Membalas Kebaikan Tuhan

Dalam fakta hidup ini terdapat anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua, mestinya setelah dewasa anak-anak itu membalas kebaikan orangtua, tetapi kenyataannya ada di antara mereka yang hanya menuntut dan merasa berhak untuk mendapat fasilitas daripada mengabdi kepada orangtua. Hal ini benar-benar menyedihkan. Bahkan tidak sedikit anak yang masih menyusahkan orangtua di hari tua orangtua mereka. Hal ini dikemukakan bukan berarti orangtua menolak dibebani oleh anak-anak, tetapi orangtua menginginkan agar anak-anaknya bisa memikul beban sendiri, dan bisa memikul beban saudara yang lain, yaitu memikul beban anak-anaknya sendiri, atau bahkan kalau sudah punya cucu bisa memikul beban anak-cucu dan sesamanya. 

Dalam kehidupan sebagai keluarga Kerajaan Allah, juga terdapat orang-orang Kristen yang mengikut Yesus sekian lama, tetapi hanya mau menuntut diberkati secara materi, dan tidak berpikir untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai bentuk membalas kasih Tuhan. Mereka tidak mempersembahkan hidup untuk melakukan apa yang Tuhan ingini. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan banyak orang Kristen, termasuk pada kehidupan sebagaian besar jemaat, aktivis gereja, bahkan pendeta. Dari pengalaman hidup yang sudah kita jalani, kita melihat fenomena riil ini. Fakta ini sangat objektif, tidak mengada-ada, yaitu memang banyak orang Kristen yang tidak tahu diri, aktivis gereja, bahkan pelayan Tuhan, yang sudah berjabatan pendeta tidak memahami hal ini dengan benar. Semua itu disebabkan oleh satu hal yang menjadi bahaya besar, yaitu merasa berhak hidup wajar.

Hal ini dikemukakan bukan bermaksud membuat standar baru dalam hidup kekristenan. Standar hidup kekristenan tetap sama, sejak dulu, yaitu serupa dengan Yesus. Yesus adalah sosok manusia yang tidak hidup dalam kewajaran manusia lain. Yesus tidak serupa dengan dunia ini, maka Tuhan menghendaki agar orang percaya juga tidak serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Hidup haruslah hanya untuk mengabdi kepada Bapa (Yoh. 4:34; 2Kor. 5:14-15; Flp.1:21). Di hadapan pengadilan Kristus nanti, orang percaya baru sadar sepenuhnya bahwa hidup manusia yang telah ditebus oleh darah Yesus hanyalah untuk mengabdi kepada Allah sepenuhnya, tanpa batas. Penyesalan yang dalam akan dialami oleh orang yang tidak mengerti kebaikan Allah, yaitu mereka yang hanya menuntut tetapi tidak mau membalas kebaikan Allah, ketika mereka terbuang. Sebab mereka tidak bisa mengabdi kepada Allah. Orang yang tidak mengabdi kepada Allah sejak di bumi ini tidak akan pernah bisa mengabdi kepada Allah selamanya di surga nanti.

Banyak pekerjaan Tuhan yang terbengkelai, dan ini adalah keadaan parah yang menyedihkan hati Tuhan. Kita harus memiliki beban untuk mengerjakan pekerjaan Allah yang terbengkelai tersebut. Kita mengerjakan pekerjaan Allah di tempat kita dan dalam bidang kita masing-masing dengan ketulusan dan motivasi yang murni yang hanya ditujukan bagi kepentingan Kerajaan Allah atau kemuliaan nama-Nya. Kita tidak boleh memiliki agenda pribadi di dalam kegiatan pelayanan. Hati kita harus sepenuhnya utuh dipersembahkan bagi Tuhan.Tuhan menolong kita bagaimana mengabdi kepada-Nya dengan motivasi yang murni  seperti yang ada pada diri Yesus Kristus. Dengan demikian kita benar-benar bisa menjadi utusan Kristus, artinya sungguh-sungguh meneruskan karya keselamatan yang telah diselesaikan Yesus di bukit Golgota.

Pada masa sekarang ini, yaita masa yang penting dan genting, kita tidak bisa lagi berjalan dengan orang-orang yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan hanya untuk kepentingannya pribadi secara terselubung. Mereka adalah pelayan-pelayan palsu atau saudara-saudara palsu yang tidak perlu ada di sekitar kita. Sebab walaupun mereka memiliki potensi, mereka sangat mengganggu pekerjaan Allah yang dipercayakan kepada kita. Walaupun kita tidak memiliki apa-apa, asalkan kita benar-benar mengasihi Tuhan dan memiliki beban terhadap jiwa-jiwa yang terhilang untuk diselamatkan—artinya dikembalikan rancangan Allah semula—maka Allah pasti melengkapi kita dengan semua fasilitas yang kita butuhkan.

Dunia yang sudah rusak ini ternyata telah memproduksi pelayan-pelayan palsu atau pendeta palsu di tengah-tengah jemaat, dan di tengah-tengah kegiatan pelayanan gereja. Kalau motivasi pelayanan kita sendiri tidak murni, maka kita masih bisa berjalan berdampingan dengan mereka. Tetapi kalau motivasi pelayanan kita murni, maka kita bisa melihat ketidakmurnian motivasi pelayanan mereka. Hal tersebut mendukakan hati kita, dan tentu juga mendukakan hati Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang melakukan kegiatan rohani, tetapi tidak mengubah orang sesuai dengan maksud tujuan keselamatan itu diadakan. Mereka melayani Tuhan bukan karena hendak membalas kebaikan Tuhan, melainkan supaya memiliki atau memperoleh keuntungan secara materi atau duniawi dalam kegiatan pelayanan tersebut. Inilah pelayan-pelayan upahan yang tidak akan dapat menjadi berkat secara benar bagi jemaat yang dilayani.