mengisahkan, mengungkapkan, menjelaskan, menguraikan mengenai keberadaan Elohim Yahweh, Allah yang hidup, Allah yang Esa, dan kita percaya bahwa apa yang ditulis Alkitab itu benar. Berangkat dari keyakinan ini, kita dapat mencintai Allah meskipun Dia seolah-olah tidak ada.

Ada Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang memanggil Abraham, dan yang memilih Israel sebagai umat pilihan secara darah daging, yang menuntun mereka keluar dari Mesir ke Kanaan; Allah yang memberi sepuluh tulah, yang merobohkan tembok Yerikho, yang mengeringkan Laut Kolsom dan Sungai Yordan, yang turun dengan kemuliaan-Nya di Sinai sehingga orang menggeletar, yang memberikan dua loh batu, Allah yang mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Dia Allah yang nyata, yang hidup, dan kita bisa berkata, “aku percaya kepada-Mu dan aku mengasihi-Mu.” Ini yang harus kita lakukan selama atau selagi kita masih memiliki ksempatan hidup. Kalau sampai kita tidak punya kesempatan lagi, betapa celakanya!

Oleh sebab itu, selagi kita masih mempunyai kesempatan hidup, mari kita membangun cinta kita kepada Tuhan. Kalau sampai kita bisa membangun cinta dengan Tuhan, hal ini sangat luar biasa. Kita sampai tidak bisa mengungkapkan semua, tetapi kita sering merasa tergetar pada waktu kita menghadap Tuhan pada waktu kita berdoa. Seraya kita persembahkan cinta kita kepada Tuhan, “aku mencintai Engkau, Tuhan.” Kita tergetar, karena kita menyadari siapa kita ini. Kita ini bukan saja miskin, kita juga bodoh, picik, bermental buruk, bermoral rusak, orang berdosa, najis, kotor, tidak ada keelokannya. Seperti burung yang jatuh ke kubangan, tidak bisa terbang, kotor, dan busuk, tetapi Allah mengambilnya, membersihkannya, lalu membawanya terbang lagi. Luar biasa, bukan? Jadi, marilah kita mengasihi Tuhan dengan membangkitkan gairah yang benar terhadap-Nya.

Sejak kita di bumi ini, kita bisa membangun cinta kita kepada Allah.